
Kring ....kring.. Kevin menelpon kakaknya.
"Ada apa Vin ,tanya Vano."
" Mau minta tolong bang, jawab Kevin."
" Minta tolong apa,tanya Vano lagi."
" Besok bang Vano bantuin Arda di kantor ya,tadi Tesya bilang kalau Rasti buat keributan di sana bahkan gara gara Tesya bawa mobilku dia sampai di hadang sama Rasti,jelas Kevin."
"Rasti emang ga ada kapoknya ya. Oke besok abang ke kantormu.Kasihan kalau Arda harus mengahadapi Rasti sendirian,masih ada lagi,tanya Vano?"
"Surat suratnya sudah selesai belum bang?Terus besok pagi mang udin suruh nukar mobil di rumah Tesya.Kalau bisa sebelum subuh,takutnya nanti Rasti
memata matai."
"Suratnya semua sudah lengkap tinggal di bawa kesana. Kalau soal mobil biar abang yang tukar kasihan kalau pagi pagi mang udin harus kesana."
" Sebelumnya terima kasih ya bang udah bantuin ,kata Kevin mengakhiri panggilannya."
Kevin ingin acaranya kali ini berjalan dengan lancar tanpa ada halangan sedikitpun. Rasti orang yang pernah menyakitinya beberapa tahun lalu kini hadir lagi di kehidupannya.
Dia takut kalau orang di masa lalunya itu menghancurkan mimpinya kali ini.
Rumah Tesya
" Kak di suruh makan sama mama,panggil Tya."
" Iya bentar baru selesai mandi,teriak Tesya."
Tesya keluar dari kamar menuju meja makan. Tak ada satu parah kata kelua dari bibir mereka .Setelah semuanya selesai baru papanya memulai pembicaraan.
" Sya besok papa sama mama mau ke rumah eyang buat persiapan pernikahanmu."
" Tapi Tesya takut di rumah berdua sama Tya, tadi sore pas pulang kantor saja Tesya di hadang sama mantannya mas Kevin gara gara mobilnya aku pakai."
" Kalau kalian sementara tinggal di apartemen papa gimana,dari sekolah Tya dekat dari kantor kamu juga dekat."
" Ga papa pa asal aman,jawab Tesya."
"Bawa beberapa pakaian saja,lusa kalian nyusul ke Solo,jelas pak Bayu."
Pagi harinya Tesya dan mamanya sedang menyiapkan makanan buat sarapan tiba tiba bel berbunyi. Tesya dengan cepat berlari membukakan pintu.
" Siapa sih jam segini yang bertamu,gumamnya."
Saat membuka pintu tampak seorang laki laki gagah berdiri disana.
" Bang Vano kok pagi pagi kesini ada apa,tanya Tesya."
" Mau ngantar mobil,kemarin Kevin yang suruh,kata Vano."
" Masuk dulu bang,ajak Tesya."
Vano dan Tesya masuk beriringan, sampai di ruang tamu di sambut sama mamanya.
" Nak Vano ada apa kok pagi pagi sudah sampai sini, tanya mama Tesya."
" Mau ada perlu sama Tesya dan om Bayu,jawab Vano."
" Tante panggilkan dulu,kata mama Tesya."
" Sya ini kunci mobil komplit sama surat suratnya kunci mobil yang sama kamu tolong kasih ke aku,kata Vano."
" Sebentar bang aku ambil dulu di kamar,kata Tesya lalu beranjak dari tempat duduknya."
Saat Tesya pergi datang pak Bayu dengan senyum khasnya.
" Ada apa nak,tanya om Bayu."
" Begini om, kemarin Kevin minta saya buat menukar mobil yang di pakai Tesya dengan yang lain. Soalnya kemarin Tesya sempat di hadang sama Rasti. Dan ini berkas berkas Kevin om semuanya udah lengkap,jelas Vano."
" Kebetulan di antar kesini tadi sebernarnya mau sekalian di ambil pas mau berangkat,kata pak Bayu."
Mereka masih asik ngobrol datanglah Tesya dan mamanya bersamaan. Lalu Tesya memberikan kunci dan surat surat mobil kepada Vano.
" Nak Vano pasti tadi kesini belum sarapan, ayo sarapan bareng,ajak mama Tesya."
" Terima kasih tante ga usah repot repot,kata Vano basa basi."
" Ayo tidak usah sungkan sungkan,anggap rumah sendiri,bujuk pak Bayu."
Mereka menikmati makanan yang terhidang di meja. Tesya membayangkan kalau nanti sudah menikah dan punya anak pasti suasananya juga seperti ini.
" Ngapain bayangin punya anak segala,kata hati Tesya yang membuyarkan lamunannya."
Ting tong ting tong suara bel rumah terdengar nyaring berkali kali. Tesya yang sebal mendengarnya langsung berajak dan berjalan menuju ke depan. Betapa kagetnya dia saat melihat tamunya hatinya berdegup kencang bahkan ia sampai membuka matanya lebar lebar buat memastikan.