I LOVE YOU BOSS

I LOVE YOU BOSS
175 # BAB 175



"Ayo Mas Rama udah tua nggak boleh ngambekan masa mau dikit-dikit ngambek. Ya udah maunya ditraktir makan sama mau beli apa tinggal bilang. Kan ada Mas Kevin yang siap bayarin," kata Tesya.


"Nah kan ujung-ujungnya aku juga yang kena padahal kan ngambeknya gara-gara kamu ya."


" Ya habis mau minta sama siapa,kan yang suami aku kamu bukan yang lain masa aku mau minta sama orang lain kan nggak lucu."


" Ya udah nanti kalau keluar dari sini kita langsung makan makan terus jalan jalan ke mall. Lama ga jalan jalan juga kepengen belanja juga."


" Mas Rama sudah kepikiran belum mau buka usaha apa?" tanya Kevin.


" Belum Vin masih binggung, kalau Tesya jadi buka cabang bolehlah aku yang kelola."


" Rencana sih mau buka di dekat kampusnya Dita, tapi belum dapat tempatnya saja. Apalagi kita juga habis kena musibah, apa mas Rama kalau sempat cari cari tempat di daerah situ kalau emang udah ada tempat yang cocok langsung kabari aku atau mas Kevin," ujar Tesya.


" Pikir nantilah Sya yang penting kalian sehat dulu," kata Rama.


" Kok jawabnya gitu mas, hayo kamu kenapa? Biasanya kalau aku bahas soal usaha kamu paling semangat mas."


" Ya adalah pokoknya," jawab Rama lagi.


" Mas Rama jangan main rahasia rahasiaan sama kita, jawab jujur kalau ga aku bakal marah sama kamu mas," kata Tesya.


" Kemarin pas aku bantuin Vano di kantor kamu ada omongan yang bikin aku down," jawab Rama.


" Siapa yang bilang?"tanya Kevin mencari tahu.


" Bawahan kamu itu Vin."


" Maksud mas Rama si Arda?"


" Bukan Vin."


" Lha terus siapa?"


" Aku ga tahu siapa Vin,ruangannya ada di samping kiri tempat meeting."


" Emang dia ngajatain mas Rama apa? Ayolah mas jangan langsung down ginilah. Ingat mas Rama harus semangat cari uang buat menghalalkan Dita," kata Tesya memberikan semangat.


" Ya masa aku di katain cuma manfaatin moment kalian kecelakaan terus mana bisa aku kerja masih banyak lagi pokoknya."


" Kalau emang kaya gitu mulai besok mas Rama ikut aku ke kantor tunjukan sama orang yang ngatain kalau mas itu bisa dan mampu. Masa seorang mas Rama lulusan terbaik di kampus langsung K.O di katain kaya gitu. Padahal lebih pedas ucapan dosen pembibing loh mas,yuk semangat yuk," Kevin memberikan semangat.


" Tapi Vin."


" Ga ada tapi tapian aku ga mau kalau mas Rama kehilangan semangat."


Ketika mereka asik ngobrol datanglah suster yang memberi tahu kalau hari ini Tesya sama Kevin sudah boleh pulang.


" Selamat sore bapak sama ibu, saya dari bagian administrasi mau memberikan informasi kalau bapak sama ibu sudah boleh pulang dan di mohon untuk ke bagian administrasi terlebih dahulu," ucap susternya.


" Alhamdulillah kalau sudah boleh pulang," kata Kevin sama Tesya bersamaan.


Rama pergi ke bagian administrasi untuk mengurus semuanya sementara Kevin dan Tesya beberes. Semua beres ketiganya pulang dan menyempatkan berjalan jalan sebentar karena sudah sebulan mereka hanya terbaring di atas kasur.


Tibalah mereka di rumah yang mengejutkan semua orang yang ada di sana karena sama sekali tak ada yang tahu kalau mereka pulang.


" Ya allah mbak Tesya mas Kevin," panggil bi Mun lalu memeluk tubuh majikan perempuannya.


" Pak pak, Dita cepat ke depan ini mbak Tesya sama mas Kevin sudah pulang," teriaknya lagi.


Dan terjadilah huru hara di kediaman mereka, beberapa karyawan toko Tesya yang mengetahui kalau bosnya sudah pulang juga langsung berlarian menuju ke rumah.


" Ya Allah mbak Tesya,kenapa ga kasih kabar sama aku kalau sudah sadar dan boleh pulang," kata Dita.


" Kami alhamdulillah baik semua mbak, masyaallah ini bemar benar kejutan buat kita semua," jawab bi Mun.


Tesya keliling rumah mengobati rindunya, ia tak mempedulikan orang orang yang ada disana.


"Mbak Tesya sama mas Kevin mau langsung istirahat atau mau makan dulu biar bibi siapkan?" tanya bi Mun.


" Iya bi, aku kangen sama masakan bibi. Aku sama mas Kevin ke belakang dulu ya bi kangen duduk di gazebo," ujar Tesya.


" Baik mbak."


Tesya dan Kevin duduk santai di gazebo belakang, Tesya menyandarkan kepalanya di dada suami.


" Makasih ya sayang kamu bisa bertahan sampai sejauh ini," kata Kevin sambil mencium pucuk kepala istrinya.


" Sama sama mas, ini juga berkat doa semua orang yang sayang sama kita mas. Akhirnya kita bisa sama sama kembali ke rumah ini tanpa kurang satu apapun."


" Sepertinya kita harus buat acara selamatan Sya, buat rasa syukur kita."


" Tapi nunggu mama sama papa balik dari Jogja dulu mas, ga harus sekarang jugakan aku masih capek soalnya."


" Kita bahas nanti kalau kondisi kita sudah benar benar pulih."


" Lagian kalau kita adakan acara selamatan ga mungkin cuma beberapa orang saja yang di undang pasti banyak kolega kolega kamu dan karyawan aku juga mas."


" Nah itu yang aku maksud."


" Emang besok mas bakal langsung kekantor?" tanya Tesya.


" Ya galah sayang, masa hari ini kita baru keluar besok udah mau kerja. Lagian udah ada Arda juga yang urus, paling mas masih libur seminggu lagi."


" Lama amat mas?"


" Ya gapapalah."


" Kasihan pak Arda dia belum jadi jalan jalan sama Intan loh mas setelah nikah kemarin."


" Ya habis mau gimana lagi, kalau aku paksa buat kerja bakal kena omel semuanya ya mending libur dulu. Katanya kamu mau ajak ke resto dulu sambil santai."


" Mbak, mas itu masakannya sudah siap," kata pak Udin.


" Terima kasih pak, ayo pak Udin makan sekalian sama kita," ajak Kevin.


" Ndak usah mas, nanti pak Udin makan di belakang saja," jawabnya.


" Ayo pak Udin," ajak Kevin sambil merangkulnya.


" Mas Rama, Dita, Wawan sama bi Mun ayo makan sekalian bareng bareng," ajak Tesya.


" Kita makan di belakang saja mbak," jawab bi Mun.


" Ga boleh, kita makan semua disini hitung hitung acara selamatan aku sama Tesya udah balik lagi ke rumah," kata Kevin.


" Ayo pak Udin di pimpin doanya supaya kita semua di berikan keselamatan dan kesehatan," kata Tesya.


" Baik mbak," jawabnya.


Semua isi rumah makan bersama di atas meja yang sama. Dari dulu Kevin dan Tesya tak pernah membedakan kasta antara majikan dan pembantunya. Mereka berdua lebih bahagia kalau tidak ada perbedaan diantara keduanya.


Raut bahagia bergitu terpancar dari semua orang yang ada di ruang makan itu.