
Seminggu sudah Tesya dan Kevin masih terbaring di atas ranjang, keduanya masih belum sadar.
" Gimana Van, kamu sudah dapat kabar belum soal siapa yang melakukan ini sama adik kamu?"
" Belum pa, mereka masih menyelidiki. Terakhir aku dapat info mobil yang di gunakan itu mobil sewaan pa terus data yang ada di rental itu palsu."
" Siapa yang sudah tega membuat adik adikmu seperti itu, apa di kantor Kevin punya musuh?"
" Kayanya ya pa mereka itu salah sasaran, soalnya Kevin sama Tesya itu jalan pakai mobil yang sama persis kaya punyaku kado dari papa sama mama."
" Berati yang mereka mau buat celaka itu kamu."
" Sepertinya begitu sih pa, kata Wawan kemarin mereka di ikuti dari keluar rumah. Terus di ikuti lagi pas mau berangkat dari rumah om Bayu."
" Kita cek CCTV rumah Kevin dulu," ajak papanya.
Papa dan anak sama sama kompak mencari siapa dalang di balik kecelakaan Tesya dan Kevin.
RUMAH SAKIT.
" Gimana pa, apa kata dokter soal anak anak kita?" tanya mama Tesya.
" Tadi kata dokter semuanya baik tinggal menunggu mereka sadar saja. Tapi kemungkinan kecil Kevin lupa sedikit memorinya."
" Ya allah pa, gimana kalau Kevin sampai lupa sama Tesya dan Kay."
" Kita berdoa mohon sama allah agar semua baik baik saja. Papa juga takut ma, kalau Kevin sampai lupa sama mereka berdua."
" Papa sudah dapat kabar dari Vano?"
" Belum ma, tadi Vano bilang nanti sore bakal kesini."
" Nanti sore kita gantian yang jaga Kay ya pa. Mama kasihan sama dia sudah seminggu ga ketemu sama mama papanya."
" Besok kita bawa kesini siapa tahu mendengar suara Kay bisa membuat mereka cepat sadar," ujar pak Bayu.
" Ide bagus sih pa, tapi Kay masih kecil apa boleh di bawa kesini."
" Papa bakal ijin sama dokternya, papa juga ga tega melihat Kay rindu sama mereka."
Sorenya Vano dan keluarga datang gantian dengan pak Bayu dan istrinya.
" Mas aku nitip anak anak ya, kasih kabar kalau ada perkembangan dari mereka."
" Kamu hati hati Bay, jaga kesehatan jaga keselamatan. Tadi ada kabar apa dari dokter soal anak anak?"
" Semuanya sudah membaik tinggal menunggu untuk sadar, tapi kemungkinan Kevin bakal kehilangan sedikit memorinya karena kepalanya terbentur terlalu keras."
" Duh Gusti," teriak mama Kevin.
" Kita harus sabar mbak, sama sama berdoa demi kebaikan anak anak kita."
" Van om sama tante pulang dulu,nitip mereka," pamit pak Bayu.
" Hati hati ya om tante, kasih kabar kalau sudah sampai rumah."
Sepeninggal papa mamanya Tesya, Vano duduk sambil mengamati kedua adiknya. Matanya sembab ga bisa di pungkiri walaupun mereka sering berantem tapi mereka saling sayang.
" Sudah mas jangan menangis, kamu jangan terlihat rapuh seperti ini. Mereka berdua butuh kamu mas," kata Sita menguatkan suaminya.
" Entah kenapa aku selalu lemah kalau melihat orang yang aku sayangi menderita."
Handphone Vano berdering, membuat ia berhenti menangisi saudaranya.
" Iya mas."
" Halo ada kabar apa?"
" Begini bos, saya sudah mengantongi nama peminjam mobil di rental tersebut dan saat ini kami sedang menuju ke rumahnya. Sebelum kami jalan salah satu dari kami sudah ada di TKP," jelas orang suruhan Vano.
" Kamu kirim lokasinya ke saya, habis ini saya jalan kesana. Kalian jangan bertindak gegabah, terus kasih tahu saya kalau ada info terbaru."
" Baik bos."
" Ada apa Van?" tanya papanya.
" Pa kita harus ke tempat orang yang sudah berani mencelakai Kevin dan Tesya. Anak anak sudah mengantongi nama orang yang menabrak mereka, nanti kita bisa paksa buat ngaku siapa dalang di balik semua ini."
" Pamit sama mama dan Sita dulu kita langsung berangkat. Kamu kabari anak buah kamu yang lain biar kita juga aman," jelas papanya.
" Baik pa, kita mau sopir sendiri atau mau bawa supir."
" Bawa supir saja," ajaknya.
Dua jam menempuh perjalanan untuk sampai ke tempat anak buah Vano.
" Ada perkemabangan apa?" tanya Vano.
" Orangnya masih di dalam bos dari tadi belum keluar, kalau keluar paling hanya di teras."
" Kita tunggu dia keluar agak jauh baru kita sergap, kalau kita bertindak disini takutnya menimbulkan keributan," kata Vano.
Satu jam sudah Vano dan semuanya menunggu orang tersebut keluar rumah, dan penantiaanya membuahkan hasil orang yang mereka maksud keluar menggunakan motor maticnya.
" Kita bergerak tapi tetap jaga jarak jangan sampai ketahuan," ujar Vano.
Aksi kejar kejaranpun berlangsung, tak butuh waktu lama anak buah Vano berhasil menangkap orang itu.
" Kita bawa ke markas."
" Baik bos."
" Hebat," kata Vano sambil bertepuk tangan.
" Kenapa kaget melihat saya masih hidup," sambungnya lagi.
" Ikat dia," kata papa Vano.
" Kamu jawab jujur atau semua keluargamu besok tinggal nama," gertak Vano.
" Siapa yang menyuruh kamu berbuat seperti ini jawab," bentak papa Vano.
Orang itu hanya diam dan menunduk.
" Cepat jawab."
" Oke kalau kamu tidak mau jawab besok kamu akan mendengar kalau keluargamu tinggal nama."
" Sekali lagi saya tanya sama kamu siapa yang menyuruh kamu?"
" Yang menyuruh saya pak Martin, tapi ternyata salah orang."
" Sekarang kamu telpon Martin ajak dia ketemu," ujar Vano.
Orang itu hanya mengangguk tak berani menatap wajah Vano dan papanya.