I LOVE YOU BOSS

I LOVE YOU BOSS
137 # BAB 137



 


Keduanya melanjutkan tidurnya tanpa berbicara sepatah katapun.


" Sayang ada yang ingin aku sampaikan, tapi mas berharap kau ga akan marah karena ini mendadak, kata Kevin ketika bersiap untuk berangkat kerja."


" Memang ada apa sih mas kok sepertinya penting, tanya Tesya penasaran."


 


" Semalam papa kasih kabar kalau anak cabang perusahaan papa di Jogja sedang ada masalah. Papa minta aku untuk membantu mengawasi di lapangan. Sebenarnya papa minta bang Vano yang kesana karena kak Sita baru hamil ya jadinya aku yang di suruh papa."


 


" Berapa lama mas disana, aku sama Kay ikut ya. Mas berangkat sama siapa saja dari sini?"


" Cuma seminggu kok disana, besok saja kalau pekerjaan di sana sudah seleasai kamu sama Kay nyusul kesana. Aku berangkat sama papa kok. Jangan cemberut sayang, senyum dong."


" Tapi mas, kata Tesya."


" Ada apa sayang, mas janji ga bakal macem macem kok.Mas kan disana kerja bantu papa sayang, ujar Kevin."


Tapi entah mengapa hati Tesya terasa berat untuk mengijinkan suaminya pergi. Ada rasa yang tak bisa di gambarkan oleh kata diam diam memenuhi hati dan pikiran Tesya.


Tesya hanya diam, sampai Kevin berangkat ke kantor untuk mengambil beberapa berkaspun ia masih diam.


" Mas berangkat ke kantor sebentar sayang mau ambil beberapa berkas yang di minta papa. Habis itu langsung pulang buat packing, kamu mau di belikan apa?"


Tesya hanya menggelengkan kepalanya, pagi ini tiba tiba moodnya langsung berubah.


 


Kevin sadar terhadap perubahan mood istrinya. Ini pertama kalinya setelah Kayla lahir ia di tinggal keluar kota untuk beberapa hari. Mungkin dia tidak siap kalau harus berjauhan sama suaminya.


Dalam perjalanannya ke kantor Kevin terus memikirkan Tesya, keputusan terberat antara mau mengajak mereka atau meninggalkan mereka di rumah.


" Aku ajak saja lah dari pada marah marah terus. Aduh kenapa jadi pusing gini sih."


 


Sementar Tesya di rumah sambil menemani Kayla main ia menyiapkan pakaian yang akan di bawa sama suaminya. Walaupun semenjak suaminya bilang hendak pergi ke luar kota perasaannya tak enak.


Matanya berkaca kaca ketika ia menutup kopor. Ia lantas turun mencari bi Mun.


 


" Bi nitip Kayla sebentar ya, ujar Tesya."


" Baik mbak."


Tesya lantas naik lagi ke kamarnya, ia menumpahkan semua air matanya yang sempat tertahan. Sampai ia ta sadar kalau suaminya sudah berdiri di belakangnya.


" Kamu kenapa sayang kok nanggis, tanya Kevin?"


Tesya hanya diam malah semakin deras air matanya yang tumpah. Bahkan ia sama sekali tak berpaling, untuk menghadap ke wajah suaminya.


 


Tesya masih diam dan air matanya semakin deras, ia sendiri binggung kenapa tiba tiba perasaannya sensitive seperti ini.


" Sayang kalau kamu diam saja mas ga tahu harus berbuat bagaimana, kata Kevin lalu beranjak memeluk istrinya dari belakang,berharap istrinya akan bercerita."


 


"Mas yakin mau pergi, tanya Tesya sambil menyeka air matanya."


" Yakin sayang, kan mas perginya karena kerja bukan jalan jalan. Memang ada apa kok kamu tanyanya seperti itu?"


" Perasaanku ga enak mas, mas ga usah pergi ya, bujuk Tesya."


" Tapi kalau mas ga kesana kasihan papa di sana sendirian. Jangan mikir macam macam sayang ga akan terjadi apa apa kok, mas janji sama kamu. Kevin semakin mendekap tubuh istrinya."


" Mas, aku ga mau jauh jauh sama kamu, bisik Tesya lirih."


" Kamu kenapa sih sayang, kan biasanya mas juga metting ke luar kota kok tumben kali ini di larang larang."


" Ga tahu mas, perasaanku mengatakan kamu ga boleh pergi."


" Kalau kamu mau ayo ikut saja, sekalian nanti liburan."


" Ga ah mas nanti ganggu urusan pekerjaanmu lagi. Aku sama Kayla di rumah saja, mas hati hati ya di sana jangan macam macam ingat di rumah ada anak istri yang nungguin."


" Iya sayang, jawab Kevin lalu mencium mesra istrinya."


Dan terjadilah pertempuran di antara keduanya. Tepat pukul 1 siang Kevin di jemput oleh papanya. Keduanya langsung berngkat ke bandara.


" Hati hati di rumah ya sayang , jaga Kayla baik baik. Kalau ada apa apa langsung kasih kabar, mas berangkat dulu."


" Iya mas, mas juga hati hati ya, ujar Tesya."