
Mereka kembali ke rumah masing masing setelah makan malam.Malam ini Vano sudah tidak menginap lagi di rumah Kevin, membuat sang empunya rumah bebas melakukan apa saja tanpa harus memikirkan perasaan orang lain.
Tesya sudah bersiap untuk tidur, sementara Kevin yang baru selesai mandi langsung merebahkan tubuhnya.
" Sayang ,mas mau tanya sesuatu boleh?"
" Boleh tanya saja, emang ada apa sih mas? Kok mau tanya saja sampai minta ijin dulu."
" Kamu iri ga sama kak Sita?"
" Iri kenapa sih mas, ada ada saja."
" Kan pernikahan bang Vano sama kak Sita bakal meriah, sementara kita kemarin kan cuma akad aja."
" Mas, menurut aku itu pernikahan bukan tentang kemeriah pesta seberapa banyak tamu yang datang,tapi tentang bagaimana kita menjaga yang sudah ada. Kehidupan setelah menikah itu awal babak baru dalam hidup kita. Bagaimana menurunkan ego masing masing bagaimana caranya saling percaya dan menjaga perasaan satu sama lain. "
" Makasih ya sayang, kata Kevin lalu memeluk istrinya."
" Walaupun awalnya kita menikah hanya mas saja yang suka, tapi sekarang aku bahagia punya suami kaya kamu yang baik, pengertian apa lagi sudah ada dede di perut itu sudah membuat aku bahagia."
" Mas ga salah udah milih kamu sayang, udah tidur yuk, besok mas mau ke kantor."
" Jangan lupa tanya sama Arda, lama lama kesel juga aku mas."
" Udah sayang kamu ga usah mikirin Arda, biar itu jadi urusan mas. Kamu fokus ke pekerjaanmu saja biar bisa happy terus."
" Siap bos, jawab Tesya lalu membenamkan tubuhnya di bawah selimut."
Pukul 04.30 Tesya tampak sudah memulai aktivitas paginya. Menyiapkan pakaian kerja sampai sudah memasak sarapan.
" Sayang kamu dimana panggil Kevin, ketika tak menemukan istrinya di kamar dan di dapur."
" Ada apa mas,jawab Tesya yang baru keluar dari ruang kerjanya."
" Mas kira kamu hilang kemana, bikin panik saja. Pagi pagi udah di ruang kerja ngapain?"
" Bikin brosur lowongan kerja mas, biar nanti di bagikan sama pak Udin di depan. Aku udah ga sabar pengen buka toko itu, apalagi sebentar lagi puasa mas."
" Semangat boleh tapi inget jangan capek capek kasihan nih anak papa, kata Kevin sambil mengelus elus perut Tesya."
" Udah cepet mandi terus sarapan, aku mau lanjut cetak brosurnya, ujar Tesya."
Selesai mandi Kevin langsung turun menuju ke meja makan. Tesya juga sudah tampak disana membuat kopi dan susu buat teman sarapan.
" Di rumah sendiri ga papakan sayang, pamit Kevin."
" Ga papa mas, eh iya nanti mau makan di rumah apa di kantor. Kalau di kantor sebelum makan siang biar aku kirim makanan kesana."
Belum sempat Kevin menjawab Sita yang baru datang lansung menyaut.
" Makan di rumah aja Vin, nanti biar bang Vano juga makan di sini. Hari ini aku mau belajar masak sama Tesya, sekalian ijin Tesya mau aku ajak ke supermarket buat belanja."
" Oke dech nanti aku usahain makan di rumah, semangat belajar masaknya kakak. Semangat juga buat perut bang Vano tambah bulat, goda Kevin."
" Emang kamu Vin, tuh perut udah kaya ibu hamil, balas Sita."
" Biarin besok kalau udah olahraga lagi juga ga sebuncil ini."
" Udah ah, sayang aku berangkat dulu ya, hati hati kalau ada apa apa langsung kasih kabar, pamit Kevin."
Kevin mendaratkan ciumannya kekenibg istrinya dan Tesya juga mencium lembut tangan suaminya.