
Dua minggu berlalu tetapi Tesya masih belum merasakan tanda tanda melahirkan. Hari ini ia memeriksakan kandungannya lagi ke klinik ditemani suaminya.
Tesya duduk di antara banyak pasien yang menunggu giliran. Perasaannya tak karuan karena harusnya hari ini ia melahirkan.
" Jangan gugup sayang, semua akan baik baik saja kok, kata Kevin sambil menggenggam erat tangan istrinya."
"Gimana ga gugup mas, waktu lahirannya mundur gini. Aku takut mas,apalagi ini anak pertama kita."
"Percaya sama mas ga akan terjadi apa apa."
Kini giliran Tesya masuk ke ruang pemeriksaan. Tangannya dingin rasa takut mulai membayanginya.
" Dok kok sampai sekarang saya belum merasakan tanda tanda mau melahirkan ya. Padahal HPLnya sekarang,tanya Tesya?"
" Mari mbak saya periksa dulu,pinta dokter."
Tesya merebahkan tubuhnya ia pasrah dengan keadannya saat ini. Ia hanya berdoa semoga ia dan calon anaknya baik baik saja.
" Jangan tegang mbak, maju atau mundur waktu lahiran itu biasa kok. Karena mungkin kita lupa hari terakhir datang bulan."
" Iya dok, mungkin karena anak pertama jadi takut."
" Semuanya masih baik kok mbak, di tunggu sampai dua hari kedepan ya, kalau masih belum ada tanda tanda mbak datang kesini kita akan melakukan tindakan."
" Baik dok, jawab Tesya dan Kevin bersamaan."
Malam harinya sampai larut Tesya masih belum bisa memejamkan matanya, walaupun sudah ngantuk berat tetapi matanya masih tak bisa terpejam.
" Tidur sayang, jangan begadang. Ingat kesehatan kamu dan dedek yang ada diperut. Oh iya jadwal kamu periksa dua hari lagi itu bertepatan sama mas metting penting di kantor, kamu ke kliniknya di antar mama ga papakan sayang."
" Ga papa mas, mas kenapa ga tidur kan besok harus kerja?"
" Mana bisa tidur sementara kamu masih terjaga seperti ini.Geser ke samping mas biar bisa di elus elus perutnya."
Tesya mendekat ke samping suaminya, belaian tangan Kevin di perutnya membuat nyaman dan ia terlelap.Pikirannya masih kacau karena jadwal lahirannya mundur terus.
Ke esokkan harinya setelah sarapan dan mengantar suaminya untuk berangkat bekerja Tesya hanya bermalas malasan di kamar. Moodnya masih berantakan ia mencoba mengembalikan moodnya dengan main game yang ada di handphonenya.
Bosan di kamar ia pindah ke balkon sambil melihat pemandangan yang ada di sekitar.
" Moodnya lagi kacau kak, takutnya kalau aku ke toko bisa ngomel ngomel ga jelas."
" Tumben, ada apa cerita sama kakak."
" Mundur lagi kak, apa gara gara aku lupa ya sama tanggal terakhir datang bulan makanya lahirannya mudur terus."
" Bisa jadi itu Sya, emang kata dokter kemarin gimana?"
" Ya katanya emang belum saatnya gitu kak. Habis aku saja ga tahu kapan hamilnya tahu tahu udah lima minggu gitu usianya."
" Wihhh kok bisa, emang ga mual apa gimana gitu Sya? Terus kamu tahunya kalau hamil gimana?"
" Sama sekali ga mual kak, cuma napsu makan aja yang tiba tiba berubah drastis. Bawaannya pengen makan terus, aku tahunya pas ngantar Lia ke klinik. Waktu itu aku baru sadar kalau belum datang bulan."
" Terus Sya, tanya Sita penasaran."
" Terus iseng beli tastpack tapi di tes samar gitu buat mastiin aku ke klinik kak, ternyata pas di periksa sudah masuk minggu ke 5."
" Kira kira besok aku gimana ya Sya, bisa sekuat kamu atau ga ya Sya."
" Berdoa saja kak, pokoknya hamil itu rasanya nano nano.Moodnya juga bisa berubah secepat kilat gitu kak."
" Sya boleh pegang ga, siapa tahu bisa nular, kata Sita sambil tersenyum."
" Kak Sita ada ada aja masa hamil bisa nular."
" Kata orang orang gitu sih Sya, soal benar tidaknya kakak ga tahu. Yang kakak mau cuma bisa cepat hamil dan keluarga besar kakak ga nuntut ini itu. Capek Sya tiap hari di tanyain terus."
" Kuncinya kakak harus sabar jangan setres, ga usah dengarin apa kata orang. Bang Vano juga santai kok kak, jangan di buat beban.Kalau nanti dedek udah lahir kakak boleh kok tiap hari main sama dia siapa tahu dengan gitu kakak cepat isi."
" Sayang buruan lahir ya, biar bisa cepet main sama kamu, ucap Sita sambil mengelus perut Tesya."
Mendengar ucapan Sita perut Tesya bergerak tanda si dedek di dalam sana merespon ucapannya.