
Intan merasa bahagia karena Arda tak meninggalkannya walaupun keduanya belum mendapat restu dari orang tuanya.
Senin pagi, sepeti biasa Tesya datang ke kantor bareng dengan Kevin. Hari ini ia tak tampak bahagia karena kedua sahabatnya sudah tahu statusnya.
Intan dan Lia tampak sudah datang dan mulai pekerjaanya.
" Pagi semua, tumben kompak berangkat pagian, sapa Tesya."
" Bukan kita yang pagian kamu aja kesiangan ini juga udah jam kerja. Mentang mentang udah jadi nyonya, goda Lia."
" Sya kerjaan kemarin yang aku taruh di sini kemana ya dari tadi aku cari ga ketemu juga. Gawat kalau sampai hilang bisa di pecat aku."
" Tenang Tan udah di bawa sama pak Kevin, bahkan kemarin udah di bawa metting dan tahu ga hasilnya banyak klien yang suka. Yang lebih buat bahagaia lagi kalau kita bisa bikin model terbaru dan mereka cocok. Semua klien akan perpanjang kontrak dengan perusahaan kita,jelas Tesya."
" Wahhhhhh ,tapi kalau kamu keluar Sya, apa kita masih bisa kaya gini, kata Intan yang membuat suasana bahagia berubah jadi haru ."
" Jangan sedih sayang, walaupun aku ga kerja di kantor tapi masih bisa bantun kalian di rumah kok. Mas Kevin juga bilang kalau ada metting terus ada klien yang udah cocok sama sama kerja kita aku bakal tetep ke kantor kok."
Ketiganya berpelukan rasa persahabatan yang mereka pupuk menjadi ikatan melebihi saudara.
Sementara di ruangan Kevin, dari tadi Arda hanya diam saja. Melihat gelagat aneh sahabatnya membuat Kevin risih.
" Elu kenapa Da dari tadi diem aja, kalau ada masalah itu cerita siapa tahu aku bisa bantu. Ngomong ngomong kemarin kemana ga berangkat kerja ga kasih kabar juga. Sumpah aku hampir gila siapin bahan buat metting."
" Sorry ya Vin, baru tenangin diri kalua aku paksa kerja bakal berantakan semua jadi mending ga berangkat."
" Emang kenapa sih , biasanya kalau ada masalah dikit langsung cerita. Udah cepet kasih tahu kenapa buruan, Kevin memaksa Arda buat cerita."
" Kisah cinta elu enak Vin kaya jalan tol, lah gue kaya jalan plosok ga tersentuh infrastuktur gembradak gronjal gronjal netes eluh cendol dawet,kata Arda."
" Sing tak sayang ilang....sing tak sayang ilang woyo woyo...sambung Arda tak kalah heboh dari Kevin."
Kini keduanya tampak asik berjoget tanpa sadar Tesya sudah berdiri di ambang pintu sambil memperhatikan kelakuan konyol suaminya. Tesya tak habis pikir suaminya yang biasa tampil cool bisa juga lepas kontrol.
" Mas.. panggil Tesya."
Seketika Kevin dan Arda menyudahi kegiatannya tadi. Betapa malunya Kevin tingkah polahnya yang konyol ketahuan sama istrinya.
" Ada apa Sya, jawab Kevin sambil menyembunyikan rasa malu."
" Cuma mau antar copyan kontrak yang kemarin soalnya masih di dalam tas. "
" Makasi ya sayang ."
" Sama sama mas, kalau gitu aku balik kerja lagi ya, pamit Tesya."
" Gimana ceritanya copyan kontrak ada sama Tesya, tanya Arda?"
" Ga usah nanya gimana, gara gara elu ga berangkat kerja ,akhirnya metting kemarin aku sama Tesya."
" Bro doain ya semoga orang tua Intan mau terima aku. Biar aku juga bisa rasain gimana punya istri kaya elu."
" Tenang saja bro pasti aku doain terbaik buatmu. Tetap usaha sampai mereka membuka hati buatmu."
" Makasih ya bro, eh iya Intan dan Lia udah tahu tow kalau Tesya istrimu,tanya Arda."
" Iya , sabtu kemarin pas aku jalan sama Tesya kepergok mereka, ya udah ngaku sekalian toh udah terlanjur ketahuan juga."
" Wah bentar lagi pasti ada pesta nih..seru Arda."
" Soal pesta nanti sekalian empat bulanan. Dan itu juga butuh proses Da, jadi sabar ya."