
" Sya, biasanya kamu masaka apa kalau makan siang,tanya Sita ketika mereka sampai di supermarket."
" Biasanya kalau siang yang berkuah kuah kak , ya kaya sop soto gitu. Tapu kalau aku tergantung mas Kevin maunya apa sih kak."
" Kamu bisa masak mulai kapan Sya, kok sekarang udah jago gitu."
" Kalau belajarnya udah dari SD kak, soalnya di rumah cuma ada mbak yang bantuin bersih bersih, soal masak memasak mama sendiri yang turun tangan. Dari situ aku belajar kak pertama tama cuma liat terus mulai bantuin selanjutnya mulai masak sendiri. Ya walaupun rasanya aneh dari situ aku mulai belajar lebih rajin lagi sampai akhirnya bisa."
" Lama ya prosesnya, kira kira aku bisa ga ya belajar masaknya."
" Asal kakak sungguh sungguh belajarnya ga akan lama kok, jelas Tesya."
" Sya kamu bahagia ga setelah menikah sama Kevin?"
" Bahagia banget kak, mas Kevin baik kok semua yang aku minta selalu di turuti, ga pernah kasar sama aku. Walaupun pertama tama aku cuek sama dia, tapi dia masih terima aku dan bimbing aku sampai akhirnya luluh juga."
" Lucu ya perjalanan cinta kalian, awalnya aku juga ga percaya Sya kalau Kevin mau menikah. Yang jelas kamu beruntung dapat Kevin jangan samapi buat dia kecewa ya . "
" Iya kak, aku akan buat dia selalu bahagia dan nyaman sama aku."
" Jadi ngobrol gini , sampai lupa mau masak apa, kata Sita."
Kantor Kevin
Pagi ini masih tampak sepi belum banyak karyawan yang datang. Hari ini Kevin memang barangkat agak pagi biar bisa langsung ketemu sama Arda. Dia sudah gemas melihat apa yang di lakukannya kemarin. Puluhan pertanyaan sudah singgah di kepalanya.
" Wihhh pagi amat Vin, sapa Arda ketika melihat Kevin. sudah duduk di meja kerjanya."
" Iya nih bro, lama ga masuk kantor mau cek berkas berkas dulu, jawab Kevin sambil menahan emosi."
" Eh iya nanti siang ada metting sama bagian produksi, sama ini berkas yang harus kamu tanda tangani,kata Arda sambil menyodorkan map."
" Da ada yang mau aku omongin sama kamu, tapi sebelumnya kasih tahu ob suruh bawain kopi sama camilan kesini, ujar Kevin."
Arda mulai binggung , ga biasanya Kevin minta kopi saat mau bicara penting. Pikirannya mulai kemana mana, sampai ia tak konsentrasi.
" Da duduk sini, panggil Kevin."
Arda semakin binggung melihat ekspresi Kevin yang sudah mulai tegang.
" Ada apa sih Vin, kayanya ada yang penting banget ya sampai harus ngomong empat mata, tanya Arda penasaran."
" Kemarin pas aku liburan kamu ajak siapa ke rumah, tanya Kevin?"
" Intan Vin, terus kenapa ga bilang dulu sama aku , kok kamu bisa tahu? Arda balik bertanya."
" Pak Udin yang kasih tahu, beberapa kali beliau memergoki kamu."
"Maaf ya Vin, soalnya waktu itu Intan ga bawa mobil, pas mau aku antar katanya nanti aja sekalian makan makannya aku ajak ke rumah kamu."
" Aku sih ga papa kamu ngajak dia ke rumah tapi apa yang kamu lakukan di dalam rumah yang bikin aku ga bisa tolelir lagi."
" Kamu udah tahu semuanya, sekali lagi maaf ya Vin. Aku benar benar terbawa suasana apa lagi waktu itu sedang turun hujan."
" Da kalau ada masalah cerita sama aku, jangan malah melakukan perbuatan kaya gitu. Emang ada apa kok kamu sampai melakukan perbuatan seperti itu."
" Jadi gini Vin, waktu itu aku datang melamar Intan tapi kedua orang tuanya sama sama mentang hubungan kami. Akhirnya Intan kabur dari rumah dan kontrak ga jauh dari sini, itu awal mulanya. Karena kami sama sama saling cinta dan binggung harus bagaimana buat mendapatkan restu akhirnya kami melakukan hal terlarang itu."
" Gila kamu Da, itu bukan solusi tapi membuat masalah baru. Kalau Intan sampai hamil tetapi kedua orang tuanya masih tak memberi restu kamu bakal susah sendiri, bentak Kevin."
Arda hanya diam ia ga berpikir sampai sana. Kalau sampai yang di bilang sama Kevin terjadi ia pasti akan mendapat masalah baru.