
Siangnya Tesya dan Kevin bersiap untuk berangakat ke luar kota.
" Sudah siap sayang?" tanya Kevin.
" Sudah mas, berati dari rumah mama kita langsung ke bandara?"
" Iya sayang, biar nanti mobilnya bisa di bawa Wawan antar pakdhe sama budhe jalan jalan. Soalnya kalau pakai mobil mas yang satunya ga baka muat."
KEDIAMAN ORANG TUA TESYA
" Ma, pa Tesya sama mas Kevin berangkat dulu ya," pamit Tesya kepada kedua orang tuanya.
" Kalian hati hati ya," pesan mama papanya.
" Iya ma."
" Sya jangan lupa oleh olehnya ya," kata Rama.
" Siap mas, kamu mau di bawakan apa?"
" Lihat nanti saja," sambung Rama.
" Oke dech kalau begitu semuanya saya sama Tesya berangkat dulu ya," pamit Kevin.
Setelah Kevin dan Tesya berangkat semuanya kembali lagi ke ruang keluarga.
" Ma, kenapa ya kok perasaan papa ga enak," kata pak Bayu kepada istrinya.
" Mama juga pa, dari tadi pagi ngerasa gimana gitu."
" Semoga semuanya baik baik saja ya ma."
" Iya, kita berdoa saja biar semuanya baik baik saja."
KEMBALI KE KEVIN DAN TESYA
" Wan, nanti kamu balik lagi ke rumah mama ya," ujar Tesya.
" Baik mbak."
" Mas mobil di belakang itu kok dari tadi kaya ngikuti kita ya."
" Mungkin mereka searah sama kita jangan mikir yang tidak tidak," kata Kevin.
" Mas nantk sesampainya kita disana di jemput apa kita naik taksi?"
" Di jemput Sya, masa iya kita harus naik taksi.
Satu jam berlalu, mobil yang di tumpangi Tesya dan Keluar pintu tol dan bruuuaakkkkkkk. Mobil Tesya di tabak dari belakang dan menabrak mobil yang ada di depannya.
" Sayang sayang," panggil Kevin.
Tak ada sahutan dari Tesya.
" Wawan,Wan, Wawan,"Kevin gantian memanggil supirnya.
Wawanpun tak merespon panggilannnya dan sekali lagi Kevin menanggil istrinya sebelum akhirnya tak sadarkan diri.
Suara mobil ambulans meraung raung membawa korban ke rumah sakit terdekat.
KEDIAMAN KELUARGA TESYA.
Semuanya sedang asik ngobrol di ruang keluarga, ada papa, mama, Tya, eyang, pakdhe,budhe. Sedangakan Rama dan Dita sedang menenangkan Kay yang dari tadi rewel.
" Mas kayanya itu ada telpon deh," kata Dita.
" Iya, pasti mereka ga dengar karena asik ngobrol. Kamu disini sebentar ya mas angkat dulu," pamit Rama.
" Baik mas."
" Hallo selamat sore, ada yang bisa saya bantu?"
" Mas Rama ya," kata seseorang disana dengan sesegukan.
" Iya, ini siapa?"
" Bi Mun mas."
" Ada apa bi, kok menangis?" tanya Rama penasaran.
" Mas Kevin dan mbak Tesya mas."
" Ada apa sama mereka, bibi tenang dulu cerita sama saya pelan pelan."
" Mbak Tesya sama mas Kevin kecelakaan mas, tadi pihak kepolisian telpon ke rumah. Mbak Tesya mas Kevin sama Wawan ada di rumah sakit Pratama Medika ketiganya tak sadar mas," mendengar penjelasan dari bi Mun kaki Rama lemes dan gemetaran.
" Mas kamu kenapa?" tanya Dita yang kaget melihat Rama duduk bersimpuh menangis sambil memegangi gangang telepon.
" Apa mas," teriak Dita.
Mendengar teriakkan Dita semua orang di ruang keluarga datang menghapiri.
" Kenapa kalian berdua menangis?"
" Tesya dan Kevin eyang," kata Rama sambil sesegukan.
" Ada apa sama mereka?" tanya Bayu.
" Mereka kecelakaan om, sekarang mereka ada di rumah sakit Pratama Medika."
Semua langsung histeris, apalagi eyang yang sampai tak sadarkan diri.
" Ayo kita semua kesana, Tya kamu telpon kak Vano ya," ujar papanya.
" Baik pa."
Semua bersiap menuju ke rumah sakit Pratama Medika, tinggal Dita menjaga eyang yang masih belum sadar.
RUMAH SAKIT PRATAMA MEDIKA
Semua keluarga sudah berkumpul disana keluarga besar Tesya dan Kevin. Mereka berdoa minta yang terbaik buat Tesya Kevin dan Wisnu. Rama tampak mondar mandir di depan pintu IGD.
" Ram duduk, jangan kaya setrikaan gitu bikin kita semua tambah panik," ujar budhe Tinuk mamanya Rama.
" Duh ga bisa ma."
" Keluarga korban," panggil dokter yang baru keluar dari IGD.
" Iya dok, " jawab mereka semua.
" Bagaimana keadaan anak anak saya," kata pak Bayu.
" Mereka semua sudah melewati masa kritis, tetapi pasien atas nama Tesya dan Kevin belum sadarkan diri sedangkan atas nama Wawan sudah siuman. Sebentar lagi pasien akan di pindahkan ke ruang rawat."
" Terima kasih dok, jadikan mereka semua satu kamar," ujar Vano.
Malam menjelang belum ada tanda tanda Tesya dan Kevin sadar.
" Rama, kamu pulang dulu sama pakhe budhe ajak sekalian Tya. Besok kamu balik lagi kesini bawakan kita pakaian dan pakaian Tesya sama Kevin. Jangan ceritakan apa apa dulu sama eyang, kalau beliau tanya kamu jawab saja Tesya sama Kevin baik baik saja," ujar pak Bayu.
" Baik om, kalau ada apa apa langsung kabari ya."
Pelan pelan Vano bertanya sama Wawan.
" Jangan marahi saya ya pak," Wawan memohon.
" Saya ga akan marah sama kamu, saya tahu ini musibah. Kamu bisa ceritakan apa yang sebenarnya terjadi sama kalian. Tapi kalau kamu masih pusing jangan di paksa, saya ga mau terjadi apa apa sama kamu.
" Jadi begini pak, tadi pas keluar dari rumah papanya mbak Tesya ada mobil yang mengikuti kita dari belakang. Saya sudah bilang sama mas Kevin terus beliau bilang ga papa kemungkinan mereka searah sama kita. Tapi saya merasa ada yang aneh sama mobil itu pak. Mobil itu jalannya jaga jarak banget sama mobil kita walaupun saya tahu itu mobil selalu ada di belakang. Bahkan kita masuk tol saja mobil itu terus di belakang mobil kita, dan pas sudah keluar pintu tol mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi dan menabrak bagian belakang mobil kami yang menbuat mobil yang kami tumpangi menabrak truk yang ada di depan," jelas Wawan.
" Kamu tahu plat mobilnya?" tanya Vano.
" Tahu pak."
" Sebutkan beserta ciri ciri mobilnya."
" Mobilnya Avansa hitam, platnya AB........"
" Terima kasih infonya," kata Vano lalu ia beranjak keluar.
Ia langsung menghubungi entah siapa dan menyebutkan plat mobil tersebut.
" Pokoknya kalau ada informasi langsung kabari," sambungnya.
Vano kembali masuk menemui Wawan.
" Tadi kalian pergi pakai mobil yang mana?"
" Mobil yang sama kaya punya bapak," jelas Wawan.
" Sial," umpatnya.
Dua hari berlalu Kevin dan Tesya masih belum sadarkan diri, keluarganya bergantian menjaga keduanya. Wawan yang mulai membaik prihatin melihat kedua bosnya masih tak sadarkan diri.
" Bagaimana keadaan kamu Wawan?" tanya Rama.
" Sudah agak mendingan, tapi masih suka pusing kalau mengginggat kejadian kemarin itu."
" Sudah jangan di ingat ingat biar kamu cepat sehat dan doakan kedua adikku biar mereka juga cepat sadar."
" Baik mas."