
Tesya tampak cuek walaupun ia tahu ada yang dari tadi memata matainya. Yang ada di pikirannya hanya ia berada di kantor suaminya pasti ga ada yang berani mencelakainya.
Tesya sudah menyiapakan seribu pertanyaan ketika ia mendapati perempuan tadi yang hendak menggantarkan pesanannya.
" Maaf dari tadi saya lihat mbak selalu memperhatikan saya ada apa ya?"
" Eh em itu mbak , saya hanya memastikan mbak itu benar teman sekolah saya apa bukan."
" Teman, kata Tesya dengan nada yang agak kaget?"
" Iya dari tadi pas mbak datang saya seperti ga asing lihat wajah mbak."
" Kalau boleh tahu siapa nama mbak dan siapa nama teman mbak."
" Nama saya Ayu mbak dulu sekolah di SMP N 1 di kota ini tapi pas naik kelas 3 pindah karena orang tua pindah tugas. Kalau ga salah nama teman saya itu Tesya , jelasnya."
Tesya mengingat ingat lagi, tapi ia tak punya teman yang namanya Ayu apalagi sekolah di SMP N 1.
" Nama aku memang Tesya tapi ga punya teman yang namanya Ayu, mungkin mbak salah orang. Saya juga ga pernah sekolah yang di maksud sama mbak tadi."
" Oh jadi benar saya salah orang , kalau gitu saya permisi dulu mbak, kata perempuan tadi tapi entah dengan sengaja atau tidak ia menyenggol air panas pesanan Tesya tadi."
" Au.....gimana sih mbak kalau jalan hati hati dong, untung cuma sedikit yang kena kaki, teriak Tesya."
Bukannya minta maaf tapi perempuan tadi langsung berjalan meninggalkan Tesya yang mulai kesakitan karena kakinya terkena air panas. Dengan cepat ia menelpon suaminya.
Dert.....Dert......Dert..... handphone Kevin bergetar di dalam sakunya. Begitu melihat nama istrinya yang ada di layar ia cepat cepat memencet tombol hijau.
" Mas, cepat ke kantin, ujarnya."
Mendengar suara istrinya kesakitan ia langsung pergi ke kantin menghampirinya.
Dengan setengah berlari Kevin menuju kantin karena sudah tak sabar mau tahu keadaan istrinya. Begitu sampai di sana ia melihat istrinya sudah di tolong beberapa pelayaan kantin. Ada yang memberinya minum ada juga yang sadang mengobati luka di kakinya dengan lidah buaya yang banyak tumbuh di sana.
" Kenapa sampai kaya gitu sayang, tanya Kevin panik?"
" Tadi anak baru ngobrol sama ibu, terus numpahin air panas yang ibu pesan akhirnya kena ke kaki."
" Panggilkan anak baru tadi, perintah Kevin."
" Ayo mas antar ke dokter, mas ga mau kamu kenapa napa?"
" Ga usah mas ini udah enakkan kok di kasih lidah buaya."
" Pak anak barunya sudah pergi, barang barangnya yang ada di loker juga sudah ga ada."
" Cari info tentang dia kalau ada yang berhasil menemukannya saya kasih bonus, jelas Kevin."
" Iya pak jawab semuanya bersamaan."
Kevin memapah Tesya menuju mobil, walaupun Tesya menolak untuk ke dokter tapi ia tetap mengajaknya.
" Loh mas inikan bukan arak ke rumah kita,tanya Tesya?"
" Iya, mas tetap mau bawa kamu ke rumah sakit. Mas ga mau kalau sampai ada apa apa sama kakimu."
" Tapi ini udah ga papakok mas."
" Udah kamu ga usah ngeyel, nurut aja pokoknya."
Tesya hanya diam, ia tak mau kalau sampai harus debat sama suaminya. Karena seperti yang sudah sudah pasti ia kalah.