I LOVE YOU BOSS

I LOVE YOU BOSS
177#BAB 177



"Duh jadi penasaran aku," kata Dita.


Pokoknya mas Rama jangan cerita sama Dita aku malu," ucap Tesya.


" Ya elah Sya ngapain malu toh sekarang kamu juga sudah sama Kevin kan."


"Cerita dong mbak, masa cuma aku yang ga tahu ceritanya," bujuk Dita.


"Ini semua gara gara mas Rama," kata Tesya kesal.


"Lah aku lagi yang kena."


"Siapa lagi, tadikan mas rama yang memulai."


"Cerita dong mbak, "bujuk Dita lagi.


"Oke mbak bakal cerita," kata Tesya.


"Jadi waktu itu ada yang jatuh cinta pandangan pertama sama mbak, terus tiba tiba datang ke rumah ajak kedua orang tua beserta keluarganya dan ternyata papanya mbak sama papanya itu kenal banget bisa di bilang mereka sahabatan waktu masih muda."


"Terus mbak, "kata Dita bersemangat.


"Pada akhirnya aku terima lamarannya dan nikah diam diam di Jogja karena mbak belum siap buat nikah muda."


"Kenapa belum siap mbak?" tanya Dita lagi.


"Ya karena banyak yang kepengen mbak capai walaupun setelah nikah tercapai sih."


"Lanjut mbak ," Dita bersemangat mendengar cerita Tesya.


"Habis nikah,di kantor masih biasa saja kaya bos sama karyawan , tapi si bos tiap setengah jam selalu panggil aku ke ruangan dengan alasan dia rindu, "jelas Tesya sambil tersenyum mengginggat semua kejadian waktu itu.


"Loh kok bos mbak?"


"Iya boslah Kevin itu dulu bosnya Tesya di kantor," celetuk Rama.


"Lah berati cinlok dong,"seru Dita.


"Ga juga sih Dit, soalnya yang cinta mas Kevin duluan akunya ga."


"Kok bisa gitu mbak."


"Ya bisalah saking takutnya aku di ambil orang setiap gerak gerikku selalu di pantau bahkan aku di kasih jam yang bisa ia lacak aku ada dimana."


"Wih keren."


"Keren apaan sih Dit aku ga bisa jalan jalan sama teman teman aku."


"Terus kapan mbak Tesya sama mas Kevin go publicnya."


"Kalau ga salah pas mbak hamil, mereka banyak yang curiga kalau mbak hamil terus sering bawa makanan aneh aneh gitu ke kantor."


"Asik ya kisah cinta mbak Tesya sama mas Kevin," ucap Dita


"Asik apanya Dit?"


"Ya asik saja gitu."


"Ih ga ada asik asiknya tahu, mbak sama sekali ga pernah ngerasain yang namanya pacaran terus ngedate sama pacar."


"Dosa tahu pacar pacaran enaknyakan pacaran setelah nikah mau pegang mau nyium mau peluk ga dosa ,"kata Kevin.


"Ih mas Kevin ga seru."


"Ga seru gimana nyatanya kamu juga menikmatikan, kalau ga mana bisa ada Kay disini," sambung kevin lagi


"Tuh dengar Dit makanya nikah yuk biar kalau aku gandeng kamu ga dosa soalnya udah muhrim, "kata Rama.


"Yang kuliah terus nikah juga banyak Dit."


"Tapi bapak sama ibukan belum ijinin."


"Ya kita bujuklah apalagi sekarang kita lebih sering tinggal disini bareng bareng takut ada fitnah."


"Takut ada fitnah apa takut kehilangan sih mas," goda Tesya.


"Ya dua duanya bukan gimana gimana Sya aku udah tua loh, usia aku sama kamu selisih 4 tahun. Sekarang saja kamu udah punya anak yang usianya hampir dua tahun sedangkan aku masih gini gini saja. Ga enak tahu aku juga kepengen kalau pagi di buatin kopi di temani sarapan di siapin bajunya kalau mau kerja," ucap Rama.


"Kan tiap pagi sama sore udah di buatin kopi sama Dita terus sarapan juga barengkan," kata Kevin.


"Beda Vin."


"Beda gimana?"


"Ya bedalah, maksud aku sarapan berdua di rumah aku sendiri bukan disini."


"Terserah kamulah mas mau gimana aku pusing habis kamu susah di kasih tahu."


"Kamu sih mas, tuh mbak Tesyanya ngambek kan," kata Dita.


"Udah yuk mas ke kamar aku capek debat sama mas Rama," ajak Tesya.


"Hayuk Dit kita juga ke kamar," balas Rama.


" Mas Rama," teriak Tesya.


"Apa?"


"Ga usah macem macem."


"Siapa juga yang mau macem macem, aku juga mau ke kamar. Maksudnya aku ke kamar aku Dita ke kamarnya Dita. Masa iya kita mau ke kamar bisa aku digantung sama Pak Udin," kata Rama.


"Udah aku besok pagi mau telepon Bude sama Pakde aja biar cepet-cepat halalin mas Rama sama Dita. Pusing aku tiap hari lihat mas Rama godain Dita terus," kata Tesya.


"Lah kalau kamu bilang sama pakde budhe mereka tahu dong kalau kamu udah sampai rumah," kata Rama.


"Ya biarin aja orang kenyataanta memang udah di rumah udah sembuh juga kan. Lagian kenapa sih nggak dari dulu mas Rama nikahnya," sambung Tesya.


" Ya orang belum ketemu jodohnya mau nikah sama siapa sama kodok atau sama domba itu yang dipelihara Oma di belakang."


"Salah sendiri dari dulu diajak ke sini nggak mau alasan inilah itulah sekarang aja baru ngebet minta nikah."


"Udah-udah kalian nggak perlu berantem udah dewasa juga .Ngapain sih masih berantem tiap hari nggak adik nggak kakak nggak ada yang mau ngalah," ucap Kevin lalu menarik tangan Tesya untuk masuk ke kamarnya.


Sementara Dita dan Rama masih duduk untuk melanjutkan ngobrol.


" Mas Rama emang beneran, mau nikah sama aku dekat-dekat ini ?"tanya Dita.


"Ya kalau kamu mau, terus kalau kamunya siap sekarang kenapa harus nunggu nanti. Semakin cepatkah semakin bagus nggak nambah-nambahin dosa juga," jelas Rama .


"Terus nanti kalau kita udah nikah kita mau tinggal di mana masa iya kita mau numpang di sini ?" tanya Dita lagi.


"Tenang aja Dit kan ada apartemen Tesya yang kosong nanti bisa kita tinggal disana sambil nabung biar bisa bikin rumah sendiri, tapi sebenarnya juga kamu nggak perlu khawatir papa sama mamaku punya banyak aset kok kita tinggal pilih mau tinggal di Jogja di Solo mau tinggal di sini. Terus kalau mau pun aku juga bisa langsung kerja di tempat mereka,tapi kalau seperti itu kesannya aku mau memanfaatkan kekayaan orang tuaku. Aku maunya semua dari nol dari usaha aku sendiri tanpa embel-embel kekayaan orang tuanya ,"jelas Rama.


"Terus kapan mas Rama bilang sama Bapak sama Ibu ?" tanya Dita.


" Nanti dulu lah Dit bilang sama bapak ibumu kalau emang kamu sudah siap, aku juga langsung telepon papa sama mamaku untuk bilang kalau kita akan segera menikah," kata Rama lagi.


"Tapi yakin Mas Rama mau nikah sama aku dengan latar belakang aku yang seperti ini," kata Dita.


" Kenapa sih kamu selalu mikir kayak gitu,padahal orang tuaku pun nggak mempermasalahkan kamu anak siapa, asalnya dari mana, kaya atau enggak,buat mereka itu tidak masalah yang penting aku bahagia. Di keluargaku pun semua seperti itu nggak mempermasalahkan semuanya. Coba lihat Kevin sama Tesya seorang Kevin yang kaya raya bisa dibilang kolong merat aja bisa nerima Tesya yang dari keluarga ya nggak gimana-gimana asalnya dari desa pula tapi ya diterima dengan baik terus dulu Papa aku juga orang biasa nyatanya bisa diterima sama keluarga Mamaku yang kaya raya," jelas Rama lagi.