
Selesai makan keluarga Kevin berkumpul di ruang keluarga.Mereka santai sejenak dan saling bertukar cerita. Itu semua di terapkan sama nyonya Sofi agar keluarganya ada waktu buat berkumpul walaupun sama sama sibuk.
" Pa ma ada yang Kevin mau sampaiin,kata Kevin."
" Ada apa sayang,cerita sama mama,kata nyonya Sofi."
" Jadi gini ma,mama tahu Tesya kan perempuan yang waktu itu berkenalan sama mama,kata Kevin."
"Iya mama ingat gadis cantik yang kamu taksir itukan?Memang dia kenapa sayang,tanya nyonya Sofi."
"Jadi gini tante Kevin itu sudah kehabisan cara buat dekati dia.Dan Tesya juga tak kunjung membuka hatinya.Makanya dia jadi aneh gitu,jelas Arda."
"Pantas saja ngurung diri di kamar,goda pak Sanjaya."
"Terus rencanana gimana,tanya nyonya Sofi."
"Kata Arda mending di lamar langsung ma,dari pada nunggu kelamaan,jawab Kevin."
"Kalau langsung di lamar terus di tolak, papa mama bisa malu Vin,kata pak Sanjaya."
" Ya ga ada salahnya mencoba kan pa,bujuk Kevin."
" Ya sudah atur sesuai keinginanmu kalau semua persiapan sudah beres tinggal mama dan papa yang bertindak,kata nyonya Sofi."
Kevin menyiapkan mental untuk melamar pujaanya itu,walaupun ia tahu antara di terima dan tidak itu 50:50.Memikirkan acara lamaran itu membuatnya tak bisa tidur nyenyak.
Kring kring kring suara handphone Tesya berbunyi,membangunkannya dari mimpi indah.
" Selamat pagi,ini siapa kata Tesya yang masih enggan membuka mata."
" Pagi Tesya ini saya Kevin,kata pak Kevin."
" Iya ada apa pak,tanya Tesya yang kaget mengetahui siapa yang menelponya sepagi ini."
" Nanti pulang kerja ada acara ga,tanya Kevin."
" Sepertinya ga ada pak,emang ada apa?"
" Nanti sore bisa temani saya cari kado buat saudara,tanyanya lagi."
"Iya pak,oh iya pak hari ini mau di bawain makan siang apa,tanya Tesya."
" Hari ini ga usah di bawain apa apa,tapi temani saya sarapan dan makan siang."
"Nanti gampang jam setengah 7,saya jemput kamu di rumah.Kalau begitu sudah dulu cepatlah bersiap siap"
" Iya pak,kata Tesya sambil menutup teleponnya."
Tesya mulai bersiap takutnya nanti bosnya datang dia belum siap.Lebih baik menunggu dari pada menunggu itu menurut Tesya.
Tesya menunggu bosnya di ruang tamu tanpa sarapan terlebih dahulu.
" Kok ga sarapan dulu sayang ,tanya mamanya."
" Tadi pak Kevin bilang mau ngajak sarapan bareng,jawab Tesya."
" Jadi gitu,terus kamu kok juga ga bawa bekal,tanya mamanya lagi."
" Mau ditrakrir makan siang sama pak Kevin lagi ma."
" Kalau menurut mama pak Kevin itu sepertinya ada rasa sama kamu sayang,goda mamanya."
"Ih mama apaan sih,itu ga mungkin lagi."
" Coba kamu pikir setiap hari minta di buatin makan siang sama kamu,kalau ada apa apa pasti yang di ajak kamu kan."
" Iya juga sih ma,tapi Tesya ga mau ke gr\-an dulu ah takutnya bertepuk sebelah tangan,jawab Tesya."
" Belajar buka hati sayang usiamu sudah matang karirpun sudah kamu capai masih mau menunggu apa lagi,nasihat mamanya."
" Iya mama ,tapi tunggu sampai usaha ketring Tesya buka dulu baru fokus ke cari pendamping."
"Iya sayang,tu jemputanya sudah datang,kata mamanya."
"Selamat pagi tante,kata Kevin sambil mencium punggung tangan mama Tesya."
"Selamat pagi juga nak Kevin,jawab mama Tesya."
" Sudah siap Sya ,tanya Kevin?"
" Sudah pak,jawab Tesya."
" Tante kami pamit dulu,ucap Kevin berpamitan."
Untuk kesekian kalinya ia berangkat bareng bosnya.Tapi untuk kali ini ia benar benar tak berani menatap wajah bosnya itu.Pikirannya kacau gara gara kata mamanya tadi pagi.