
Hari hari Tesya di sibukkan dengan toko kue barunya yang mulai beroperasi. Dita anak dari pak Udin di percaya sebagai tangan kanannya.
Suatu sore ketika Dita pulang kerja ia bercerita sama bapaknya.
" Pak , mbak Tesya sama mas Kevin itu orangnya baik banget ya. Masa aku yang cuma lulus SMA di percaya buat ngurusi semua laporan toko."
" Iya mereka memang baik, makanya bapak betah kerja sama beliau. Bapak pesan sama kamu jaga kepercayaan mereka, jangan sampai buat kecewa."
" Iya pak, Dita berusaha biar ga buat kesalahan. Semoga dengan kerja sama mbak Tesya, Dita bisa belajar siapa tahu suatu saat nanti bisa buka usaha juga."
" Amin, bapak doakan yang terbaik buat kamu."
Sementara itu di rumah Tesya, Kevin sedang uring uringan ga jelas. Entah sejak pulang dari kantor ia tampak cemberut.
" Mas kenapa, dari tadi aku perhatiin cemberut aja, tanya Tesya yang binggung melihat suaminya marah marah ga jelas."
" Ga papa kok, jawab Kevin ketus."
" Yakin ga papa, goda Tesya yang kini sudah duduk di depan Kevin sambil kedip kedip manja."
" Apaan sih sayang, jawabnya masih dengan wajah juteknya."
" Ya udah kalau marah,mending aku tidur dari pada di jutekkin terus, kata Tesya sambil pergi menuju ke ranjang."
Baru selangkah Tesya berjalan tiba tiba Kevin memeluknya dari belakang.
" Hemmmm, kalau kangen bilang ga usah pakai ngambek gitu, ledek Tesya."
" Ya habis kamunya ga peka kalau suaminya kangen."
" Kaya gitu tuh rasanya di cuekin kalau lagi kangen, aku sering banget di gituin sama mas."
Kevin membalikkna tubuh Tesya, kini mereka berdiri berhadapan. Tak lama Kevin membungkukkan tubuhnya sambil mengelus perut Tesya yang sudah tampak membuncit.
" Aku baik pa, papa gimana baik juga kan. Aku anak pinter kok pa, ga pernah bikin mama repot. Aku kangen juga kangen sama papa, apa lagi mama, jelas kangen banget sama papa, ucap Tesya yang menirukan suara anak anak."
" Sayang , bisik Kevin di telinga Tesya."
" Geli tahu mas, kata Tesya yang berjalan meninggalkan Kevin dan langsung merebahkan tubuhnya ke ranjang."
Dengan cepat Kevin menyusul Tesya yang sudah bersembunyi di dalam selimut. Iapun juga ikut tenggelam di dalamnya. Tangannya kembali mengelus elus perut Tesya.
Tapi lama lama tangannya berpindah tempat menuju area lainnya.
" Mas jangan gitu dong, rengek Tesya."
" Tapi mas mau sayang, udah lama loh sayang, bujuk Kevin. Sambil tangannya terus bergreliya menjelajahi tubuh Tesya."
" Selalu kaya gitu, kalau habis ngambek mesti minta jatah."
" Iyalah habis mas udah puasa dua minggu loh, sekali saja ya sayang, Kevin terus membujuk Tesya."
" Hemmm iya dech, janji sekali aja ya mas, jawab Tesya."
Mendengar persetujuan dari Tesya, Kevin langsung melancarkan aksinya. Acara ritualnya di mulai. yang awal persetujuan hanya sekali nyatanya sampai beberapa kali.
Paginya Tesya tampak masih enggan buat membuka mata, tubuhnya berasa lemas kaya tak bertulang.Sementara Kevin juga masih terlelap sambil memeluk Tesya.
" Mas, panggil Tesya sambil menyingkirkan tangan Kevin."
" Apa sayang, mas masih ngantuk, jawab Kevin."
" Mas, buruan bangun udah jam 7 loh, emang mas ga kekantor,tanya Tesya."
Kevin kaget bukan main ketika melihat jam yang ada di dinding kamarnya sudah menunjukkan pukul 07.00. Ia langsung melompat dari tempat tidur dan berlari ke kamar mandi. Dia lupa kalau pagi ini harus bertemu dengan klien.