
Sebelum menjemput perempuan perempuan hebat yang sedang bekerja di rumah Arda membantu Kevin menyusun strategi untuk bertemu dengan Fanny.
" Jadinya gimana ini Da, biar ini masalah cepet kelar. Aku kasihan sama Tesya,gara gara masalah itu semalam dia menangis," kata Kevin.
" Tunggu saja dulu kenapa, kita ikuti permainanya kalau sudah keterlaluan baru kita bertindak.Yang jelas kamu pantau terus Tesya biar ga ketemu sama dia, aku kira dia baik ternyata lebih ganas dari Rasti mantan kamu,"jelas Arda.
" Cinta memang buat orang pinter jadi bodoh."
" Dia itu bukan cinta sama kamu Vin, tapi dia itu terobsesi sama kamu. Kalau dia cinta ga bakal dia nyakitin orang yang di cintai,"sambung Arda.
" Iya juga ya."
" Saran aja sih Vin, kamu kasih tahu Tesya saja soal Fanny biar ga salah paham kalau sampai ada sesuatu yang buruk terjadi."
" Nanti kalau waktunya sudah tepat aku bakal ajak Tesya ngobro, makasih ya Da sarannya. Sekarang jemput dulu istri istri di rumah. Oh iya kamu mau makan apa biar sekalian aku pesanin,"ujar Kevin.
" Samaain aja semua,"jawab Arda lalu pergi menuju ke rumah Kevin.
Rumah Kevin
" Yang udah jadi di cetak aja dulu kali ya,"kata Intan.
" Oke," jawab Tesya.
" Udah sesesai berapa gambar sih sampai hari ini?"tanya Lia.
" Sekitar 35 Li,masih kurang banyak nih semangat ya 65 gambar lagi itupun nanti kalau ga berubah lagi jumlahnya,"jawab Tesya.
" Semangat ya pejuang rupiah,"kata Intan menyemangati kedua sahabatnya.
Tok tok tok suara ketukan pintu membuat mereka semau berhenti beraktivitas.
" Biar saya saja mbak yang buka pintunya,"kata bi Mun.
" Terima kasih bi,"jawab Tesya lalu melanjutkan kembali pekerjaannya.
" Udah selesai berapa?"tanya Arda ketika masuk ke rumah.
" Sekitar 35 gambar masih kurang banyak nih,"jawab Lia.
" Loh pak Arda kok di sini ada apa?"tanya Tesya
" Hari ini yang punya gambar mau ketemu sama kalian di kantor. Kalian siap siap ya soalnya habis makan siang langsung meeting," jelas Arda.
" Ya allah, itu orang ribet amat sih. Ga tahu apa ini perut udah segede kranjang masih suruh meeting,"gerutu Lia.
" Berdoa saja Li, semoga gambarnya ga bermasalah," kata Intan.
"Udah kalian siap siap gih."
" Bentar aku panggil Dita dulu biar bantuin jaga Kay sama Key pas di tinggal meeting."
Semua siap dan mereka langsung berangkat menuju ke kantor. Setelah makan siang meeting dimulai ketiga perempuan habat itu tegang takut kalau gambarnya ga di terima.
" Semuanya bagus saya suka, kalau semua gambar bisa membuat saya suka kemungkinan besar saya akan terus bekerja sama dengan perusahaan ini," jelas klien itu.
" Terima kasih pak," kata Tesya.
" Satu lagi, kuota pesanan saya akan saya tambah setiap modelnya. Dan buatkan saya gambar yang lebih banyak lagi," sambungnya.
" Bisa kami pertimbangkan pak," kata Kevin.
" Kalau begitu saya permisi dulu,"terima kasih untuk kerja samanya."
" Da panggilkan anak desain yang lain ya, mau sekalian aku ajak meeting. Kasihan kalau mereka kerjain bertiga nanti kalau mereka kecapekan kita juga yang repot," ujar Kevin.
Meeting untuk kedua kalinya, semua anak baru tampak tegang. Terlebih lagi bertemu dengan seniornya.
" Selamat siang, maaf sebelumnya karena meeting mendadak. Jadi begini bulan ini ada order besar besaran dan kliennya itu orangnya teliti sekali saya mohom bantuan kalian untuk membantu mbak mbak semua buat kerjain. Kalian ga harus datang ke kantor soaknya kalian semua kerja di rumah saya. Kalian jangan khawatir urusan pekerjaan kalian disini biar di kerjain sama anak sample," jelas Kevin.
" Kalian bisa memulainya besok dan nanti alamat rumah pak Kevin biar saya shareloc," sambung Arda.
" Baik pak,"jawab ke empatnya.
Meeting kedua selesai mereka kembali ke ruangan masing masing. Kevin duduk di kursi kebesarannya sementara yang lain duduk di sofa tak jauh darinya. Tiba tiba Kevin teriak.
" Sumpah ini gila,"teriaknya yang membuat semuanya terkejut dan mendatanginya.
"Ada apa sih mas sampai heboh gitu?".
" Baca emailnya kalian pasti ikut terkejut,"kata Kevin sambil memutar laptop yang ada di depannya.
" Ya allah seratus saja dari kemarin belum kelar,ini di tambah lagi jadi 500 desain dan harus selesai dalam waktu sebulan,"kata Lia ga percaya.
" Kayanya kita harus tata ruang belakang jadi kantor sementara deh mas,"kata Tesya.
" Sepertinya begitu, Da pulang gih sama yang lain bantuin Tesya tata ruang belakang, nanti aku nyusul mau beli perlengkapan yang lain,"ujar Kevin.
" Ya udah yuk semuanya pulang, biar kita bisa langsung kerja,"ajak Arda.
" Semangat pokoknya,"sambung Lia.
" Demi uang susu,"sambung Intan.
" Pokoknya intinya semangat biar rekening kita makin gemuk," lanjut Tesya.
Sore ini mereka langsung tancap gas buat menata ulang ruangan kosong di rumah Kevin di bantu pak Udin dan Wawan. Malam menjelang semua sudah rapi dan besok sudah siap untuk di tempati.
" Semua sudah selesai kita langsung pamit ya,"pamit Arda.
" Wehhh jangan pulang dulu itu bi Mun udah masak banyak,"kata Tesya.
Makan malam dengan tim sukses kerjanya rasanya luar biasa. Memberikan semangat lebih untuk terus berkarya. Selepas makan malam semuanya pamit untuk pulang, kini tinggal Kevin sama Tesya yang berada di dalam ruangan.
" Sayang ada yang mau aku bicarain sama kamu,"kata Kevin.
" Soal apa mas?" tanya Tesya lalu berhenti menata gambar.
" Soal perempuan kemarin,"ucap Kevin.
Seketika Tesya menjatuhkan kertas yang ia pegang menjadi berhamburan di lantai.
" Jadi aku minta tolong sama Arda buat cari tahu siapa yang udah buat kamu menangis kemarin. Dia Fanny anak salah satu partner kerjaku, dia sudah lama suka sama aku tapi dari dulu memang tak pernah aku respon. Aku sama Arda sudah susun rencana tapi mas juga minta persetujuan sama kamu,"jelas Kevin.
" Rencana apa mas?"
" Aku akan mengikuti permainan dia, tapi kalau dia sampai keterlaluan sama kamu dan Kay, akan aku hancurkan perusahaan papanya. Soalnya hampir 75% saham di perusahaan itu milik kita," sambung Kevin.
" Tapi aku takut mas."
" Jangan takut sayang,sekarangkan kamu kerjanya di rumah. Nanti mas kasih pengawal seperti biasa biar kamu tetap aman pergi kemana saja. Pokoknya mas minta kamu percaya sama mas sepenuhnya. Karena kamu satu satunya perempuan yang bisa buat aku gila dan buat aku bertekuk lutut."
" Hemmm mulai lagi ya gombalnya, aku percaya kok sama mas. Asal mas ga permainkan keperyaan aku selama ini."