
Tak terasa kini kehamilan Tesya memasukki bulan ke 8. Tesya dan Kevin mulai sibuk mempersiapkan keperluan calon buah hatinya. Tak hanya itu keduanya juga mempersiapkan mentalnya. Beberapa kali mereka datang ke tempat bimbingan menjadi orang tua baru. Yang membuat keduanya semakin tak sabar menanti buah hatinya lahir.
Seperti biasa pagi ini Kevin menemani Tesya jalan pagi keliling komplek, bahkan itu menjadi rutinitas barunya setelah kehamilan Tasuk di trimester ketiga.
" Di minum dulu sayang mumpung masih hangat, ujar Kevin. Hari ini kita jadi ke baby shopkan ?"
" Terima kasih mas susunya, jadi dong masa tinggal sebulan lagi kita belum persiapan apa apa. Baru kamar saja yang di bersihkan."
Keduanya sudah siap menuju baby shop, walaupun baru membeli keperluannya hati Tesya merasa bahagia.
Sesampainya di baby shop Kevin mengambil keranjang belanjaan dan berjalan di samping Tesya. Keduanya asik dengan acara belanjanya hari ini.
" Mas yang ini sama yang ini bagusan mana, tanya Tesya sambil menunjuk stroler bayi?"
" Kalau mas suka yang ada warna birunya, tapi terserah kamu mai milih yang mana asal kamu senang dan bagus mas ikut."
" Aku juga suka yang itu mas, soalnya warnanya kalem di pakai cowok cewek bisa. Padahal setiap ke dokter selalu USG, tapi sampai saat ini masih malu saja anak kita ya mas."
" Bukannya malu sayang tapi mau kasih kejutan buat kita.Mau cowok atau cewek buat mas sama saja yang penting lahir dengan selamat tanpa kurang apapun."
" Kayanya ada yang kurang deh mas, bentar ya aku cek dulu biar ga usah bolak balik."
" Iya sayang, mas mau lihat lihat dulu siapa tahu ada yang menarik."
Satu jam berlalu Tesya dan Kevin masih asik dengan belanjaannya. Betapa terkejutnya mereka ketika sampai di meja kasir melihat barang yang di beli.
" Ini gimana bawa pulangnya sayang, mobil kita ga bakal muat, bisik Kevin."
Ternyata kasir yang sedang melayaninya tak sengaja mendengar dan berkata " Jangan khawatir mas di sini ada kurir yang bisa antar belanjaan sampai ke rumah. Tapi ada biaya tambahan, jelasnya."
" Syukurkah kalau begitu."
Setibanya di rumah di bantu bi Mun, pak Udin dan Kevin memindahkan belanjaannya ke kamar yang sudah di siapkan untuk menyambut kelahiran anak pertamanya.
Khusus pakaian Tesya yang urus karena ia akan mencucinya terlebih dahulu. Satu demi satu kemasan ia buka membuatnya semakin tak sabar menimang seorang bayi.
" Rasanya udah ga sabar mas, kayanya rumah kita bakal ramai kalau dedek sudah lahir."
" Iya sayang dia akan memberi warna baru di kehidupan kita.Sampai saat ini kadang mas masih ga percaya kalau sebentar lagi akan menjadi seorang papa."
" Semoga kita bisa menjadi orang tua yang baik ya mas."
Kevin tersenyum lalu mencium pucuk kepala Tesya.Hatinya merasa damai melihat orang yang ia cintai tersenyum bahagia. Ternyata di balik luka yang pernah ia rasakan dulu ada hal indah yang sudah menantinya. Kini ia sudah menemukan pelabuhan terakhir hatinya yang sebisa mungkin akan ia jaga.
Ia tak akan memaafkan siapapun orangnya kalau sampai ada yang berani melukai orang orang tercintanya.
" Kok mas benggong ada apa?"
"Ga ada apa apa kok sayang cuma mas bahagia memiliki kamu dan calon anak kita. Bahagia yang tak bisa terlukiskan dengan apapun."
" Hemm mas gombal, ledek Tesya."
" Mas serius sayang, kamu sama dedek adalah anugerah terindah yang di kirim Tuhan buat mas."
" Mas juga anugerah terindah yang pernah kumiliki."
Keduanya lantas berpelukan mesra tanpa melihat situasi. Padahal disana ada bi Mun dan pak Udin yang sedang membantu menata belanjaannya.
" Pak, ayo kita keluar itu mas sama mbak Tesya, jelas bi Mun sambil menunjuk kedua majikannya yang sedang bermesraan."
" Iya bu, kita keluar dulu, ajaknya."
Kevin tahu kedua asistantnya keluar, kini tak ada halangan lagi buat bermesraan dengan istrinya.