
Sepanjang perjalan pulang Tesya hanya diam,dia tak tahu lagi harus bagaimana. Keputusan kedua keluarga sudah deal secepatnya dia akan mengakhiri masa lajangnya.
" Sya,kalau boleh tahu apa yang membuatmu menerima lamaran Kevin,tanya Arda?"
" Pertama aku takut di pecat kalau menolak,kedua orang tua pak Kevin ternyata teman papa waktu sekolah jadi tambah sungkan mau menolak, ketiga bujukkan orang tua cepat menikah,jawab Tesya."
" Jadi kamu belum mencintai Kevin,tanya Arda lagi?"
Tesya hanya menggelengkan kepala. Tesya belum bisa mencintai bosnya walaupun kalau berada di dekatnya ia merasa nyaman.
" Terus kalau kalian menikah bagaimana,tanya Arda."
" Bagaimana apanya pak,Tesya balik bertanya?"
" Ya itunya hubungannya,jawab Arda."
" Tadikan pak Kevin sudah bilang kalau aku belum siap ga bakal di paksa."
" Tesya Tesya polos sekali kamu ini, udah 23 tahun tapi kaya gituan masih belum paham juga,kata Arda sambil tertawa."
" Emang kenapa,tanya Tesya penasaran."
" Aduh Tesya dengarin aku kasih tahu, laki laki dan perempuan dewasa sama sama tinggal dalam satu atap kalau ga terjadi itu ga mungkin."
" Jangan bikin takut dong pak."
" Bukan nakutin tapi itu hal yang wajar kalian kan suami istri sudah sah mau ngapain juga. Lagian kalau kamu nolak kan dosa,jelas Arda."
" Terus aku harus gimana ,tanya Tesya lagi."
" Ya jalani saja bagaimana mestinya."
Keduanya langsung diam,Arda fokus dengan jalanan,sedangkan Tesya memikirkan semua ucapan Arda tadi.
Dijam yang sama di tempat yang berbeda.Intan dan Lia panik bf m eh bnfnnfb sekarang Tesya belum datanb;gg. Bahan meeting semuanya Tesya yang bawa.
"Coba di telpon lagi dong Tan,ujar Lia."
e " Udah Li tapi ga nyambung nyambung juga."
" Masa iya mereka sudah meeting duluan,kalau iya ngasih kabar apa gimana gitu,kata Intan mulai kesal."
Tiba tiba Tesya datang dan membuat mereka terkejut.
" Dari mana aja Sya ,gila hampir pingsana aku,kata Lia."
"Ga usah lebay ngapa Li,tadi mobilku mogok terus ga sengaja ketemu pak Arda dan pak Kevin di jalan."
" Terus pak Arda dan pak Kevin mana? Kalau bareng harunya dari tadi sudah sampai sini,tanya Intan."
" Tadi ngantar pak Kevin dulu ke bandara terus baru ke kantor,jawab Tesya bohong."
" Terus nanti meetingnya gimana,kata Lia panik."
" Tenang saja nanti sama pak Arda, jelas Tesya."
Mereka bertiga langsung menyiapakan semua file buat meeting dan beberapa contoh produksi.
Tiba tiba terdengar suara gaduh dari luar ruangan mereka yang membuat ketigannya berhamburan ke depan pintu. Di depana ada seorang perempuan seumur bosnya datang dan marah marah.
Melihat ada Rasti di kantor Arda mencari Tesya ke ruangannya dan memintanya untuk meninggalkan kantor.
" Sya bisa ke ruangan sebentar,panggil Arda."
Tanpa menjawab Tesya berjalan menghampiri Arda yang berdiri di depan pintu.
"Sya ,di depan ada Rasti sebaiknya kamu buru buru pergi dari sini sebelum dia melihatmu."
" Tapi sayakan ga bawa mobil pak,kata Tesya."
" Bawa mobil Kevin ini kunci dan surat suratnya,ajak Intan dan Lia sekalian kita ketemu di tempat meeting,kata Arda sambil memberikan kunci ke Tesya."
" Iya ,saya duluan ya pak,pamit Tesya."
" Kamu lewat pintu belakang saja Sya ,aku mau beresin si Rasti dulu."
Tanpa berpikir panjang Tesya langsung mengajak teman temannya pergi soal nanti mereka bertanya kenapa ia sudah punya jawaban sendiri.
Soal teman temannya percaya atau tidak bisa di pikir nanti. Sedangkan soal Rasti bisa minta penjelasan ke Arda walaupun dia sendiri takut kalau sampai Rasti tahu hubungannya dengan Kevin.