
" Gimana Dit di terima ga lamaran aku?" tanya Rama
Dita masih diam seribu bahasa karena binggung mau jawab gimana.
" Mas Rama mas Rama, kalau mau lamar orang itu bilang jangan bikin semua orang panik kaya gini," kata Tesya.
" Ya habisnya kalau bilang dulu papa sama mama dan yang lainnya ga mungkin bisa kumpul disini."
" Ram kamukan belum kerja berani beraninya lamar anak orang, nanti kamu kasih makan apa coba. Nikah itu butuh banyak persiapan secara lahir dan batin," omel eyangnya.
" Eyang, sekarang Rama cuma mau lamar saja belum mau menikah, ayolah dukung Rama kenapa sih."
" Papa sama mamamu mendukung, ga larang kamu dekat sama siapa saja mau anak orang biasa sampai anak kolongmerat papa sama mama ga masalah asal kamu seneng.Tapi kenapa pakai cara kaya gini Rama buat papa sama mamamu ini jantungan."
" Maaf ya pa ma."
" Bagaimana nak Dita apa lamaran anak saya di terima?"
Dita menganggukan kepalanya tanda ia menerima lamaran dari Rama.
" Nah gitu dong, kalau ginikan aku bisa merasakan punya pacar," kata Rama kesenengan.
" Makanya jadi orang tuh ga usah pilih pilih, emang enak jadi jomblo abadi," ledek Tesya.
" Emang kamu kalau ga di pilih sama Kevin laku, cowok cowok pada takut kali sama kamu yang galaknya kaya singa," balas Rama.
" Bisa ga sih kalian itu ga berantem satu jam saja, eyang pusing dengar kalian berantem terus. Nanti kalau papa kamu pulang eyang mau ikut balik ke Jogja," kata eyang.
" Jangan dong eyang, nanti Tesya kesepian lagi kalau eyang pulang."
" Habisnya kalian berdua kalau ketemu berantem terus kok. Oh iya kan Rama sama Dita sekarang sudah ada tunangan ga baik kalau kalian tinggal serumah, sementara Rama tinggal di apartement Tesya saja. Eyang ga mau terjadi apa apa sebelum kalian benar benar sah."
" Lah kalau kangen gimana dong eyang?"
" Kan kalian bisa ketemu, pokoknya eyang ga mau kalian tinggal seatap."
" Oke dech besok pagi Rama pindah, bantuin ya Dit," ajak Rama.
" Ga bisa, kamu senditi biar di bantu Kevin. Sama saja kalau di bantu sama Dita."
Semua lancar bahakan mereka sudah menentukan tanggal untuk tunangan secara resmi.
" Kenapa mukanya cemberut sih yank?"tanya Kevin.
" Capek banget mas habis di buat senam jantung sama Mas Rama."
" Ya udah sini mas pijitin, yank kita belum siapin apa apa loh buat nikahan Arda dan Intan."
" Oh iya sampai kelupaan, enaknya di belikan apa ya mas?"
" Duh apa ya mas juga binggung, lagian mas besok juga harus berangkat keluar kota lagi."
" Belum packing mas."
" Besok saja, mas disana ga lama kok cuma 3 hari ga banyak yang harus di bawa. Kamu sama Kay ikut saja ya buat teman selama jalan," ajak Kevin.
" Tapi pakdhe sama budhe masih disini masa iya mau kita tinggal sih mas. Duh binggung nih, besok mas berangkat jam berapa?"
" Siang, habis meeting di kantor baru berangkat."
" Ya besok pagi aku ngobrol dulu sama eyang enaknya gimana."
" Siap sayang."
" Tidur yuk," ajak Tesya.
Keesokan paginya Tesya sudah sibuk di dapur membantu bi Mun menyiapkan sarapan.
" Pagi sayang," sapa Kevin lalu memeluk tubuh istrinya dari belakang.
" Pagi sayang,mau di buatkan kopi apa teh?" tanya Tesya.
" Mau susu hangat saja ya, mas tunggu di gazebo belakang."
" Oke mas."
" Pagi pagi sudah di suguhi pemandangan kaya gini, gimana aku ga kepengen coba," sahut Rama yang mau mengambil air putih.
" Awas ya kalau aku sampai kepengen kaya gitu, kalian harus tanggung jawab."
Bi Mun melirik Rama dengan lirikan yang menyeramkan
" Ampun bi, aku ga akan kepengen dulu sebelum sah."
Seketika Kevin dan Tesya tertawa melihat Rama yang ketakutan melihat calon mertuanya.
" Mas pakdhe sama budhe mana kok dari tadi aku belum lihat?"
" Jalan jalan sama eyang habis subuh tadi."
" Kak nanti pindahannya sendiri gapapakan soalnya pagi ini aku ada meeting terus siangnya berangkat luar kota."
" Gapapa."
" Biar di bantu sama Wawan saja mas," ujar Tesya.
" Di bantu siapa saja boleh kok, apalagi di bantu sama Dita."
Mendengar itu bi Mun kembali melotot ke Rama.
" Ya allah salah lagi aku."
" Sudah sana mas Rama mandi terus beres beres gangguin orang masak saja," omel Tesya.
" Itu suami kamu juga gangguin masa iya kamu masak sambil di peluk dari belakang gitu."
" Sirik saja sih kak, aku cuma minta di buatkan susu kok. Kak Rama mau sekalian di buatkan ga?"
" Boleh dong kopi susu ya Sya," ujar Rama.
Semua sudah hadir di meja makan untuk sarapan termasuk Kay.
" Pakdhe budhe hari ini masih disinikan?" tanya Tesya.
" Masih, ada apa?pakdhe balik bertanya."
" Kalau misal Tesya tinggal nemani mas Kevin keluar kota gapapakan?"
" Ya gapapa, pakdhe masih mau jalan jalan disini dulu. Pakdhe sama budhe juga belum ketemu sama mama papa kamu kok."
" Kay kamu bawa juga?" tanya eyang.
" Iya eyang, takutnya kalau di tinggal nanti rewel."
" Udah di tinggal saja biar di rumah buat temen eyang, nanti juga eyang sama pakdhe budhe mau ke rumah mama kamu. Kasihan kalau di bawa iya kalau disana dia cocok sama tempatnya kalau ga nanti rewel."
" Gimana mas?"
" Duh binggung juga nih."
" Percaya saja sama eyang,lagian kemarin pas di Jogja juga ga rewel kok."
" Ya sudah nanti Kay aku tinggal, tapi kalau ada apa apa cepat kabari ya," ujar Tesya.
" Ribet amat sih Sya cuma ninggalin anak ke eyang juga, lagian kalian juga perginya cuma tiga hari."
" Mas Ramakan belum punya anak belum bisa rasain gimana LDR an sama anak."
" Emang gimana rasanya?"
" Ya nanti kalau mas Rama sudah nikah terus punya anak bakal rasakan sendiri. Orang mas Kevin pas awal awal Kay lahir saja tiap setengah jam pasti video call kepengen tahu anaknya baru apa."
" Masa sih sampai segitunya," kata Rama tak percaya.
" Itu masih mending Sya, pakdhemu dulu pas budhe habis lahiran dia 2 bulan kerjanya dari rumah. Ga bisa jauh jauh dari anaknya, kerja saja di samping keranjang bayi," jelas budhe.
" Tuh kak denger, nanti kamu juga bakal rasakan rasa rindu yang amat sangat sama anak. Terus nanti kalau sudah punya anak perhatian istri ke kamu bakal berkurang dia lebih perhatian ke anak," sambung Kevin.
" Wah kalau gitu harus luangin banyak waktu buat manja manjaan dulu sama istri sebelum punya anak," jawab Rama seenaknya.
" Dasar," jawab pakdhe.