I LOVE YOU BOSS

I LOVE YOU BOSS
161 # BAB 161



Paginya semua sudah bersiap pulang, Kevin memasukakan beberapa tas punya eyangnya kedalam bagasi. Sementara Tesya dan Dita duduk di depan rumah bercanda sama Kay.


" Gimana mas jadi mau ikut ga?"tanya Tesya.


" Jadilah, kalau ga nanti eyang pulangnya gimana?"


" Lah orang eyang lama kok di rumah Tesya, nanti kalau mau pulang juga bakal di antar lagi sama Kevin," jelas eyang.


" Ih eyang, ya udah aku ikut. Vin kasih kerjaan ya sama aku biar selama tinggal di sana aku ga bosan."


" Siap kak, besok kalau udah ga capek ikut saja ke kantor. Kak Rama bisa kok milih mau di bagian apa sesuai dengan kemampuan kakak."


" Nah suka aku kalau punya adik kaya gini," kata Rama memuji Kevin.


" Bentar bentar mas Rama suka sama mas Kevin, bahaya ini bahaya. Mas Kevin jangan dekat dekat sama mas Rama tuh dia suka sama cowok bahaya."


" Ya allah punya adik satu saja bikin emosi terus tiap ketemu. Bukan gitu maksud aku Tesya, kamu itu nyebelin ihhh."


" Udah udah kalian ini kalau ketemu sudah kaya kucing sama tikus, kalau ga ketemu saling nyariin,"kata eyangnya.


Dita yang melihat bos bosnya itu tersenyum geli, karena mereka ga pernah berantem beneran hanya sekedar bercanda.


Sorenya mereka semua sudah sampai di rumah, Rama terheran heran sama rumah milik adik sepupunya itu.


" Mas Rama, kamarnya disini nanti eyang kamarnya di sampingnya. Kalau mau apa apa bisa bilang sama Dita, bi Mun, pak Udin kalau ga tanya sama Wawan."


" Ruangan itu apaan Sya?"


" Itu bioskop mas, hadiah dari mas Kevin buat aku biar tambah betah di rumah katanya,"jelas Tesya.


" Gila gila gila, salut aku sama kamu Vin. Dulu aku kira kamu cowok kaku dingin ga romantis eh tahunya istrinya udah kaya ratu di rumah," kata Rama.


" Sampai sekarang juga masih dingin kaku juga kok," sambung Tesya.


" Udah istirahat yuk, biar besok bisa kembali fit tubuhnya."


Semua masuk ke kamar masing masing, Tesya Kevin dan Kay langsung tidur karena capek habis perjalanan jauh. Begitu pula yang lainnya mereka juga langsung istirahat.


" Mas kok tumben ya mas Rama mau ikut kita kesini?"tanya Tesya.


" Kayanya mas Rama suka sama Dita sayang,kemarin pas kita ke Jogja mereka ngobrol seru gitu di gazebo rumah eyang. Terus pas kita jalan kemarin pandangan mas Rama selalu ke Dita."


"Kita jodohin saja mereka saja mas, apalagi Dita juga belum pernah pacaran. Siapa tahu memang jodohnya."


" Jangan buru buru sayang, kita lihat dulu perkembangannya gimana. Kalau nanti mereka semakin dekat ya kita buat mereka lebih dekat lagi."


" Iya juga ya mas."


" Takutnya nanti sama kaya kamu udah nikah sama aku ga mau di pegang lagi."


" Udah deh itukan masa lalu mas ga usah di bahas lagi. Orang sekarang aku udah maukan di pegang."


" Bukan hanya di pegang lagi udah bisa di giniin," kata Kevin lalu mencium pipi istrinya.


" Tuh kan mesti kesitu, mas Kevin ihhhh."


" Biarin sama istri sendiri juga."


" Mas soal yang gambar 50 itu gimana?"


" Nunggu kabar dari Arda ya, besok kalau sudah ada kabar kamu ke kantor ajak sekalian kak Rama."


" Oke deh mas, kadang suka binggung mau ngapain kalau Kay udah bobok terus mas juga ke kantor."


" Kan bisa ke toko roti kalau ga belanja, ngemall, me time ke salon apa gimana gitu."


" Ga asik mas kalau sendiri."


" Ajak Intan atau Lia saja."


" Ga mungkin mas, Lia sebentar lagi mau lahiran sementara Intan sibuk urus pernikahannya."


" Ah ide bagus itu, tapi Kay gimana?"


" Tenang biar besok Kay mas bawa ke kantor, lagian besok mas ga ada jadwal metting kok."


" Makasih mas," kata Tesya lalu memeluk tubuh suaminya yang tak jauh darinya.


" Ga usah mancing mancing lagi capek nih."


" Yee siapa juga yang mancing mancing, bilang saja mas kepengen."


" Untuk hari ini lagi ga kepengen, habis perjalanan jauh badan rasanya sakit semua."


" Ya udah bobok saja yuk biar besok pagi badan udah enakan."


Paginya Tesya menyiapkan beberapa perlengkapan Kay yang mau di bawa ke kantor papanya.


" Udah siap semua sayang?" tanya Kevin yang sambil memakaikan sepatunya Kay.


" Sudah mas tinggal ambil susunya saja," tapi mas yakin mau bawa Kay ke kantor?"


" Yakinlah sayang biar kamu bisa me time, lagian kalau kamu cantikkan mas juga yang senang."


" Kay maukan ikut papa ke kantor?" tanya Kevin.


" Au," jawab Kay.


" Pinternya anak gadis papa," kata Kevin lalu mencium kedua pipi gadis kecilnya.


" Seneng amat sih Kay mau di ajak papa ke kantor," kata Tesya.


Kay langsung memeluk papanya yang sedang berjongkok di depannya.


" Ahh so sweetnya, mama juga mau di peluk sama Kay."


Dengan cepat Kay turun dari tempat duduknya menghampiri mamanya dan kemudian memeluknya.


" Papa ikut pelukan ya," kata Kevin.


" Iya," jawab Kay.


Ketiganya langsung berpelukan, moment yang jarang sekali terjadi. Karena Kay dari dulu lebih dekat sama papanya dari pada sama dia.


" Mas aku mau ke bawah dulu biar Kay di suapi sama bi Mun."


" Oke, nanti mas nyusul mau masukan beberapa berkas dulu."


Tesya kembali ke atas buat mengajak suaminya sarapan.


" Mas sarapan yuk, itu eyang sama mas Rama sudah ada di bawah, " ujarnya.


" Iya sayang, mas sekalian bawa ini kebawah biar ga bolak balik. Loh katanya ngajak sarapan kok masih berdiri di situ, terus kenapa wajahnya sedih."


" Ternyata bener ya mas kalau cinta pertama anak perempuan itu papanya, kadang aku suka iri kalau mas seharian sama Kay terus akunya di cuekin."


Kevin menghampiri istrinya lalu memeluknya lama, lama sekali.


" Jangan sedih dong sayang,kemarim mas ajakin kamu liburan berdua saja ga mau. Ayolah sayang mas juga kangen bisa berdua sama kamu. Mumpung eyang di sini kita bisa nitip ke beliau dulu, kalau ga minta tolong sama mama."


" Ga enak mas masa mau di titip sama mereka."


" Ya itu cara terbaik biar kita bisa jalan berdua, kalau kamu iya aku kosongkan jadwal seminggu biar puas kita jalan jalanya."


" Mau," jawab Tesya.


" Iya nanti kamu pikirin mau jalan kemana kalau sudah dapat cepat kabari mas."


Tesya menganggukan kepalanya tanda menyetujui apa yang di katakan suaminya.