
" Pagi Tan, maaf baru bisa kesini lagi. Gimana semalam rewel ga dedeknya?"
" Pagi juga Sya, iya gapapa aku juga tahu kok kamu punya kesibukan sendiri. Sekarang kamu kesini aja aku udah seneng banget.Kayla mana Sya kok kamu sendirian kesininya. Semalam ga rewel kok sudah mau minum asi juga."
" Kayla sama kak Sita, pokoknya setiap habis mandi langsung di ambil sama kak Sita. Syukur deh kalau sudah mau minum asi. Kamu sudah sarapan belum Tan kalau belum aku belikan di luar ya, kamu harus banyak makan biar asi kamu banyak."
Intan hanya tersenyum, betapa bahagianya dia mempunyai sahabat seperti Tesya. Yang ia sesali hanya kenapa dulu ia tak berkata jujur kepadanya.
Satu paket nasi di bawa Tesya kembali ke ruangan dimana Intan di rawat, ternyata dokter yang menangani Intan sedang ada di sana untuk memeriksa keadaan Intan dan bayinya.
" Mbak saudaranya nyonya Intan, tanya dokter itu?"
" Iya dok saya saudaranya,bagaimana dok apa ada yang bisa saya bantu?"
" Nyonya Intan dan bayinya sudah boleh pulang karena keadaan mereka berdua sudah stabil. Ini resepnya mbak nanti bisa ditebus di apotek depan setelah menyelesaikan administrasi."
" Baik dok, terima kasih."
Tesya langsung bergegas menuju ke ruang administrasi untuk menyelesaikan pembayaran. Selesai itu semua Tesya memboyong Intan dan bayinya pulang ke rumahnya setelah ia berunding dengan suaminya semalam.
" Sya kok kamu bawa aku ke rumah, nanti gimana kata tetangga tetanggamu."
"Udah kamu ga usah mikir yang aneh aneh Tan, kamu fokus saja ke bayimu. Semua sudah aku bicarakan sama mas Kevin kok jadi kamu ga perlu khawatir."
" Makasih banyak ya Sya buat semuanya, untuk biaya yang bayarkan tadi besok kalau gajian aku ganti."
" Ga usah Tan, itu buat pegangan kamu saja. Kamu nanti juga butuh beli perlengkapan yang lainya."
" Sekali lagi makasih ya Sya, tapi kamu jangan bilang sama pak Arda ya kalau aku tinggal di rumah kamu. Apalagi sama kedua orang tuaku pasti mereka akan marah besar Sya."
" Intan, Arda itu ayahnya masa kamu ga mau kasih tahu sama dia. Kasihan anak kamu dia juga butuh kasih sayang seorang ayah. Begitupun orang tuamu Tan, bagaimanapun keadaan kamu saat ini pasti ia akan marah tapi ga ada orang tua yang tega membuat anaknya sedih dan menderita."
" Aku ga sanggup Sya buat ketemu sama papa mamaku, kan kamu tahu sendiri gimana mereka.Apa lagi melihat aku yang kaya gini."
" Marah itu pasti Tan, tapi apa iya melihat bayi yang cantik dan lucu ini mereka akan tetap marah? Sepertinya itu ga mungkin Tan, perlahan pasti mereka memaafkanmu."
" Jujur Sya aku beruntung banget punya sahabat kaya kamu, walaupun kamu itu lebih muda dari aku tapi kamu selalu memberikan energi positif buat orang orang di sekitar kamu. "
" Ah kamu Tan bisa saja, jangan di puji terus akunya nanti bisa besar kepala. Pokoknya mulai sekarang kalau ada apa apa bilang sama aku ya Tan jangan di pendam sendiri."
" Pokoknya kamu ga ada yang lain Sya."
" Tan aku ke rumah kak Sita dulu ya mau jemput Kayla, kalau kamu perlu apa apa bisa minta tolong sama bi Mun."
Intan tersenyum ke arah Tesya dan bi Mun yang perlahan meninggalkannya. Betapa beruntungnya ia memiliki teman yang seperti Tesya. Kalau kemarin ia tak bertemu dengan Tesya entah apa yang terjadi kepadanya.
Malamnya setelah makan malam semuanya kembali ke kamar masing masing. Karena Kayla sudah tidur Kevin dan Tesya ngobrol asik di balkon kamarnya.
" Gimana mas sama rencana kita kemarin, mas sudah bilang sama papa mama?"
" Itu rencana bagus sayang tapi, mas binggung bagaimana menyampaikannya sama Arda. Kalau papa sama mama biar besok sebelum ke kantor aku mampir kesana."
" Aku kok yang dag dig dug ya mas, bukan gimana gimana tapi kalau berhadapan sama keluarga Intan aku belum siap mas."
"Niat kita sudah baik sayang buat menyatukan keluarga Intan dan Arda tinggal bagaimana mereka menerima niat baik kita."
" Makasih ya mas, sudah menjadi suami teman sekaligus kakak yang baik buat aku. "
" Sama sama sayag kita harus bisa saling melengkapi walaupun itu susah. Ah kalau berduaan gini suka pengen kamu manjain."
" Hemmm ga usah mulai mas, ingat belum saatnya."
" Ya habis semenjak Kayla lahir kamu kan jarang ada waktu buat aku."
" Maaf mas, aku janji dech bagi waktu antara mas, Kayla dan kerja."
" Harus itu, biar suamimu yang tampan ini ga kesepian."
" Hemmmm bisa saja kamu mas, tidur yuk mas biar nanti pas Kay bangun kita ga ngantuk."
" Yuk sayang."