
" Maaf pak saya harus kembali ke ruagan, masih banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan,kata Intan dan pergi meninggalkan Arda yang berdiri mematung melihat orang yang dia cintai pergi."
" Da ngapain kamu benggong di sini, kata Kevin membuyarkan lamunannya."
" Eh elu Vin, tadi habis ngobrol penting sama Intan tapi hasilnya nihil Vin. Kata dia aku harus melupakkannya dan harus membuka hati untuk orang lain."
" Lah kok bisa gitu Da? Bukannya kalia saling sayang ya."
" Ya gitulah Vin gara gara restu orang tuanya, asal kamu tahu ya Vin kakaknya Intan juga pergi dari rumah gara gara semua di setir sama orang tuanya."
" Terus sekarang kamu mau gimana, masa iya nyerah gitu aja setidaknya perjuangin lagi cinta kamu siapa tahu mereka akan luluh."
" Entahlah Vin aku binggung mau gimana, mau nyerah tapi aku masih sayang sama Intan kalau mau berjuang tapi kok Intan minta aku menyerah kan serba susah Vin."
" Kalau aku jadi kamu bagaimanpun caranya akan aku perjuangkan, tetap semangat Da aku yakin Intan masih sayang sama kamu. Perjuangkan dia jangan sampai dia terluka."
" Coba aku bilang dulu sama Intan, aku juga kasihan sama dia kalau kaya gini terus. Dia juga berhak mendapatkan apa yang ia harapkan."
" Udah yuk Da makan siang dulu sudah lapar nih."
" Ah kamu Vin kalau urusan perut ga bisa banget ketunda, ledek Arda."
" Sttt ga usah berisik ayo makan habis itu siapin bahan buat metting, awas kalau ada yang sampai ketinggalan."
Sore hari ketika Kevin sampai di rumah ia lantas menceritakan soal Arda dan Intan.
" Sayang tadi Arda sama Intan ngobrol serius loh, kata Kevin sambil melepas sepatunya."
" Terus gimana mas, apa Arda sudah tahu soal kehamilan Intan."
" Ceritanya lanjut nanti ya sayang, mas mau mandi dulu gerah nih."
"Ah mas gitu padahal aku penasaran loh, ya udah sana mandi aku buatin kopi dulu."
" Kay udah lama tidurnya?"
" Tadi habis mandi langsung tidur, lanjutin ceritanya tadi donk mas mumpung Kaylanya tidur."
" Loh kok gitu sih mas kenapa Intan ga bilang saja sama Arda kalau dia hamil. Aku yang hamil ada mas saja rasanya masih nano nano apalagi Intan menghadapi sendirian."
" Aku juga ga habis pikir sama Intan dan Arda sudah tahu hubungannya di tentang kok melakukan hal yang seperti itu. Sekarang malah kaya gini kejadiannya."
" Kasihan ya mas mereka."
" Sttt jangan kasihan sama mereka kasihan saja sama mas, kata Kevin lalu mengecup bibir Tesya."
" Jangan gitu dong mas, belum waktunya mas harus puasa 35 hari lagi."
" Yah,masih lama dong."
" Yang sabar ya mas, ledek Tesya yang berlalu meninggalkan Kevin di balkon kamarnya."
Beberapa hari setelah itu Arda sama Intan masih sama sama diam tak ada yang berubah dengan hubungan mereka. Bahkan bisa di bilang tambah dingin di banding sebelumnya.
Intan sendiri masih menutupi kehamilannya dari siapapun. Hanya Tesya dan Lia yang tahu itupun karena mereka melihat perubahan fisiknya.
" Sya hari ini di rumah ga, aku sama mas Bram mau ke rumah mumpung libur, kata Lia lewat sebuah pesan."
" Ada kok, aku stay terus di rumah, balas Tesya."
" Oke di tunggu ya, uhh pengen ketemu sama
keponakan aku yang cantik."
" Mas, Lia sama Bram mau main kerumah."
" Oke oke, kalau gitu mas ke depan bentar ya mau cari camilan."
" Bilang saja sama Dita minta di antar beberapa kue."
" *Kalau Lia main ke rumah gini biasanya ada berita penting soal Intan. batin Tesya*."