I LOVE YOU BOSS

I LOVE YOU BOSS
145 # BAB 145



"Tadi di jahilin ya sama anak anak?"


"Iya mas, di kira aku anak baru. Mana tampangnya sangar sangar lagi. Tapi pas tahu kalau aku istrinya mas langsung mukanya pada aneh gitu."


" Tadi Arda bilang sama aku kalau ada kerjaan tapi mereka maunya sama tim kamu dulu, jujur mas binggung harus gimana. Kan kamu tahu sendiri kamu ada Kay, Intan ada Key terus Lia baru hamil besar mas kasihan kalau harus kerja lagi."


" Tenang saja mas, kita nanti bisa kerja di rumah.Lagian sayangkan kalau ga di ambil,toh ga ada salahnya kan istri bantu suami. Pasti bonusnya gedhe bisa buat nambah buat beli popok."


" Tadi Arda juga bilang gitu sih, ya udah tinggal nunggu hasil metting Arda dulu, kalau memang harus kamu sama tim yang kerjain ya mau gimana lagi. Tinggal nanti kamu sama yang lain gimana."


" Oke mas, nanti kalau pak Arda udah kasih info aku langsung kasih tahu Intan dan Lia, sekalian reuni gitu. Obat kangen metting sampai malam mas."


" Teserah kamu enaknya gimana, yang jalas kalau kamu bantuin mas di kantor jangan sampai ganggu kerjaan kamu yang lain. Apalagi sampai lupa urus suami dan anak."


" Siap mas, ihh kok aku jadi semangat gini sih. Jadi inget awal awal kerja, semangatnya luar biasa."


" Tapi mas ga ijinin kalau kamu kerja di kantor, kasihan sama Kay."


" Aku juga ga mau mas, nanti di jutekin sama karyawan mas lagi.Aku sudah nyaman sama pekerajaanku sekarang mas."


" Pusing kalau harus mikir banyak banyak. Mikirin mas saja sudah menelan banyak waktu dan tenaga, ledek Tesya."


" Ohh sekarang sudah pandai gombalin suami ya, kata Kevin sambil menggelitik pinggang Tesya."


" Ampun mas jangan di kelitikin geli ahhh."


" Makasih ya sayang udah mengisi hari hari mas, jujur kamu satu satunya perempuan yang ga pernah minta apa apa kecuali mas yang belikan."


" Aku jadi terharu, lagian yang di kasih mas buat aku itu lebih dari cukup kok masa masih mau minta."


" Beruntungnya aku punya kamu sayang, semoga kita bisa kaya gini terus ya."


" Iya mas, kita sama sama belajar saling memahami saling melengkapi ya mas, yang paling penting saling mengingatkan kalau ada salah."


" Aduh jadi melo gini suasanya, Kay tidur di luar gerimis di jalan pula."


" Kan tadi mas yang mulai, akukan cuma ngikut saja."


" Ahh bahas yang lain saja hawanya bikin ehemmm, sambung Kevin."


" Lagi palang merah mas jangan macam macam."


" Aduh iya ya lupa aku, gagal lagi nih."


" Mas, emang ga sayang ya Laras jual toko perhiasannya padahal kalau di lihat lihat ramai pengunjungnya. Pasti omsetnya juga gedhe,kalau aku sayang itu mas."


" Memang ramai sih tapi kalau soal kenapanya yang aku tahu hanya dia mau ke luar negeri sama suaminya dan menetap disana, selebihnya aku ga tahu."


" Kalau capek gantian nyetirnya sama aku mas."


" Ga, kalau capek kita berhenti dulu istirahat, aku ga mau kamu juga capek."


" Aku kok deg degan ya mau ketemu sama Laras."


" Biasa saja sayang orang Laras ga gigit kok."


" Tetep saja mas ga enak kan aku habis marah marah sama dia, mana belum sempat minta maaf lagi."


"Ya nanti kalau ketemu langsung minta maaf sama dia biar lega. Tapi itu salah mas juga sih ngelibatin dia buat ngeprank kamu."


"Nah berati mas juga harus minta maaf sama Laras."


" Ihh mas sudah minta maaf sama dia. Eh anak papa bangun, kita jalan jalan lagi di Jogja sayang."


Dengan senyum manjanya Kayla merespon ucapan papanya lalu berbicara dengan bahasa bayinya.


" Uhh anak papa udah pinter sekarang, bikin gemes."


" Papa fokus nyetirnya, nanti kalau sudah sampai baru main sama Kay, kata Tesya menirukan suara khas anak kecil."


Tak butuh waktu lama untuk menuju ke tempat Laras berada, hanya butuh 15 menit saja.


Di depan toko Laras sudah menyambut kedatangan Kevin sekeluarga.


" Hay Ras ,maaf ya baru sampai tadi pagi ngantor dulu."


" Santai Vin, aku juga berangkatnya masih besok pagi kok. Masuk yuk udah mau magrib kasihan babynya."


Di ruangan milik Laras Kevin duduk berdampingan dengan Tesya sementara Laras ada di depannya.


" Ras kenalin ini istri aku Tesya dan ini Kay putri kita, kata Kevin lalu Tesya menjabat tangan Laras."


" Tesya, maaf ya buat yang kemarin. Aku jadi malu udah marah marah ga jelas."


" Laras, udah ga usah di bahas lagu, jawabnya lalu meraih tangan Tesya untuk berjabat tangan."


" Kok tokonya di jual sih mbak, padahal kemarin aku lihat ramai sekali penggunjungnya?"


" Iya Sya mau gimana lagi, aku ga bisa nolak ke inginan suami. Suami aku pengen aku stay saja di rumah ga boleh capek capek soalnya kami sudah 5 tahun menikah belum di kasih momongan. Itu alasan pertama alasan keduanya pabrik punyaku mulai gulung tikar gara gara ada yang ga jujur, tapi mau gimana lagi sudah kejadian. Sebenarnya memang sayang mau lepas toko ini soalnya ini usaha pertama aku."


" Kalau kita kerja sama saja gimana mbak, dari pada mbak nanti setres kepikiran terus. Biar pelanggan mbak juga ga kecewa, takutnya kalau nanti ganti pemilik mereka kecewa. Gimana menurut kamu mas?"


" Kalau aku sih ngikut saja, orang belum aku bayar juga."


" Tapi kan aku harus pindah Sya, terus toko yang awasin siapa, terus nanti desain model perhiasannya gimana?"


"Tenang saja mbak, ini toko tetap punya mbak terus soal desain aku ada teman yang jago banget nanti biar dia yang bikin terus kirim ke mbak kalau mbak suka kirim ke mas Kevin biar di buat di perusahaan kami. Kalau soal yang awasin toko tinggal mbak cari pilih salah satu karyawan mbak yang dapat di percaya."


" Gitu juga boleh Sya makasih ya buat ide cemerlangnya."


Ketiganya mulai menyeleksi karyawan yang kira kira bisa di percaya. Yang kebetulan memang belum pulang,kenapa Tesya memilih mengajak kerja sama karena ia ga bisa kalau terlalu banyak pikiran.