I LOVE YOU BOSS

I LOVE YOU BOSS
71# BAB 71



 


" Saya meminta ijin om dan tante untuk meminang Intan, jelas Arda."


 


" Bukan saya ga menijinkan anda menyukai anak saya tetapi maaf Intan sudah saya jodohkan dengan orang lain, seru papa Intan."


 


Bagai tersambar petir siang bolong Arda dan Intan sama sama terkejut mendengar ucapan tersebut.


" Papa apa apaan sih aku ga mau di jodohkan . Intan sudah besar pa ma, dan punya pilihan sendiri, kata Intan seraya berlari menuju kamarnya meninggallkan Arda.


Ia benar benar kecewa dengan sikap kedua orang tuanya.Di dalam kamar ia menangis sejadi jadinya. Dia pikir setelah kejadian kakaknya kedua orang tuanya akan berubah ternyata masih sama saja.


Di depan orang banyak mereka tampak sayang dengan anaknya tetapi tidak kalau mereka sendiri semua berbanding terbalik.


 


Merasa di tolak Arda langsung berpamitan. Perasaannya benar benar hancur mndengar penolakan tadi.


 


Ia mencoba menenangkan diri dan pergi ke tepi danau tempat yang sering ia datangi ketika sedang ada masalah. Disana ada beberapa Villa yang sering ia sewa.


 


Sementara Intan mengemas beberapa pakaian dan perlengkapan yang lainnya sambil menanti seisi rumahnya terlelap.


Entah ia akan pergi kemana malam ini, rasa kecewa dan trauma yang dulu sempat ia rasakan kini kembali lagi dirasakan.


 


Rumah Kevin.


 


" Sayang, besok bang Vano sudah mulai tinggal disini,"


" Iya, kamarnya juga udah aku bersihkan kok kata Tesya sambil membuat susu di dapur."


" Arda gimana ya kok perasaanku ga enak, kata Kevin."


" Hemmm mas sampai segitunya mikirin pak Arda, goda Tesya."


"Iya lah sayang,soalnya Arda itu selalu ada pas aku butuh, terus udah lama juga berteman sama dia. "


 


" Mas, besok pulang kantor mampir ke rumah mama ya, aku kangen sama masakannya."


" Oke, tapi besok mas ada metting di luar gimana donk."


" Ya aku ke rumah ibu duluan kalau mas udah selesai langsung nyusul kesana, jelas Tesya."


 


 


Keesokan harinya kantor masih sepi beberapa karyawan baru berdatangan.


 


Setelah berpamitan sama Kevin, Tesya masuk ke ruangannya. Belum ada tanda tanda Intan datang. Sampai jam kerja Intan belum juga datang beberapa kali Tesya mencoba menghunginya namun gagal.


Kevin sendiri kebinggungan karena ada metting dan Arda belum juga datang.


 


" Sayang ke ruangan sebentar dong, panggil Kevin melalui telp kantor."


 


Dengan cepat Tesya datang menghampiri Kevin yang tampak kebinggungan.


" Ada apa mas, kok panik gitu, tanya Tesya ketika sampai masuk ke ruangan."


" Arda sampai sekarang belum datang padahal sebentar lagi harus metting, ucap Kevin."


" Intan juga belum datang sudah aku hubungi berkali kali ga aktif nomornya."


" Aduh... ya sudah kalau gitu temani mas metting , ini berkas berkasnya dan ini beberapa samplenya tolong di masukan jadi satu."


Kini Tesya sudah siap menemani suaminya metting. Wajahnya tampak gugup, walaupun ia sering metting tapi kali ini hanya berdua saja.


" Ga usah gugup gitu sayang, santai saja ini kliennya ga ribet banget kok, kata Kevin mencoba menenangkan Tesya."


" Iya mas jawab Tesya."


Di tempat metting beberapa klien sudah pada datang. Tesya semakin gugup di buatnya, ia kira hanya satu orang saja ternyata beberapa klien sekaligus.


Kevin menggenggam tangan Tesya biar dia sedikit tenang.


 


Tesya mulai menjelaskan beberapa produknya dengan hati hati. Semua kliennya sangat puas dengan penjelasan yang di beriakannya. Yang membuatnya bahagia semuanya tampak setuju dan menandatangani kontrak yangv mereka sepakati.


Hati Tesya begitu lega perasaannya sangat bahagia melihat beberapa kontrak di tangannya.


 


" Makasih ya sayang, kamu benar benar hebat bisanya kalau metting kaya gini hanya satu apa dua saja yang mau. Ini sejarah tahu ga, Kevin merasa bahagia."


" Rejeki si dedek mas, ucap Tesya."


" Makasih anak papa, kata Kevin sambil mencium perut Tesya."