
Di kantor Kevin pagi ini, seperti biasa ia sibuk dengan berkas berkas yang tersusun di mejanya. Dari jauh Arda memperhatikan Kevin, ada yang ingin ia tanyakkan tapi bibirnya sulit sekali untuk berucap.
"Kamu kenapa Da, perasaan dari tadi lihatin aku terus?"
" Emm itu Vin."
" Apa, mau cuti liburan atau mau apa? Sini duduk sini ada yang mau aku bicarakan sama kamu."
" Bukan itu Vin, tapi soal Intan."
"Intan kenapa lagi, tanya Kevin seolah ia tak tahu apa apa."
" Intan beberapa hari ini ga datang ke kantor aku khawatir terjadi apa apa sama dia. Aku tanya sama Lia ga tahu tanya teman yang lain juga ga ada yang tahu. Aku coba ke HRD tanya apa Intan cuti juga sama saja ga ada penjelasan."
" Sudah cari ke rumahnya belum atau ke tempat tinggalnya?"
" Sudah Vin tapi aku sama sekali ga ketemu sama dia kata yang punya kontrakkan dia sudah lama ga pulang kesana."
" Eh ya Da, besok kamu sama papa mamamu datang ke rumah ya ada syukuran kecil kecilan, ujar Kevin."
" Besok jam berapa? Kalau ga ada halangan aku usahain datang. Tapi kok tumben ga pakai undangan kaya acara acara sebelumnya."
" Aku sama Tesya hanya undang keluarga dan teman dekat kok jadi ya ga perlu undangan. Acara habis isya' Da, ya kalau kamu mau datang awal terus bantu bantu boleh kok."
" Idih ogah, tamu kan raja datang langsung makan dong masa iya harus bantu bantu."
" Sudah sana lanjut kerja ga usah mikir yang lain dulu, nih kerjaan baru padat padatnya. Oh ya tolong bilang ke manager produksi buat kesini ya, sambung Kevin."
Arda keluar dari ruangan Kevin, ada banyak pikiran yang menari indah di dalam otaknya apa lagi masalah Intan yang membuatnya jadi gila.
Sepulang kantor Kevin tak langsung pulang, ia mampir ke rumah mertuanya terlebih dahulu untuk membicarakan rencana yang sudah ia susun. Ia tak mau kalau sahabatnya dan calon istrinya tersiksa terus karena keadaan yang membuat mereka tak bisa bersatu.
Hanya ini yang bisa ia lakukan untuk membalas kebaikan Arda selama ini. Arda adalah satu satunya sahabat yang selalu ada di sampingnya saat suka dan duka. Bahkan Ardalah yang berjasa dalam hubungannya dan Tesya.
Kevin juga memberi tahu mama papanya, karena tak mungkin ada acara keluarga tapi mereka tidak datang.
Di kediaman Tesya sore itu, setelah mengurus baby Kay dan membantu Intan mengurus bayinya ia pergi ke toko kue untuk meminta karyawannya menyiapkan beberapa kue untuk acara besok. Kalau untuk makan besar dia sudah telpon cattringnya.
Keesokan paginya Kevin masih bersantai di balkon kamarnya sambil menggendong Kayla.
" Gimana mas mama sama papa bisa bantu?"
" Bisa sayang, kemarin setelah aku pulang dari sana mama sama papa langsung ke rumah Intan. Semoga usaha kita ga sia sia ya sayang biar semua berakhir bahagia."
" Iya mas aku juga berharap seperti itu, mereka sampai berbuat nekad tapi hasilnya malah kaya gini. Bukan saling jujur tapi menyembunyikan masalah."
" Hari ini aku ga ke kantor ya sayang."
" Emang kenapa mas?"
" Biar di kira Arda di rumah ada acara beneran. Lagian ga ada metting hari ini, biar ada waktu juga sama kamu sayang kan kalau pagi Kayla sama kak Sita."
" Hemmn ternyata ada maunya, tapi hari ini ga bisa aku sibuk di toko kue, goda Tesya."
" Jahatnya kamu sayang sama mas, udah di bela belain bolos kantor nihhh."
" Kan aku ga suruh mas bolos, kata Tesya lalu pergi menyiapkan alat mandi Kayla."
Selesai mandi dan berjemur Kayla langsung berpindah tangan ke kak Sita. Kayla adalah obat buatnya, obat kesepian ketika suaminya pergi ke kantor dan dia seorang diri di rumahnya.
" Ayo sayang ,rengek Kevin."
" Nanti mas, aku mau bantu Intan dulu kasihan dia kerepotan urus anaknya."
" Kasihan terus sama orang lain tapi ga kasihan sama suaminya, kata Kevin pura pura marah dan meninggalkan istrinya."