
Pagi Ini Di Kontrakkan Intan
Intan melihat kalender yang ada di dinding kamarnya. Seharusnya saat ini sudah waktunya ia datang bulan, tapi sampai sekarang belum ada tanda tanda datang.
Karena rasa penasarannya kemarin sebelum pulang ia membeli testpack ke apotik.
" Semoga saja tidak terjadi seperti yang aku takutkan, batin Intan."
Tapi kenyataan berkata lain sebelum mandi ia mencoba tes pakai testpack yang kemarin ia beli. Sebelum hasilnya kelihatan ia memutuskan untuk mandi terlebih dahulu.
Ketika selesai mandi dan menggambil testpack betapa terkejutnya dia, begitu melihat ada dua garis disana.Seketika tubuhnya jadi lemas seperti tak bertulang.
" Aku harus bagaimana, apa aku harus bicara sama pak Arda. Tapi gimana kalau papa mama sampai tahu.katanya dalam hati?"
Ia mengelus perutnya yang masih datar. Tanpa berpikir panjang ia langsung bersiap menuju kantornya.
--------------------------------
Setelah semua selesai Tesya langsung bergegas menuju ke kantor Kevin. Ia sudah tak sabar bertemu dengan kedua sahabatnya. Rindu dengan suasana kerja rindu dengan apa saja yang ada di sana.
Sesampainya di parkiran Tesya terlebih dahulu menelpon suaminya agar di jemput di lobby kantor.
"Mas, aku sudah di parkiran jemput ya, kata Tesya melalui sambungan telepon."
"Iya sayang sebentar, ujar Kevin."
Hati Tesya dag dig dug tak karuan mengingat pertama kali ia menginjakkan kakinya di sini buat bekerja. Awal mula bertemu dengan bosnya yang super menyebalkan tapi sekarang malah menjadi suaminya.
" Hay sayang, maaf ya lama, sapa Kevin."
" Ga papa mas, itu makanannya ada di bagasi."
" Iya, mas mau minta tolong sama OB saja biar sekalian di tata di ruang metting.Masuk yuk nanti selama mas mettinh kamu tunggu di ruangan ya. Apa mau nunggu di ruangan kamu dulu."
" Mau nunggu di tempat Intan dan Lia aja , sekalian mau kasih ini, kata Tesya sambil menunjukkan beberapa kantong makanan."
Kevin dan Tesya berjalan beriringan, banyak pasang mata tapak memperhatikan langkah mereka. Ada beberapa tampak berbisik.
"Itu bukannya Tesya ya yang dulu du bagian desain, kok sekarang masuk lagi, kata salah seorang."
" Iya tapi kayanya baru hamil dech, masa iya mau kerja, kata yang lainya."
" Tapi kok kayanya mesta banget ya sama pak Kevin, jangan jangan mereka."
" Ah ga mungkin, kalau pak Kevin menikah pasti bakal ngadain pesta besar besaran."
--------------------------------
Ruangan Intan dan Lia, mereka berdua tampak dengan pekerjaan masing masing. Bahkan sampai tak sadar kalau Tesya sudah berdiri di depan pintu.
" Saking sibuknya sampai ga nengok kanan kiri, kata Tesya sambil meletakkan kantong makanan yang ia bawa tadi."
Begitu melihat Tesya keduanya langsung beranjak dari tempat duduk dan berlari memeluknya.
" Tumben kesini ada apa bu, tanya Lia?"
" Nganter kue tadi sekalian main ke sini, lagian suntuk di rumah terus."
" Sering sering aja kesini bawa ginian, seru Intan sambil mencomot bolu gulung."
" Huuu dasar Intan kalau ada makan aja cepet banget nyambungnya, ledek Lia."
" Dari dulu ga berubah sih Tan,makanya sekarang agak berisi, imbuh Tesya."
" Masa sih, wah harus diet nih ucap intan sambil menepuk nepuk perutnya."
" Gimana catrring sama toko kuenya Sya rame,tanya Lia?"
" Alhamdulillah tanggalnya full order semua bahkan kayanya aku mau nambah karyawan lagi. Gimana tertarik kerja di tempatku?"
" Ga ah udah nyaman di sini, Sya kalau saudraku kerjadi tempatmu boleh ga? Dia binggung mau kerja dimana soalnya cuma lulus SMK."
" Boleh, mau di toko bisa di cattring juga ga papa. Kalau memang berminat kamu antar aja ke rumah aku Li."
" Siipp nanti kalau libur aku antar ke rumah. Sebelumnya makasih ya Sya semoga betah kerja di tempatmu."
" Jangan ngobrol terus nih keburu habisloh makanannya, seru Intan."
"Katanya mau diet dari tadi makan terus, gerutu Lia."
Ketika melahap puding tiba tiba Intan merasakan ada yang tak enak sama perutnya. Akhirnya ia berlari menuju ke kamar mandi dan memuntahkan semua isi perutnya. Seketika Lia dan Tesya saling tatap mengisyaratkan tanya.