
Seperti biasa setiap pagi Tesya menyiapkan makanan buat Kevin.Tak hanya makan siang tetapi untuk sarapan juga.
Semalam Tesya sama sekali tak bisa tidur,sampai subuh matanya tak kunjung terpejam.Lalu ia putuskan buat turun ke dapur menyiapkan bekal.
" Pagi pagi gini udah siap semua,sapa mamanya."
" Semalam ga bisa tidur ma,kata Tesya."
" Masih kepikiran lamaran kemarin ya,goda mamanya."
"Iya ma,masa Tesya belum ngrasain pacaran udah di lamar aja."
" Itu tandanya Kevin serius sama kamu,mungkin dia pengennya pacaran setelah nikah."
" Maksud mama,Tesya ga ngerti."
"Gini sayang Kevin itu benar benar ingin menjaga kehormatanmu ,dia ga mau kamu benar benar utuh saat kalian menikah nanti."
"Tapi Tesya belum pengen menikah ma,kata Tesya."
" Cepat atau lambat itu pasti terjadi sayang, tergantung keluarga Kevin,ucap mamanya."
Mulai hari ini Tesya berangkat dan pulang kantor bareng sama Kevin.Mau ga mau Tesya harus menuruti kamauan Kevin.
" Kak nanti nebeng ya sampai sekolah ,kata Tia."
" Kakak ga bawa mobil,di antar papa aja ,kata Tesya.
" Papa nanti ke Surabaya kak,kata Tia lagi."
" Nanti mama biar bilang ke kak Kevin buat antarin kamu dulu ke sekolah,kata mamanya."
" Makasih ma,ucap Tia sambil mencium mamanya."
Tepat pukul 06.30 Kevin menjemput Tesya dan mengantar Tia ke sekolah. Kevin bahagia dengan rutinaitsnya yang baru.
Sesampainya di parkiran kantor Tesya berjalan duluan karena takut kalau ada orang lain yang melihat.
" Begadang bu semalam,tanya Lia yang baru datang?"
" Kok tahu kalau aku habis begadang,kata Tesya."
"Kelihatan tu mata pandamu,kata Lia."
"Masa sih kelihatan,kata Tesya sambil mengambil kaca dari dalam tas."
" Nih pagi udah heboh ngomongin apaan sih,kata Intan yang baru datang."
"Eh tadi pas masuk aku dengar dari depan ada yang lihat pak Kevin pakai cincin loh,seru Intan."
Mendengar cerita Intan,Tesya terkejut,hatinya berdegup kencang dan keringat dingin bercucuran.Tadi dia lupa meminta Kevin buat melepas cincinnya.
" Jangan jangan pak Kevin kemarin ga berangkat gara gara tunangan kali ya,sambung Lia."
" Bisa jadi,tapi kok pak Arda ga tahu sih kalau kemarin lamaran,kata Intan."
" Apa mungkin pak Kevin di jodohin,Lia menerka nerka."
" Kenapa diam saja sih Sya,terus kenapa panik,celetuk Intan."
" Ya orang kalian lagi seru ngobrolnya,aku diam dulu lah,jawab Tesya."
" Perempuan yang jadi istri pak Kevin itu orang paling beruntung,sudah kaya tampan mapan lagi tapi sayangnya galak ,seru Lia."
" Eh Sya ngomong ngomong cincinmu juga baru jangan jangan,goda Intan."
" Ngaco kamu Tan, ini tuh cincin kado dari mama. Lagian aku mah ogah punya suami kaya dia,gerutu Tesya."
" Kalau di kasih nyokap kok di pasang di jari manis,goda Intan lagi."
" Ye biarinlah cincin aku ya suka suka mau di pasang dimana,elak Tesya."
Rutinitas mereka saat pagi sebelum memulai pekerjaan.Saat asik mereka di kejutkan suara Arda yang tiba tiba muncul.
" Woy trio kusut,di panggil pak bos tuh,kata Arda ikut nimbrung."
" Waduh laporanku, ketinggalan di mobil,seru Lia."
" Pak Kevin ga minta laporan kok,cuma di suruh bawa contoh desain baru yang kalian buat kemarin,ujar Arda."
Lia dan Intan jalan keluar duluan di susul Tesya dan Arda.Arda tersenyum melihat cincin di jari manis Tesya.Akhirnya rencananya sukses.
" Sya gimana kemarin,bisik Arda."
" Tahu dari mana,jawab Tesya juga berbisik."
" Tuh cincin elu,kata Arda sambil menunjuk jari Tesya."
" Jangan bilang ke siapa siapa ya,takut ada yang salah paham,bisik Tesya lagi."
"Mereka tahu juga ga papakan Sya,tanya Arda."
" Nanti akan aku kasih tahu tapi ga sekarang,biar kita dulu yang tahu.Nanti kalau ada orang lain lagi yang tahu di kira aku manfaatin pak Kevin,jelas Tesya."
" Oke aku janji jaga rahasia ini baik baik,ucap Arda mengakhiri percakapan mereka."