I LOVE YOU BOSS

I LOVE YOU BOSS
163# BAB 163



BAB INI KHUSUS RAMA SAMA DITA


Malamnya Rama duduk di tepi kolam di temani secangkir kopi. Pikirannya terus melayang tentang apa yang di ucapkan tadi siang sewaktu melihat penampilan baru Dita.


" Masa iya aku jatuh cinta sama Dita," kata kata yang sejak kemarin menghantui pikirannya.


" Mas Rama belum tidur," tanya Dita yang seketika membuyarkan lamunannya.


" Eh kamu Dit ngagetin saja, kamu sendiri kok belum tidur?" Rama balik bertanya.


" Belum mas, ini habis ambil foto beberapa kue yang besok mau aku bawa ke kampus."


" Di kampus kamu banyak yang suka sama kuenya Tesya."


" Alhamdulillah mas banyak yang suka, tiap hari selalu habis kalau aku titip ke kantin kampus."


" Sehari barapa banyak yang kamu bawa?"


" Ga banyak kok mas cuma 10 macam tapi satu macamnya seratus biji."


" Banyak juga ya, semua itu habis dalam sehari?"


" Iya mas, kadang juga kurang segitu. Kalau kurang ya siangnya aku antar lagi."


" Hebat kamu Dit, itu cuma di kampus kamu saja atau ada yang lain?"


" Sementara cuma di kampus mas, sebenarnya ada beberapa tempat yang mau tapi aku belum sempat bilang sama mbak Tesya soalnya dari kemarin sibuk terus."


" Kalau kamu antar sebanyak itu pakai motor atau pakai mobil."


"Di antar sama pak Wawan mas, soalnya kalau pakai motor suka di marahi mas Kevin."


" Kalau besok aku yang antar gimana, pusing mau ngapain di rumah. Ke kantor Kevin juga males kerjaannya ga ada yang cocok sama aku."


" Ga usah mas nanti ngrepoti, lagipula besok aku ada kelas."


" Ya ga papa aku bisa tunggu kamu di kantin kok."


" Ga usah mas, takut di marahi mbak Tesya."


" Santai saja biar nanti aku yang bilang sama Tesya, pokoknya ga boleh nolak," ujar Rama.


Ke esokan paginya, setelah semua kue siap dan eyangnya Tesya menentukan semua jabatan. Rama dan Dita berangkat ke kampus walaupun sebelumnya sempat ada pertarungan sengit antara Tesya dan Rama.


" Tuhkan mas, mbak Tesyanya marah."


" Ah santai saja marahnya Tesya itu ga lama. Aku sama Tesya ya kaya gitu kalau ketemu ribut terus tapi kalau lama ga ketemu telpon sama chat isinya kangen kangenan."


" Masa sih mas."


" Iya, eh ini ngomong ngomong ada yang marah ga aku antar kamu ke kampus."


" Itu tadi mbak Tesya yang marah."


" Bukan itu yang aku maksud."


" Terus?"


" Pacar kamu yang marah."


" Pacar?"


" Iyalah pacar kamu."


" Mana ada yang mau sama aku sih mas, anak pembantu ga cantik harus bantu kerja buat bayar kuliah."


" Kalau misal ada yang mau kamu gimana?"


" Ga mungkin itu mas, kebanyakan mereka lihat dari penampilan dulu terus anak orang kaya bukan."


" Kan ga semua laki laki kaya gitu Dit, jangan mikir negative dulu. Kalau misal ada yang mau sama kamu terus seriusin kamu, apa yang bakal kamu lakukan?"


" Apa ya, selama ini belum ada sih mas. Jadinya aku binggung mau jawab gimana. Lagi pula aku belum kepikiran buat punya pacar, aku lagi fokus sama kuliah terus fokus kerja udah itu saja mas. Mau buat orang tua bangga gitu, kalau masalah pacaran apa lagi ke jenjang berikutnya aku belum kepikiran."


" Kalau ada yang tiba tiba ngutarain cinta sama kamu, bakal di terima apa di tolak?"


" Mas Rama kok nanyanya gitu aku jadi tambah pusing mau jawab gimana. Soalnya belum pernah ada yang bilang cinta sama aku, dari SMA juga belum pernah yang namanya pacaran."


" Duh polos banget sih ni anak, tapi masa iya gadis secantik dia ga ada yang suka sih," batin Rama.


" Makasih ya mas, sudah mau repot repot antar Dita sampai kampus," kata Dita.


" Ga papalah sekali kali, lagian bosen di rumah ketemunya juga paling eyang sama Tesya mulu. Mau jalan jalan belum hafal daerah sini juga."


" Mas Rama mau langsung pulang apa mau kemana?"


" Aku nungguin kamu di sini ya boleh kan, nanti kalau aku pulang terus nyasarkan ga lucu," bohongnya.


" Ya udah deh aku langsung ke kelas ya mas,"pamit Dita.


" Oke, belajar yang rajin," kata Rama udah kaya menasihati adiknya.


Setengah jam berlalu Rama masih setia di kantin kampus nungguin Dita pulang. Beberapa mahasiswi tampak memperhatikan Rama yang asik membuat gambar dengan laptopnya.


Bahkan Rama membuatkan desain logo buat toko roti Tesya biar lebih menarik di lihat. Kadang ia tersenyum sendiri ketika melihat hasil karyanya jadi.


" Mas Rama," panggil Dita yang berjalan bersama ke dua temannya.


" Cie di tungguin sama pacar nih," kata salah seorang.


" Kok ga bilang bilang kalau punya pacar seganteng ini sih Dit."


" Sttt ngawur kalian, dia bukan pacarku. Kenalin ini mas Rama kakak sepupu mbak Tesya yang punya toko kue tempat aku kerja."


" Hay mas Rama," kedua teman Dita.


" Hay."


" Mas Rama mau pulang atau masih mau disini?" tanya Dita.


" Ya kalau kamu pulang aku pulanglah, kan aku disini nungguin kamu," jawabnya.


Seketika kedua temannya langsung menoleh dan melotot ke arah Dita. Sementara Dita hanya tersenyum melihat ekpresi kedua temannya itu.


" Maaf ya Ditanya aku ajak pulang, kalau masih mau ngobrol bisa kok kalian main ke tempat kerjanya. Oh iya sekarang Dita sudah jadi manager pemasaran loh," kata Rama.


" Aku pulang dulu ya, nanti sore aku janji ketemu kalian lagi buat kerjain tugas oke oke," pamitnya.


" Oke, tapi kamu hutang penjelasan sama kita," kata teman yang satunya.


" Ga ada yang perlu di jelaskan lagi, kan tadi sudah aku jelaskan."


" Ya udah kalau gitu nanti kerjain tugasnya di tempat kerja kamu saja, lumayan bisa sambil lihatin mas Rama yang ganteng itu."


" Iya iya, dah sampai jumpa nanti."


" Ayo Dit," ajak Rama.


" Iya mas."


" Nanti sore mau pergi lagi sama teman teman kamu?"


" Ga jadi mas, kata mereka tadi nanti mau kerjakan tugasnya di toko kue saja biar bisa sambil lihatin mas Rama."


Rama membelalakkan matanya.


" Eh emang aku kenapa kok meraka mau lihatin aku ?" tanya Rama basa basi.


" Kata mereka mas Rama ganteng, makanya mereka mau lihatin gitu."


" Duh nih anak, bikin gemes," batinnya.


" Dit kamu tahu mall deket deket sini ga?"


" Tahu mas, emang mas mau beli apa?"


" Adadech mau tahu saja kamu."


Di mall keduanya jadi pusat perhatian karena ketampanan Rama dan Dita yang ga kalah cantik.


" Dit, kamu tunggu di sini sebentar ya aku mau kedepan," ujarnya.


" Baik mas, tapi jangan lama lama ya. Soalnya aku harus kerja."


" Siap, pokoknya kamu jangan kemana mana," pamitnya. lalu ia berlari ke arah depan.