
Setelah mendaftar Tesya dan Kevin menunggu giliran di panggil.
" Kira kira yang siapa ya mas yang sudah tega menyiram kakiku tadi?"
" Mas juga kurang tahu sayang menurut pelayan lain anak tadi baru seminggu kerja di kantin. Tadi mas juga sudah minta data anak tadi, semoga cepat ketemu."
" Iya mas, padahal aku sama sekali ga kenal terus aku juga ga merasa punya musuh. Tapi kok ada yang sampai tega sama aku."
" Mungkin bukan musuh kamu sayang, tapi ada orang yang iri sama kamu saat ini. Mas harap kamu lebih berhati hati."
" Bisa jadi ya mas, tapi apa yang membuat mereka iri."
" Suamimu yang tampan dan mapan ini yang membuat mereka iri."
" Huuuhhh mas sukanya ke PD an."
" Ya kan bisa saja sayang, lagian kan banyak yabg suka sama mas, apa jangan jangan ada orang lain yang suka sama kamu."
" Ah udahlah mas ga usah menebak nebak, yang jelas kita harus lebih berhati hati lagi."
" Ibu Tesya,silakan masuk, panggil suster."
Kevin mapah Tesya masuk ke ruang periksa, membantunya merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Setelah tekanan darahnya di kontrol dokter mulai memeriksa luka pada kaki kiri Tesya.
" Gimana lukanya dok, tanya Kevin?"
" Tidak parah kok pak, bisa cepat pulih. Tadi sebelum kesini sudah di kasih obat apa?"
" Tadi sempat di kasih lidah buaya dok,jawab Tesya."
" Iya, lidah buaya bagus buat luka seperti ini, bisa menghilangkan bekasnya juga. Di usahakan jangan kena air dulu ya mbak biar cepat kering. Ini resepnya di tebus di apotik depan."
Di rumah Tesya hanya duduk di ranjang, Kevin melarangnya untuk melakukan aktivitas. Padahal luka di kakinya tak begitu parah, bahkan buat makanpun Kevin yang membawakannya ke dalam.
"Maaf mas Kevin, mbaka Tesya kenapa kok dari tadi tidak keluar kamar, tanya bi Mun yang menyiapkan makanan untuk Tesya?"
" Tadi pas di kantor ada yang sengaja numpahin air panas ke kakinya bi."
" Ya allah, kok tega sekali ya mas, tapi mbak Tesya ga papakan mas?"
" Ga papa kok bi, tadi sudah ke dokter juga. Oh iya saya sekalian makan di atas ya bi, kalau bibi sama pak Udin belum makan, makan di sini saja. Sayang kan kalau ga di makan."
"Terima kasih mas, ucap bi Mun."
Malamnya Tesya ga bisa tidur merasakan kakinya sedikit panas dan gatal. Ia membolak balikkan tubuhnya yang membuat Kevin terbangun.
" Kenapa sayang, tanya Kevin?"
" Kakiku rasanya panas perih gatal, di sini ada lidah buaya ga sih mas, tadi pas di kasih itu rasanya dingin enak."
" Coba mas cari dulu siapa tahu ada, kata Kevin lalu keluar dari kamarnya."
Di luar ada pak Udin dan bi Mun yang duduk di teras samping.Mereka berdua kaget melihat Kevin yang tiba tiba datang tanpa suara.
" Ada apa mas,tanya pak Udin?"
" Pak, disini ada yang nanam lidah buaya ga ya, soalnya mau buat obati kaki Tesya. Tadi sudah di kasih obat tapi rasanya panas kaya kebakar."
" Ada mas tapi di depan rumah kontrakkan saya dulu."
" Ya udah ayo pak kesana saya antar pakai motor, bi Mun tolong temani Tesya ya,ujar Kevin."
" Iya mas ,jawab bi Mun lalu ia pergi ke dalam."
Karena ga mau melihat istrinya kesakitan ia rela menembus dinginnya angin malam.