
Setelah sarapan Tesya di antar wawan menuju ke stasiun. Perasaannya masih tak karuan, padahal sama sekali tak ada yang mecurigakan debgan tinggkah laku suaminya tapi entah mengapa ia curiga.
Pagi inipun ia juga masih memberikan kabar, mungkin perasaan yang tak enak itu hanya rasa khawatir Tesya yang berlebihan saja. Tepat jam makan siang Tesya sampai di hotel tempat Kevin menginap bersama papa dan tim kerjanya.
Tesya merebahkan tubuhnya di samping Kay yang tidur pulas.
" Aku ini sebenarnya kenapa, padahal mas Kevin juga ga kenapa kenapa. Apa aku yang terlalu takut kehilangan dia sampai seperti ini rasanya, batin Tesya."
Hari menjelang sore setelah membersihkan tubuhnya Tesya mengajak Kay jalan jalan keluar menikmati senja di Jogja. Keduanya naik becak untuk berkeliling. Suasana Jogja yang selalu membuatnya rindu untuk kembali.
Tesya masuk di salah satu toko yang menjual pernak pernik lucu. Ketika sedang asik memilah milih barang yang hendak ia pilih, ia melihat sosok yang tak asing sedang melintas di depannya.
Ya siapa lagi kalau bukan Kevin suaminya, tapi dia tak sendiri melainkan bersama seorang perempuan yang usianya sebaya dengannya sedang asik bersendau gurau.
" *Ah mungkin itu rekan bisnisnya, batin Tesya*."
Tesya langsung kembali ke hotel karena sudah hampir malam, sebelum ke kamarnya ia pergi dulu ke resto untuk membeli beberapa makanan.
Sampai hampir jam 10 malam Kevin tak memberikan kabar, membuat Tesya bertanya tanya sedang apa suaminya. Apa iya sampai semalam ini masih sibuk bekerja. Tak mau ambil pusing Tesya memutuskan untuk tidur.
Sampai pagi harinya tak ada pesan satupun dari suaminya, Tesya mulai marah karena di cuekin sama Kevin sampai akhirnya ia jalan jalan tanpa membawa handphonenya.
Tesya dan Kayla pergi ke tempat rekreasi, mencoba melupakan kekesalannya dengan berswafoto. Dan ia kembali ke hotel ketika hari menjelang sore. Malampun tiba ia mencoba membuka handphonennya tapi masih sama seperti tadi pagi tak ada nama suaminya di semua pesan dan panggilan yang masuk.
Tesya mencoba menghubungi suaminya, beberapa kali ia mencoba panggilannya selalu sibuk, terakhir ia mencoba panggilannya sedang di alihkan. Rasa marah dan kesalnya semakin menjadi ketika ia keluar dari kamar untuk membeli popok sekali pakai. Tak jauh dari tempat Tesya belanja ia melihat suaminya sedang asik di sebuah toko perhiasan bersama perempuan yang kemarin ia temui. Betapa hancur hatinya sekarang, ia cepat cepat kembali lagi ke kamarnya. Karena kalau marah marah di tempat umum akan membuatnya malu.
Di dalam kamar ia menangis sejadi jadinya. Hancur sudah semua perasaannya, ia tak tahu lagi harus bagaimana. Ia mengemas pakaiannya dan berencana besok pagi pagi sekali ia akan kembali, tapi entah akan pulang kemana dia setelahnya.
" Maaf mbak bisa nitip anak saya sebentar, kata Tesya kepada salah satu pegawai resto."
"Iya mbak."
" Oh jadi ini yang katanya metting, bantuin papa kerja ninggalin anak istri di rumah.Jahat kamu mas, pantas saja dari awal mas berangkat persaannku sudah ga enak."
" Tesya, kamu salah paham sayang, teriak Kevin."
Tesya langsung pergi meninggalkan Kevin.Entah kebetulan atau keberuntungan Tesya tepat di depan lobby hotel ada taksi yang baru saja mengantar seorang penumpang.
"Stasiun ya pak, kata Tesya kepada supir taksi."
" Baik mbak."
Yang ada di pikiran Tesya bagaimana ia harus bersikap ketika bertemu dengan suaminya dan keluarganya yang lain dengan keadaan seperti ini.