
Di mall Tesya dan Kevin mengajak asistant rumah tangganya berkeliling mencari toko yang sesuai dengan apa yang mereka butuhkan.
Dua jam berlalu Tesya beserta rombongan keluar dari dalam mall dengan membawa beberapa paperbag. Tesya bahagia bisa membuat orang di sekitarnya tersenyum.
" Saya sama Tesya mau langsung ke rumah mama, kemungkinan pulangnya agak malam. Nanti bi Mun ga usah masak ya, kami mau makan di rumah mama. Dita di pantau ya tokonya, kalau ada apa apa langsung hubungi kami, ujar Kevin."
Semuanya menganggukkan kepala tanda paham dengan yang di maksud majikannya. Di parkiran mereka berpisah.
" Sayang, kamu kenapa kok gelisah gitu?"
" Capek mas, habis keliling tadi."
" Ya udah , tidur saja dulu nanti kalau sudah sampai di rumah mama aku bangunin."
" Ga ah mas, dari sini ke rumah mama cuma 20 menit. Kalau cuma sebentar bikin pusing. Nanti aja pas di rumah mama tidurnya lagian di sana sampai sore juga."
" Kalau gitu temani mas ngobrol saja biar ga ngantuk."
" Mas, gimana kelanjutan hubungan Intan sama pak Arda? Lama aku ga dengar kabar mereka berdua."
" Gimana ya sayang, mas juga binggung soalnya mereka udah ga dekat lagi. Setiap istritahat Arda makan bareng sama mas, terus kalau Intan ga tahu makan dimana?"
" Lia juga ga pernah cerita lagi soal Intan, kata Lia sekarang Intan jadi pendiam."
" Sudahlah sayang kita ga perlu ikut campur urusan mereka. Lagian mereka sudah sama sama dewasa pasti bisa menyelesaikan masalahnya. Nanti kalau kita ikut ikutan dikira sok tahu."
" Iya mas, tapi tetap aja kepikiran."
" Jangan terlalu di pikirkan, nanti kalau kamu setres kan kasihan dedek yang ada di dalam."
Tesya tersenyum mendengar nasehat suaminya. Sekarang ia benar benar beruntung memiliki suami yang penyayang dan bisa memahaminya walaupun kadang ia masih suka kaya anak kecil.
" Kok mandangi mas kaya gitu ada apa?"
" Ga papa kok mas, cuma bersyukur saja punya suami seperti mas yang baik, pengertian sayang sama aku."
" Hemm baru sadar ya kalau selama ini mas baik.Tapi kenapa ya dulu di tolak padahal mas yakin kamu sebenarnya udah naksir sama mas."
" Ihh siapa yang bilang, padahal aku dulu itu benci banget sama mas. Soalnya perintah suka seenaknya sendiri."
" Tapi sekarang masih benci ga sama mas?"
" Mana bisa benci sama mas, orang apa apa yang aku minta selalu di turuti. Terlebih lagi rasa sayang mas itu buat luluh."
" Ah masa sih, goda Kevin."
" Yakin begitu?"
" Kalau ga percaya ya udah."
"Tuh kan langsung ngambek, bikin gemes aja sih kamu, kata Kevin sambil mencubit gemas pipi istrinya."
" Aw sakit mas."
" Maaf maaf, senyum dong jangan cemberut gitu."
Saking asiknya bercanda sampai ga sadar kalau gang rumah mamanya kelewat.
" Gara gara kamu kih jadi kelewatan kan."
" Tadi udah minta maaf kok mulai lagi sih mas."
" Ya habis udah lama mas ga bercanda sama kamu. Kita sama sama sibuk dengan kerjaan.Pokoknya nanti kalau dedek bayinya sudah lahir kamu ga boleh sibuk kerja."
" Kalau big bos udah bilang gitu mau ga mau ya harus nurut"
Sudah hampir sebulan Tesya tidak berkunjung ke rumah mamanya karena sibuk san kakinya juga baru baikan. Di halaman tampak papanya sedang mengurus taman.
" Papa, teriak Tesya dan memeluknya."
" Anak papa udah mau jadi seorang mama kok masih suka manja gini."
" Iya tuh pa, kalau di rumah juga gitu, sambung Kevin."
" Habis kangen sama papa, kok papa ga kekantor?"
" Papa tadi malam baru pulang dari Surabaya masih capek kalau mau ke kantor."
" Mama sama Tya dimana pa?"
" Mama ada di dalam kalau Tya jam segini belum pulanglah dari sekolah.Ayo masuk mama pasti senang lihat kalian datang,ajak papanya."
Begitu masuk dan melihat mamanya Tesya langsung berhambur ke pelukannya. Walaupun ia sudah menikah tempatnya bermanja dan tempat yang selalu di rindukan adalah pangkuan dan belaian lembut tangan mamanya