I LOVE YOU BOSS

I LOVE YOU BOSS
147 # BAB 147



Beberapa kantong oleh oleh ada di tangan Tesya. Ia juga tak lupa beli untuk yang lainnya.


" Loh banyak banget beli apa saja sih, tanya Kevin keheranan melihat kantong yang di bawa istrinya?"


" Masa aku tega sih mas cuma belikan kak Sita, sedangkan di rumah ada pak Udin ada bi Mun, Dita, ada Wawan juga. Kan anak anak toko juga tahu kalau kita liburan walaupun gagal. Ada buat pak Arda dan yang lainnya juga."


" Hedehh semua emak emak sama ya kalau pergi suka kalab beli oleh olehnya. Berangkat bawa satu 2 kopor pulangnya jangan nanya, ledek Kevin."


" Hehehe habis ga bisa aku kalau pilih kasih. Kalau kasih satu ya kasih semua kalau ga satu ya ga semua. Ini saja mama papa Tya ga aku belikan soalnya mereka habis liburan juga disini."


" Sayang kita jalan sekarang saja yuk dari pada besok, iya kalau ga kesiangan kalau kesiangan kan repot."


" Boleh, aku dulu yang bawa mobil mas tidur dulu nanti kita gantian."


" Tapi ini udah malam loh sayang, biar mas saja."


" Masih jam 10 kok, nanti kalau sama sama ngantuk kita berhenti di rest area."


" Oke dech kalau begitu."


Malam ini Tesya yang pegang kemudi Kevin tidur di sampingnya, Kay ada di jog belakang dengan kasurnya. Perlahan tapi pasti mobil Kevin berjalan keluar dari Jogja. Dua jam berlalu kini tepat tengah malam mata Tesya sudah tak bisa di ajak kompromi akhirnya dia memilih ke berhenti di pom bensin untum memejamkan matanya tanpa membangunkan Kevin.


Suara adzan subuh berkumandang membangunkan Kevin dari tidurnya.


" Ini dimana, batin Kevin ketika ia membuka matanya."


Lalu ia melihat sekeliling untuk memastikan dia ada dimana.


" Sayang bangun, kamu pindah gih biar aku yang bawa mobilnya."


Setelah mandi dan sholat Kevin mulai melajukan mobilnya.


" Mas belok sarapan dulu yuk lapar nih, pinta Tesya."


Kini mereka singgah ke sebuah warung pinggir jalan untuk mengganjal perut sebelum melanjutkan perjalanan.


Tepat pukul 07.00 Kevin sampai di kantornya ia merebahkan tubuhnya karena benar benar capek. Tesya langsung ke kamar mandi untuk memandikan Kay.


" Mas bantuin pakaikan Kay baju dong, aku mau mandi juga biar nanti kalau kliennya datang aku udah rapi."


" Wihhh udah rapi saja nih, kata Arda yang baru datang."


" Ahh gara gara pak Arda liburannku gagal nih semalaman tidur di mobil bikin mata aku jadi kaya panda, omel Tesya."


" Ya mau gimana lagi."


" Itu di luar, nunggu Lia katanya."


Tesya berlari menuju ke Lobby mencari sahabatnya.


" Intan Lia, kangen teriaknya."


" Masuk yuk kita ngobrol di dalam mumpung masih sepi, ajak Tesya."


" Ga percaya bisa masuk sini lagi, kata Lia sambil melihat sekeliling. Padahal baru beberapa bulan keluar kok udah beda ya."


" Ih ini itu gara gara pak siapa itu loh aku lupa kita jadi harus kerja lagi padahal udah keluar. Tapi bonusnya sayang kalau ga di ambil bisa buat tambah tambah beli popok, jelas Tesya."


" Iya kemarin aku juga kaget pas mas Arda pulang terus bilang kalau di suruh ngantor lagi."


" Apalagi aku, tapi ga tahu kenapa aku merasa langsung sehat gitu pas pak Arda kasih kabar kalau hari ini ke kantor, biasanya jam segini masih lemes banget


habis bolak balik ke kamar mandi."


" Sya, tapi ga papa kita bawa bayi ke ruang metting,tanya Intan."


" Ya nanti biar mas Kevin bilang sama kliennya. Lagian nanti kita ketemunya sama mereka habis makan siang kok, jam segitukan jam bayi tidur jadi aman."


" Dari Jogja jam berapa Sya, jam segini sudah sampai kantor saja."


" Kemarin rencananya habis subuh mau jalan, tapi kalau jam segitu ga keburu akhirnya sekitar jam 11 berangkat tapi sekitar jam 1 malam aku belok pom terus tidur, subuhnya baru lanjut jalan."


" Gitu itu Li, di bela belain mati matian liburannya gagal buat kejar uang popok, goda Intan."


" Liburan bisa lain kali Tan, kalau bonus gede di depan mata kan jarang jarang."


" Tan, kapan kamu nikah sama pak Arda, tanya Lia?"


" Secepatnya Li, ini surat surat juga baru selesai. Ya tapi ga mungkin ada pesta paling cuma undang teman sama keluarga saja."


" Ga ada pesta ga papakan Tan yang pentingkan sah secara hukum dan agama."


" Iya Li, doakan saja biar secepatnya aku sama mas Arda sah."


" Doa terbaik untukmu sayang, kata Tesya lalu memeluk tubuh sahabatnya."


" Pokoknya kita tetap sahabatan seperti ini walaupun jarang ketemu, kata Lia yang mulai melow."


" Hayo ga boleh sedih sedihan sekarang kita fokus ke kerjaan biar bonus yang besar itu mendarat dengan cantik di rekening kita, ujar Tesya."