
" Waw... pilihan yang tepat warna dan ukurannya juga pas,kata pemilik butik."
" Tapi aku maunya yang warna putih terus assesorisnya di sesuaikan saja,kata Tesya."
" Oke,kalau kamu mau yang gimana Vin."
" Aku ikut saja gimana bagusnya,biar serasi saja,ukurannya masih yang lama,jelas Kevin."
" Siap semua oke, 3 hari lagi kesini ya di cek dulu. Siap kerja lembur ini Vin."
Kevin dan Tesya berpamitan keduanya melanjutkan perjalanan. Mereka mencari perlengkapan hantaran mulai dari seperangkat alat solat,tas, sepatu,baju dan masih banyak lagi. Dan terakhir mereka singgah di sebuah toko pembuat hataran pernikahan.
" Sya,udah jam makan siang kita makan dulu ya,ajak Kevin."
" Iya,tapi cari yang dekat sama kantor soalnya aku capek,jelas Tesya."
" Iya di caffe yang biasa saja gimana, tanya Kevin."
Tesya hanya mengganggukan kepala tanda setuju.Kebetulan caffe yang mereka maksud tidak begitu jauh dari tempat mereka sebelumnya.
Sambil menunggu makanan datang Kevin kembali bertanya kepada Tesya buat memastikan kesediannya menjadi istrinya.
" Sya, sampai detik ini apa kamu sudah yakin menerima aku menjadi suamimu."
" Insyaallah yakin tapi aku masih harus belajar mencintai mas seperti mas mencintai aku,jawab Tesya."
" Terima kasih ya Sya udah mau jadi istriku walaupun semuanya terkesan mendadak tapi mas yakin kita bisa cepat beradaptasi. Soal nanti kedepannya bagaimana kita saling belajar saja. Mas juga bakal sabar menunggu kamu sampai siap lahir batin."
" Mas ga usah khawatir soal kesepakatan kita kemarin, kata pak Arda kalau nolak ajakan suami buat begitun itu dosa,jawab Tesya dengan polosnya."
Tesya belajar membuka hatinya bahkan ia juga sudah siap untuk melaksanakan tugasnya sebagai seorang istri.
Ketika sedang asik ngobrol di depan caffe tampak ada Intan dan Lia yang sedang berjalan masuk. Melihat itu Tesya jadi panik kalau mereka katahuan selesai sudah. Dengan cepat Tesya mengajak Kevin pergi meninggalkan caffe lewat jalan samping.
Tesya dan Kevin sampai di parkiran kantor.Kevin cepat cepat berpamitan sama Tesya sebelum ada orang yang tahu,apa lagi kalau sampai Rasti tahu.
" Mas pergi dulu jaga diri, kalau ada apa apa jangan lupa kasih kabar,pamit Kevin."
" Iya mas hati hati di jalan kalau sudah sampai kasih tahu,kata Tesya."
Tesya mencium punggung tangan Kevin dan Kevin sendiri mencium kening Tesya.Kevin tersenyum melihat Tesya yang terus memejamkan matanya.
" Alhamdulillah belum pada balik,kata Tesya sambil mengelus dadanya."
Beberapa jam sebelumnya Intan dan Lia binggung nyari Tesya. Di telpon ga di angkat kirim pesan sampai puluhan kali ga ada satupun yang di balas.
" Woy.... teriak Intan begitu melihat Tesya."
" Senyam senyum sendiri sambil pegang jidat, habis kejetot,sambung Lia."
" Dari mana aja sih Sya bikin panik aja,tanya Intan."
" Memang pak Arda ga bilang aku kemana,Tesya balik bertanya?"
" Pak Arda dari pagi sibuk ngurus mantannya pak Kevin yang bikin ulah lagi, sampai kakaknya pak Kevin datang kesini, jawab Lia."
" Terus sekarang orangnya dimana,tanya Tesya?"
" Tadi sih masih di ruangan pak Kevin,emang kenapa Sya,kata Intan."
" Ga papa nanya aja,jawab Tesya."
" Tadi di tanya dari mana kok malah jadi bahas yang lain sih,kata Lia."
" Dari ambil berkas keputusan meeting kemarin. Tadi mereka bilang kalau akan memperpanjang kontrak dengan kita kalau hasil desain yang mereka mau bisa kita berikan,jelas Tesya."
" Wah kalau gini tambah semangat nih,kata Intan dan Lia bersamaan."
Jam istirahat usai Tesya menata beberapa berkas dan akan di berikan ke bosnya.Hatinya tak karuan takut kalau dia bertemu dengan Rasti di sana.
" Semoga ga ketemu Rasti ,kata Tesya mencoba menenangkan hatinya. Toh kalau bertemupun Rasti ga akan tahu kalau dia tungangannya Kevin."