I LOVE YOU BOSS

I LOVE YOU BOSS
124 # BAB 124



 


" Selamat pagi semua, sapa Kevin ketika ia sampai di kantor."


" Pagi pak, selamat ya pak atas kelahiran putrinya , kata salah seorang karyawannya."


 


"Terima kasih silakan lanjutkan pekerjaannya lagi, ujar Kevin."


 


" Wih ada papa baru datang, sapa Arda."


" Hahaha, iri bilang bos."


" Woy yang bos kan elu bukan aku, ya jelas saja aku iri, ah bercandamu garing banget sih."


 


"Haha biarin, jadi metting jam berapa Da?"


" Habis jam makan siang, tapi itu banyak berkas yang harus kamu tanda tangani. Makanya aku suruh kamu berangkat cepat cepat."


" Oke, kenapa itu muka cemberut bukannya habis gajian, bonus juga gede masih aja di tekuk tu muka."


 


" Kerjaan oke, rumah ada,mobil punya, duit lumayan tapi kalau ga ada pendamping sama aja bohong Vin."


 


" Lah emang kamu sama Intan gimana?"


 


" Intan ngejauh terus Vin, sekarang ga tahu tinggal dimana. Kalau di kantor aku temui selalu menghindar. Sampai binggung mesti gimana."


 


"Kamu ga coba nanya sama Lia, mungkin saja tahu ada apa sama Intan."


 


" Lia juga ga tahu Vin,udah beberapa kali aku tanya sama dia hasilnya sama aja. Kata Lia, Intan sekarang jadi pendiam jarang ngobrol sama dia."


 


" Lagi ada masalah kali Da, pokoknya kamu dekati lagi tanya baik baik ada apa jangan diam diaman kaya gini kasihan dia. Mungkin dia butuh teman ngobrol, tapi binggung mau cerita sama siapa."


" Tahulah Vin gua binggung mau gimana."


" Ah kamu Da selalu kaya gitu kalau di kasih saran."


Kevin melanjutkan pekerjaannya, sedangkan Arda keluar menemui Intan dan Lia di ruanganya.


" Hai Li, Intan mana kok kamu sendirian?"


" Ada perlu sama Intan, tolong sampaikan sama dia kalau sudah kembali suruh ke ruangan sebentar."


" Baik pak, nanti saya sampaikan sama Intan."


 


Lima menit berlalu Intan tampak masuk lagi ke ruangannya. Kedua sahabat itu hanya diam tanpa ada tegur sapa. Intan seolah mengunci mulutnya rapat rapat dan sama sekalu tak bicara dengan sahabat sekaligus rekan kerjanya. Sekalinya bicara hanya sebatas bertanya soal pekerjaan.


" Intan, tadi pak Arda kesini terus pesan sama aku kalau kamu sudah kembali di minta langsung ke ruangannya,kata Lia."


" Makasih ya Li, kalau gitu aku ke ruangan pak Arda dulu."


 


Ruangan Arda


"Permisi pak, maaf ada apa mencari saya, tanya Intan?"


" Duduk dulu Tan, maaf sebelumnya ini ga ada hubungannya sama masalah pekerjaan. Jadi gini aku mau tanya, sebenarnya ada apa kok kamu sekarang menjauh dari saya? Apa saya punya salah atau ada kata kata saya yang menyakitimu?"


 


" Tidak kok pak, bapak ga ada salah sama saya, hanya saja saya ada masalah keluarga. Maaf kalau tiba tiba saja saya menjauh toh hubungan kita juga ga bisa di lanjutkan karena terhalang restu orang tua. Lebih baik bapak cari wanita lain yang orang tuanya merestui hubungan bapak."


 


" Jangan bilang kaya gitu dong Tan, bagaimanapun keadaanya sekarang ayo kita sama sama berjuang agar kedua orang tuamu memberikan restunya kepada kita. Jujur kalau aku aku harus berpisah sama kamu ga bisa Tan."


" Bapak kan tahu bagaimana kemarin bapak di tolak jadi kalau mau majupun rasanya tetap susah. Aku mohon sama bapak untuk belajar melupakan saya dan membuka hati untuk yang lainnya. Maaf pak saya permisi mau kembali ke ruangan, pamit Intan."


"Tunggu Tan, panggil Arda."


" Ada apalagi pak kan saya sudah jelaskan semuanya."


 


Arda langsung memeluk Intan, tak peduli kalau mereka sedang ada di kantor. Rasa rindu yang sudah lama tersimpan kini terobati dengan bisa memeluk orang yang dia cintai. Yang ia harapkan bisa seperti ini terus tapi apalah daya restu dari orang tua yang tak kunjung mereka dapatkan.