
~ Perjalanan Pulang.~
" Selamat ya kak, akhirnya setelah penantian panjang, kata Tesya lalu memeluk kakanya."
" Iya Sya, kakak malah ga nyangka kalau hamil. Soalnya kan kamu tahu sendiri jadwal datang bulan kakak ga teratur kadang maju kadang mundur."
" Pasti bang Vano bakal seneng nih mendengar berita ini. Papa sama mama juga pasti seneng banget."
" Makasih ya Sya, walaupun kamu adik ipar tapi perhatian kamu dan sayang kamu ke kakak sidah kaya suadara kandung. Kevin beruntung punya kamu Sya."
" Ah kak Sita jangan muji kaya gitu. Kakak pulang ke rumah aku dulu ya, kalau di rumah kan kakak sendirian ga ada yang urus nanti sore biar di jemput sama bang Vano. Kalau ga kakak tinggal saja di rumah aku untuk sementara waktu biar kalau siang ada yang jagain."
" Ga usah repot repot Sya, kan ada bibi di rumah."
" Ayolah kak, biar kalau siang aku ada temannya di rumah, bujuk Tesya. Biar nanti aku yang minta ijin sama bang Vano kak."
" Iya dech terserah kamu saja Sya, kata Sita menyerah."
Sore harinya ketika Kevin pulang ia tak menjumpai istri dan anaknya di kamar. Ia tampak ke binggungan mencari keduanya.
" Bi, Tesya sama Kayla dimana kok di kamar tidak ada."
" Di kamar bawah mas, menemani mbak Sita yang baru sakit."
" Makasih ya bi, kata Kevin lalu pergi ke kamar bawah."
Ketika hendak mengetuk pintu kamar Tesya terlebih dulu keluar.
" Katanya ada metting sampai malam mas kok udah di rumah?"
" Mettingnya di tunda sayang karena kliennya sakit. Tadi kata bi Mun kak Sita sakit ya, gimana keadaannya sekarang? Bang Vano sudah tahu belum?"
" Kak Sita baik baik saja kok cuma harus istirahat total sampai keadaannya benar benar pulih. Keatas yuk mas nanti aku ceritain."
" Sini Kay biar papa yang gendong, pinta Kevin."
Baru saja nempel ke tubuh papanya Kayla langaung terlelap.
" Dari tadi di kelonin ga tidur di gendong juga ga tidur giliran nempel papanya langsung merem. Selembut bantalkah tangan papamu nak, kata Tesya."
"Kayla kan anak pinter ya sayang tahu kalau papanya pulang itu waktunya gantian main sama mama."
" Huss di depan anak jangan macem macem."
" Siapa yang mau macem macem sih sayang. Cerita dong kak Sita kenapa bikin penasaran saja."
Tesya tak menjawab dengan mengelus elus perutnya. Kevin binggung dengan tinggkah istrintnya itu.
" Mas ga ngerti maksud kamu sayang, tinggal bilang apa susahnya sihh, kata Kevin gemas."
" Kak Sita hamil mas, karena kandungannya lemah makanya harus istirahat total."
Kevin berdiri mendekati istrinya dan membisikkan kata " Gimana kalau kita kasih adik buat Kayla kayanya bakal seru nih."
" Jangan teriak teriak sayang nanti Kayla bangun."
" Habisnya mas suka gitu sih, usia Kayla baru 5 bulan mas masa iya mau punya adik. Aku masih ngeri mas kalau ingat rasanya kontraksi. Kalau mas sih iya saja orang ga ngerasain hamil sama melahirkan."
" Bercanda sayang mana aku tega sih sama kamu.Biar Kay besar dulu sayang kasihan kalau kasih sayangnya terbagi."
" Udah sana mas mandi dulu terus aku tunggu di bawah buat makan, ujar Tesya."
Tesya ke dapur membuatkan kopi untuk Kevin dan menyiapkan makanan. Tak lupa ia menyiapkan makanan beserta susu untuk kakaknya.
" Bang Vano belum kesini ya,terus itu makanan mau di bawa kemana, tanya Kevin."
" Belum mas, tadi sih sudah aku kasih kabar kalau kak Sita sakit terus istirahat di sini. Ini buat kak Sita mas siapa tahu sudah bangun kasihan mukanya pucet banget."
" Sini mas yang bawain sampai kamar."
" Sya, Vin mana Sita katanya dia sakit, kata Vano yang baru datang."
" Kak Sita baru istirahat di kamar bang, ga usah khawatir kak Sita baik baik saja kok cuma harus istirahat total, yuk ke kamar."
Tesya, Kevin dan Vano berjalan beriringan menuju ke kamar di man Sita tidur. Betapa terkejutnya Vano ketika mendapati istrinya lemah tak berdaya di atas kasur.
" Jangan di bangunkan bang, biar istirahat dulu, ujar Tesya."
" Sebenarnya Sita sakit apa sih Sya, perasaan tadi pagi sehat sehat saja pas abang mau berangakat ke kantor."
" Nanti biar kak Sita saja yang jelasin, aku ga ada wewenang buat kasih tahu jelas Tesya."
Mendengar ada suara suaminya perlahan Sita membuka matanya. Ia mengumpulkan tenaganya untuk bangun.
" Pelan pelan kak, sini aku bantu, ujar Tesya."
" Makasih ya Sya."
" Gimana keadaan kamu sayang baik baik saja kan. Apa yang kamu rasakan , mana yang sakit biar abang pijit."
" Bang Vano kalau lagi panik lucu, jangan tanya mana yang sakit karena semuanya sakit. Ini semua gara gara kamu bang ,kata Sita."
" Kok bisa gara gara aku sih , orang tadi pagi ga aku apa apain kok. Kamu ada ada saja dech sayang. Sebenarnya kamu ini kenapa jangan bikin aku panik sekaligus binggung ginilah."
Melihat kakak dan kakak iparnya bercanda membuat Tesya dan Kevin tersenyum geli. Dan keduanya memilih untuk keluar dari kamar tak mau mengganggu romantisme keduanya.