I LOVE YOU BOSS

I LOVE YOU BOSS
114 # BAB 114



 


Tesya mulai sibuk menata kamar calon buah hatinya. Setiap hari dari pagi setelah Kevin berangkat kerja sampai nanti pulang kerja Tesya masih stay di kamar itu.


Setelah mengantar suaminya sampai ke depan pintu, Tesya langsung menuju ke kamar. Ia menata beberapa perlengkapan buat melahirkan nanti. Tiba tiba di kagetkan dengan kedatangan Sita kakak iparnya yang menjatugkan tubuhnya di atas kasur.


" Kak Sita ngagetin saja, ada apa kok cemberut gitu, lagi marahan sama bang Vano?"


Tanpa menjawab Sita menunjukkan testpack sambil menggelengkan kepalanya.


" Sabar kak, baru satu setengah bulan kok jangan sedih gitu donk. Kakak hatus semangat, bang Vano sudah tahu belum kak?"


" Sudah Sya, tapi aku sedih. Keluargaku banyak yang sudah nanya ini itu."


" Itu sudah hal biasa kak, kalau kakak mau aku punya susu buat nabung asam folat. Dulu awal nikah di beliin sama mas Kevin, kayanya masih dua dus belum ke buka. Sebentar kak aku ambilkan ya,ujar Tesya."


Tesya merasa kasihan sama kakak iparnya, yang sudah menginginkan buah hati. Terus di tambah lagi keluarga besarnya juga sudah tak sabar.


" Ini kak susunya, tanggal kadaluarsanya masih lama kok, kakak jangan sedih apalagi sampai setres."


" Makasih ya Sya, semoga dengan ini kakak bisa cepat hamil kaya kamu. Halo sayang kamu di dalam baru apa,kata Sita sambil menggelus perut Tesya."


Seketika perut Tesya bergerak tanda anaknya merespon ucapan budhenya.


" Anak pintar, ihh gemas rasanya pengen cepat cepat punya sendiri."


" Kak Sita semangat terus pokoknya, semoga cepat di kasih momongan."


" Amin Sya, ngomong ngomong kok sudah packing baju memang kapan HPLnya?"


"Pertengahan bulan depan kak, makanya aku udah siap siap kata dokternya bisa maju bisa juga mundur."


 


"Jalan yuk Sya biar ga suntuk di rumah ke mall gitu."


" Ayo tapi aku ijin sama mas Kevin dulu ya kak."


" Oke, kakak juga siap siap dulu nanti kakak jemput."


Rumah Tesya dan Sita yang hanya beberapa meter memudahkan mereka untuk ketemu. Walaupun sama sama ikut suami tapi keakraban mereka bak saudara kandung padahal baru beberapa bulan ketemu.


Bagi Sita, Tesya adalah teman cerita yang paling asik, walaupun usianya lebih muda darinya tapi selalu nyambung kalau di ajak cerita.


 


Dertt.... derrrttt...derrrt...handphone Kevin bergetar.


 


" Mas aku jalan jalan sama kak Sita ya."


 


" Iya sayang, hati hati ya.Ingat jangan capek capek."


" Baik mas, sudah dulu ya aku mau siap siap, takutnya kak Sita sudah menunggu."


" Iya sayang."


" Mbak Tesya,itu sudah di tunggu, panggil bi Mun."


 


Tesya keluar dari kamarnya dan menemui kakaknya yang ada di depan. Kali ini mereka benar benar berdua tanpa supir.Membuat mereka asik cerita.


" Sya, setelah kamu menikahkan stay di rumah bosen ga sih?"


 


" Awalnya sih bosen kak makannya aku buka toko kue, tapi sekarang sudah biasa sih kak. Toko kuenya aku percayain sama Dita kalau cattringnya tetap mama yang pegang. Aku tinggal fokus ke lahiran saja sih kak, ga boleh capek capek sama mas Kevin sih."


" Terus aku mau buka usaha apa ya Sya, biar ga bosen."


" Kayanya bang Vano ga bakal ijinkan kakak buat usaha deh."


" Yah kalau ga boleh usaha terus aku sekolah sampai luar negeri buat apa dong."


" Buka butik aja kak di samping toko kue aku kan dekat tuh dari rumah. Lahannya juga masih luas kok."


" Ide bagus tuh nanti aku coba bilang dulu sama bang Vano semoga saja boleh."


" Kakak mau beli apa nih, tanya Tesya ketika mereka sampai ke mall?"


" Ayo kamu ikut saja, ajak Sita yang masuk ke toko pakaian."


Tesya hanya mematung melihat kakaknya belanja banyak pakaian. Entah mengapa ia sama sekali tak tertarik untuk membeli satu potongpun baju yang ada di sana.


" Sya, kok benggong yakin kamu ga mau beli apa apa?"


" Ga kak, aku cuma lapar. Makan yuk kak udah ga ketahan nih."


" Oke tunggu sebentar ya aku bayar dulu, ujarnya."


Sita sudah terbiasa menghilangkan rasa bosannya dengan belanja, makanya koleksi pakaiannya luar biasa banyakknya.Sampai ia binggung mau taruh dimana.