I LOVE YOU BOSS

I LOVE YOU BOSS
70# BAB 70



 


Intan dari pagi tapak murung , tak ada senyum yang mewarnai wajahnya. Tesya yang sibuk sama pekerjaannya sampai tak sempat memperhatikan sahabatnya.


 


Sampai jam istirahat saat Tesya hedak mengajak makanpun Intan masih diam dan wajahnya murung.


" Mau makan di bawah apa mau delivery Tan,tanya Tesya?"


Intan masih saja diam kepalanya disandarkan di atas meja. Akhirnya Tesya memesan makanan buat berdua.


" Sya, kata pertama Intan setelah setengah hari diam."


" Iya, ada apa Tan, jawabnya sambil menggeser tempat duduknya mendekat."


" Nanti malam gimana, aku binggung?"


" Emang kamu belum bilang sama papa mamamu kalau pak Arda mau kesana."


" Belum Sya aku ga berani, jawabnya dengan mata mulai berkaca kaca."


" Terus?"


 


" Ga tahu aku Sya, jujur aku binggung harus gimana,jawab Intan sambil menangis."


 


" Sabar ya sayang semoga papa mamamu bisa nerima pak Arda dengan baik."


" Makasih ya Sya udah di kasih semangat."


" Iya ,sama sama kita saling menguatkan ,jawab Tesya."


Saat keduanya sedang berpelukan di kejutkan dengan datangnya abang ojol dengan sekantong penuh makanan.


" Makan dulu Tan biar ga lemes, tadi udah aku pesenin."


 


" Hemmm makasih ya Sya kamu baik dech ,jawab Intan dengan muka yang sudah berubah sedikit tenang."


Sore hari ketika jam pulang kantor wajah Intan kembali murung , sepertinya ia enggan buat pulang.


 


"Di jemput Sya?"


 


" Iya Tan kenapa? Mau bareng?"


" Ga Sya, aku bawa mobil kok.Duluan ya Sya."


" Iya, Tan hati hati."


 


Tesya masih menunggu Kevin sambil mengecek media sosialnya. Dari jauh Kevin memperhatikan Tesya yang sedang asik dengan dunianya.


 


" Tak habis pikir aku bisa jatuh hati perempuan seperti Tesya yang awalnya sama sekali tak bisa menerima aku. Tapi kini ia mulai menikmati semuanya, status baru dalam hidupnya,gumam Kevin sambil berjalan mendekati Tesya."


 


" Ayo sayang , ajaknya."


" Ayo mas, kok sendirian? tanya Tesya."


" Arda sudah duluan kok, katanya mau ada acara gitu."


" Jangan terlalu mikir berat sayang kasian dedeknya nanti ikut setres."


" Iya mas, eh iya sabtu besok jadwal ke dokter, mas bisa anterkan."


" Bisa ga bisa ya harus bisalah sayang mas kan pengen lihat dedek juga."


Tesya bahagia melihat suaminya berantusias menghantarkan ke dokter.


 


Sementara di rumah, Intan mondar mandir di dalam kamarnya, hatinya gundah, pikirannya melayang menerawang jauh.


 


Sifat kedua orang tuanya yang kolot membuat kakaknya sampai sekarang masih sendiri. Bahkan kakaknya tidak lagi tinggal bersama.


Sesuatu hal yang besar membuat kakaknya pergi meninggalkan keluarganya dan membuat Intan trauma berat.


Pukul 19.00 Intan mendengar suara mobil berhenti di halaman rumahnya. Arda tampak keluar dari mobilnya. Melihat itu semua keringat dingin Intan membasahi tubuhnya.


Ting ...... tong .......ting ........tong suara bel rumah Intan berbunyi. Intan menjadi lebih gugup dan panik.


" Selamat malam , mau mencari siapa, tanya seorang perempuan setengah baya."


" Selamat malam, Intannya ada?"


"Oh mbak Intan? Ada silakan masuk mas, ujar perempuan tadi."


Dalam hatinya bertanya tanya kok masih ada teman laki laki non Intan yang berani datang kesini. Apa dia belum tahu dengan sikap dan sifatnya bapak sama ibuk.


Semenjak kepergian non Aura sampai saat ini belum ada lagi teman laki laki yang bertamu.


Tok....tok... tok suara pintu kamar Intan di ketok.


" Iya , ada apa bi,jawabnya dari dalam."


" Non itu di depan ada temannya."


" Iya bi, suruh tunggu sebentar saya habis ini keluar."


 


Di ruang tamu Arda melihat sekeliling, perasaannya campur aduk tak karuan.


 


" Pak Arda, sapa Intan."


Arda tersenyum begitu melihat Intan keluar. Hatinya sedikit tenang.


" Tan, papa mamamu mana,tanya Arda."


" Sebentar,aku panggilkan dulu jawan Intan dengan tubuhnya gemeteran."


" Pa, ma ada yang mau bertemu, kata Intan."


 


Hemmmm, papanya hanya berdehem dan berjalan menuju ke ruang tamu.Begitu kedua orang tua Intan keluar Arda mengulurkan tangaannya dan langsung mencium punggung tangannya.


" Silakan duduk, ada perlu apa mencari saya?tanya papa Intan."


 


" Jadi begini om saya datang dengan maksud meminta Intan buat menjadi istri saya."


" Hah apa kamu bilang , seru mama Intan!"