
Hari ini Kevin dan Tesya masih santai menikmati sarapannya. Kevin yang masih memakai kaos oblong dan celana pendek sedangkan Tesya masih menggunakan sragam khas ibu ibu yaitu daster.
" Mas Kevin tidak ke kantor tanya bi Mun?"
" Tidak bi, bos besar minta di antar beli baju,ledek Kevin."
Bi Mun hanya mengganggukan kepalanya tanda ia mengerti.
" Bi tolong panggil pak Udin sama Dita sekalian ya, ada yang mau aku bicarakan."
" Iya mas, saya panggilkan."
Hati bi Mun mulai gelisah, ia takut kalau di antara keluarganya ada yang melakukan kesalahan karena sepagi ini bosnya sudah memintanya menghadap.
" Pak, ada apa ya kok sepagi ini mas Kevin minta kita datang menghadap, kata bi Mun kepada suaminya."
" Bapak ga tahu bu, perasaan kita kerja juga ga menyalahin aturan. Apa jangan jangan kamu Dita yang melakukan kesalahan di toko."
" Jangan bikin Dita takut pak, perasaan Dita kerja juga sesuai arahan mbak Tesya kok."
" Ya sudah, ayo kita temui mas Kevin. Kita berdoa saja semoga tidak ada apa apa."
Ketiganya berjalan beriringan menuju ke meja makan dimana Kevin dan istrinya berada.
" Pak Udin,bi Mun dan Dita mari sarapan bersama, ajak Kevin."
" Ah ga usah mas, kami bisa makan di rumah, kata pak Udin."
" Jangan menolak rejeki pak, ujar Kevin."
Kini mereka menikmati sarapan yang di siaokan oleh bi Mun.
" Jadi begini pak Udin , nanti siang aku sama Tesya mau mengajak bapak sekeluarga untuk membeli baju ke mall. Jadi saya minta pak Udin sama semuanya untuk siap siap."
" Wah tidak usah mas,tolak Pak Udin."
" Jangan di tolak pak, sesekali tidak apakan. Lagi pula kemarim saya lupa minta kain sragam buat acara bang Vano."
" Kamikan cuma pembantu mas, masa mau pakai sragam juga."
" Baik mas,kalau begitu kami permisi dulu mau menyelesaikan pekerjaan dulu,pamit bi Mun."
Semuanya bubar kembali ke pekerjaan masing masing,sedangkan Tesya dan Kevin memilih jalan jalan ke luar rumah.
" Lama ga jalan jalan ke taman ya mas gimana kalau sekarang kesana."
" Udah panas sayang, kita jalan sekitar sini aja. Kalau sampai taman nanti kesiangan ."
" Iya dech, kata Tesya dengan muka cemberut."
" Hem kalau udah keluarin jurus andalan gini udah ga bisa di tawar lagi nih. Ya udah mas turutin ke tamannya tapi jangan lama lama ya disana."
" Yeiiii, terima kasih papa jawab Tesya dengan menirukan suara anak kecil."
Seketika raut wajah Tesya berubah bahagia karena kemauannya di turuti. Sebenarnya jarak antara rumah Tesya ke taman tak cukup jauh hanya 15 menit jalan kaki sudah sampai.
Suara kicau burung yang bersautan di tambah angin sepoi membuat Tesya merasa tenang dan damai. Walaupun di taman ia hanya duduk saja sambil menikmati suasana. Kevin yang semula malas kini menjadi semangat ia berlari berkeliling taman.
" Sayang beli minum yuk, tadi lupa ga bawa dari rumah."
" Beli makan sekalian ya."
" Lah tadikan di rumah sudah makan masa iya mau makan lagi."
" Stttt mas ga boleh protes pokoknya aku mau makan lagi."
" Iya dech iya, bisa perang dunia nih kalau ga di turuti, gerutu Kevin."
Memang tak jauh dari taman ada warung soto sederhana yang selalu membuat perut Tesya keroncongan kalau lewat disana.
" Gimana sudah kenyang?"
" Sudah dong pulang yuk, kasihan pak Udin kalau sudah nungguin."
" Sabar Vin istrimu lagi hamil, masih dua bulan lagi kamu bakal hadapi drama soal kehamilan,batin Kevin."