
" Pa ma, Intan minta maaf karena sudah membuat malu seperti ini, kata Intan yang bersimpuh di kaki kedua orang tuanya. Pak Kevin dan Tesya terima kasih banyak sudah membantu saya dan mas Arda maafin Intan kerena sudah tak jujur. Seharusnya dari awal Intan cerita sama kalian biar kejadiannya ga seperti ini. Jujur Intan binggung harus cerita sama siapa dan Intan malu buat cerita."
" Berdiri nak, ini sepenuhnya bukan salah kamu. Tapi karena ke egoisan papa sama mama akhirnya kamu nekad seperti ini. Ya mungkin ini adalah cara Tuhan menegur papa dan mama, kata papa Intan."
" Pa ma, Arda juga minta maaf sudah membuat salah seperti ini, kata Arda yang juga bersimpuh di hadapan kedua orang tuanya."
" Sudah sudah karena semua sudah terjadi dan mau di sesali juga ga akan mengubah keadaan. Begini pak bu saya sebagai orang tua dari Arda bermaksud dan berniat untuk melamar putri bapak sama ibu .Apakah bapak sama mengijinkan dan merestui mereka untuk menjadi sepasang suami istri?"
" Baik pak saya beserta istri mengijinkan dan merestui nak Arda menjadi suami dari anak saya Intan. Semoga nak Arda bisa memaafkan keegosian kami kemarin."
Mendengar orang tua Intan menerima Arda menjadi menantunya, Tesya dan Kevin berpelukan mereka merasa lega karena usahanya tak sia sia. Untung orang tua Intan mau menerima Arda untuk menjadi menantunya.
" Tan kamu kasih nama siapa buat anak kita, tanya Arda?"
" Kalau pak Kevin dan Tesya mengijinkan akan ku beri nama Keisya. Sengaja aku gabungkan nama mereka untuk menginggat pengorbanan mereka membantu aku."
" Boleh kok, dengan senang hati kata Tesya ."
Acara malam ini selesai dengan akhir yang bahagia karena Intan dan Arda kini bisa bersatu tanpa harus menyembunyikan status mereka. Tetapi malam ini Intan dan Arda masih di rumah Kevin karena kasihan malam malam keluar harus membawa putri mereka.
" Lega ya mas, aku ikut bahagia karena sekarang Arda dan Intan sudah bersatu tinggal nunggu di sahkan secara agama dan negara, kata Tesya."
" Benar itu sayang, semoga kedepannya bisa begini terus sambung Kevin yang mulai merebahkan tubuhnya."
" Tadi aku sempat pesimis loh mas pas melihat tatapan kedua orang tua Intan. Ternyata setelah melihat bayi yang lucu itu membuat mereka luluh hatinya."
Tak ada respon dari suaminya, Tesya membalikan tubuhnya. Betapa kesalnya dia ternyata dari tadi berbicara sendiri karena suaminya sudah terlebih dahulu terlelap.
Tesyapun ikut terlelap, hatinya lega setidaknya hari ini ada satu masalah yang terselesaikan.
Keesokan paginya seperti pagi yang sudah sudah Sita selalu menjemput Kayla setelah ia mandi dan minum susu.Kini Tesya menyiapakan keperluan suaminya untuk pergi ke kantor.
Intanpun demikian membantu Arda menyiapkan semua barang barang untuk di bawa pulang ke apartementnya.
" Makanya buat anak jangan coba coba kalau ga mau kaya gini akhinya, ledek Kevin."
" Kan elu yang ngajari Vin, balas Arda."
" Wiihh mana bisa aku yang ngajari woy kita satu server."
" Ini kenapa lagi bapak bapak pagi pagi udah berantem, ga malu apa sama anak. Udah ayo sarapan dulu nanti kesiangan ke kantornya, ujar Tesya."
Selesai sarapan Intan dan Arda pamitan, sebelum ke kantor ia mengantar calon isri dan anaknya pulang ke apartement.
" Sekali lagi makasih ya Vin Sya buat semuanya. Ribuan kali makasihoun kurasa ga cukup buat membalas kebaikan kalian kata Arda."
" Ga usah lebay gitu kenapa, itukan sudah kewajiban kita buat membantu teman yang kesuaahan."
" Nanti kalau ada waktu main main kesini ya Tan, sambung Tesya."
" Iya Sya, kalau mas Arda libur aku pasti main kesini."
Intan dan Tesya berpelukan sebelum akhirnya Intan pergi dari rumah mereka.