
"Memangnya dulu bapaknya mas Rama kerja apa?" tanya Dita.
"Papa aku itu dulu yang gembala domba milik Eyang, terus waktu itu mama yang baru lulus kuliah dari luar kota ketemu setiap hari mereka ngobrol. Ternyata di samping gembala domba,papa aku juga kuliah makanya setiap mereka ngobrol selalu nyambung pada akhirnya mereka jatuh cinta. Terus ngomong sama eyang buat minta restu pada akhirnya nikah. Habis itu lahirlah kakak aku yang sekarang udah bahagia di negeri orang sama suami dan anaknya. Sementara aku ya masih sendiri nungguin kamu, itu pun kalau kamu mau. Kalau nggak mau aku nggak akan maksa juga, itu semua tergantung kamu. Kamu mau gimana sama aku pasrah saja."
"Loh kok mas Rama bilang gitu ini cincin yang udah dikasih kan sebagai tanda kalau aku setuju nikah sama kamu aku nerima kamu apa adanya sementara kamu juga nerima aku apa adanya kan kamu tahu aku dari keluarga yang biasa saja. Bahkan aku anak pembantu yang ada di rumah saudara kamu terus aku juga kerja di rumah mereka," kata Dita.
"Ya udah pokoknya secepatnya kamu bilang sama bapak sama ibu kamu buat menentukan langkah kita selanjutnya. Masa iya sih kamu tega nyuruh aku nunggu lagi aku udah tua lho Dit . Masak temen-temen aku udah pada punya anak aku masih jomblo aja. Ngapa-ngapain sendiri,pergi ke kondangan temen juga selalu sendiri,"kata Rama lagi.
"Kok mas Rama bilangnya jomblo, ini apa," kata Dita sambil nunjukin cincin yang melingkar di jari manisnya."
Rama hanya diam.
"Jadi aku nggak diakuin,"kata Dita sambil ngambek.
" Ya makanya ayo buruan bujuk ibu sama bapak kamu biar kita bisa langsung halal nggak nungguin lama-lama . Masa iya bapak sama ibu kamu bakal bolehin kalau kamu aku ajak kondangan ke Jogja. Terus ke sananya juga cuman berdua, apa boleh juga kalau kamu aku ajak ke luar kota. Kayaknya nggak mungkin deh, orang kita dekat-dekat aja udah diomelin apalagi kita keluar kota berdua lagi itu jelas-jelas nggak mungkin," kata Rama.
"Ya deh nanti kalau ada waktu luang aku ngobrol deh sama ibu sama bapak enaknya gimana . Tapi mas Rama bakal adain pesta nggak sih atau mau sederhana saja?" tanya Dita .
"Aku sih maunya nggak usah rame-rame Dit dihadirin keluarga saja kayak dulu pas Tesya sama Kevin nikah. Waktu itu cuman keluarga aja yang datang nggak ngadain pesta yang gimana-gimana cuman pas acara 4 bulanan aja mereka pengen acara. Jadi pas nikah bener-bener full keluarga enggak ada orang lain yang diundang. Ya ada beberapa tetangga yang di undang biar tahu kalau Kevin itu suaminya Tesya," kata Rama lagi.
"Emang dulu mbak Tesya nggak ngadain pesta gitu mas, semacam resepsi di gedung atau gimana gitu?"
"Nggak Dit, waktu itu Tesya sama Kevin cuman akad nikah terus ya makan-makan aja gitu di rumah eyang yang datang juga cuman keluarga Tesya dari bapaknya terus keluarga aku semua datang dan beberapa tetangga. Sementara teman-teman Tesya nggak ada yang datang, mereka datangnya pas acara 4 bulanan. Jadi ya udah emang gitu aja nggak ngadain pesta katanya kalau ngadain pesta budget yang keluar terlalu banyak, bagi mereka bisa buat model usaha yang baru. Maka dari itu nggak ada yang mempermasalahkan juga acara pesta itu, nggak penting-penting amat sih Dit."
"Kalau kamu maunya gimana ?" tanya Rama.
"Aku ngikut aja maunya mas Rama gimana."
" Aku maunya yang biasa aja sih mas pakai adat Jawa kayak mbak Tesya,kayaknya seru terus ya di rumah aja nggak perlu ada pesta besar-besaran. Siapa tahu dengan kayak gitu kita bisa modal buat usaha sendiri," jelas Dita.
" Emang kamu mau buka usaha apa sih Dit kok aku sendiri malah belum kepikiran ya apa mau lanjutin usahanya Tesya yang baru atau mau bikin yang baru juga belum tahu. Apa kalau nggak aku kerja aja kali ya di kantor papa, siapa tahu aku cocok di sana tapi masa iya kita ldr-an kamu di sini aku di Jogja. Terus kalau kangen gimana ,enggak ah nanti aku pikirin lagi."
" Emang berapa banyak sih mas usaha yang dimiliki sama apaknya Mas?" tanya Dita.
"Ya ada sih cuman adanya di Jogja sama di Solo kalau di sini baru mau buka , tapi nggak tahu juga lama apa nggak. Kalau rumah di sini sih ada terus di Solo ada di Jogja juga ada tapi masa iya kita mau numpang di rumah Papa sama Mama aku pengennya kita belajar dari nol."
" Emang kalau kita tinggal di rumah Papa sama Mama mas Rama kita nggak belajar dari nol.Anggap saja kita nyewa mas terus uang yang buat sewa itu kita tabung biar bisa kebeli deh rumah sendiri,"kata Dita dengan semangat.
" Bener juga ya Dit, udah pokoknya nanti kamu bilang sama Bapak Ibu dulu enaknya gimana. Terus kamu kasih tahu aku sementara ini kamu tetap kerja di tempat Tesya dan aku kerja di kantor Kevin sampai mereka berdua buka toko baru di dekat kampus kamu. Kalau mereka udah buka aku bakal tinggal di toko mereka biar bisa ngawasin kamu kalau di kampus .Siapa tahu masih ada yang lirik-lirik kamu ,"kata Rama.
"Alah itu akal-akalan kamu aja kali mas di kampus kan banyak cewek-cewek , kamu kali yang kepengen lihat cewek-cewek itu," kata Dita.
" Ya enggak lah Dit,aku kan udah punya kamu. Masa iya mau lirik-lirik ,bagi aku yang cantik itu kamu yang sempurna itu kamu dan kamu yang bisa buat aku berubah kayak gini. Kamu yang buat aku mikirin masa depan aku jadi nggak bakal ada tempat buat perempuan lain," kata Rama gombal .
"Halah mas Rama jago gombalnya ,"kata Dita.
"Lah orang gombalnya sama kamu juga masa iya nggak boleh nanti kalau aku gombalnya ke perempuan lain kamunya marah-marah terus di cincin dibalikin kayak Tesya kalau marahan sama Kevin gitu," jelas Rama.
" Emang gitu?" tanya Dita.
" Ya kamu kalau penasaran tanya aja sama Tesya dia kalau marah-marah gimana?" jelas Rama.