
" Semoga rencanaku berhasil, gara gara cemburu buta hampir saja gagal, kata Kevin dalam hati."
Ketika Tesya sudah terlelap, Kevin memulai aksinya. Ia mengendap endap pergi kebelakang untuk mematikan saluran listrik di rumahnya. Seletika ketika lampu padam terdengar teriakan dari dalam.
" Mas, listriknya padam aku takut sendirian, teriak Tesya."
Kevin sama sekali tak menyahut ucapan istrinya. Ada sesuatu yang baru ia siapkan.
" Mas, sudah tidur ya. cepat kesini aku takut sendirian teriaknya lagi."
Kevin datang menghapiri Tesya yang ketakutan.
" Mas kemana saja dari tadi di panggil panggil bukannya jawab malah diam saja, omel Tesya."
" Nyari lilin sayang, lagian salah sendiri tidur di kamar depan ga ngajak ajak. Giliran lampunya padam marah marah. Sebentar ada yang mau mas ambil, ujar Kevin."
" Ikut, kata Tesya."
" Masa Kay di tinggal sendirian?"
" Ya udah tapi jangan lama lama perginya."
"Uluh uluh sampai segitu takutnya di tinggal suaminya."
" Udah dech mas ga usah ngeledek orang aku takut beneran kok."
" Iya iya, udah kamu diam di situ dulu, kalau ada apa apa langsung teriak saja ya."
Kevin keluar dari kamar, ia kembali masuk dan membawa kue tart ysng di hiasi lilin.
" Selamat ulang tahun sayang, maaf ya buat yang kemarin. Sebetulnya kemarin memang mas sengaja buat menjahili kamu. Mas cuma pengen tahu seberapa besar sih cinta kamu sama mas."
Mata Tesya berkaca kaca, tak menyangka kalau itu semua kerjaan suaminya. Makanya kok ia terlihat santai menghadapi kemarahanku.
" Jahat kamu mas, tega teganya mengerjai istri sendiri sampai uring uringan bahkan sampai nekad pergi dari rumah."
" Maaf sayang, kata Kevin lalu mengecup kening istrinya."
" Maaf juga ya mas, sudah marah marah sama mas."
" Iya sayang, sekarang kamu berdoa dulu lalu tiup lilinnya, ujar Kevin."
Tesya memanjatkan doa, ia berharap menjadi yang lebih baik dari sebelumnya.
"Sebentar ada satu lagi yang mas mau kasih sama kamu, semoga kamu senang."
Kevin mengeluarkan kertas dari amplop coklat yang berada di atas meja, dan memberikannya kepada Tesya.
" Ini apa mas,tanya Tesya penasaran?"
" Kamu baca sendiri."
Tesya dengan saksama membaca isi dari kertas tadi. Ternyata isinya adalah akta jual beli ruko.Perlahan tapi pasti senyumnya kian mengembang, pipinya pun merah merona.
" Mas, aku ga mimpikan, apa mas yakin aku mampu mengelola toko perhiasan ini. Mas cerita donk sebenarnya bagaimana sih sampai punya ide kaya gitu?"
Kevin mencium pipi istrinya sambil berkata " ya bener lah sayang masa bohongan. Mas yakin kamu bisa dan kamu mampu. Jadi gini sayang, malam itu kan mas lembur kerjaan, terus Laras telpon mas dia bilang kalau toko miliknya akan di jual karena dia dan suami bakal ke luar negeri dan menetap disana. Terus kebetulan juga mas ada metting di sana ya sudah sekalian saja mas ketemu sama Laras. Kenapa mas bisa seakrab itu karena Laras dulu tetanggaan sama mas. Terus karena suami Laras sudah duluan berangkat ke luar ya makanya aku sama dia berduaan saja. Eh pas di sana bi Mun kasih tahu ke mas kalau kamu nyusul kesini . Ya sudah mas kerjain saja kamu, eh ternyata seremnya minta ampun kalau marah."
" Oh jadi sengaja buat marah, awas nanti aku balas ,tapi makasih ya mas, aku sampai binggung dan ga bisa berkata kata. Semoga aku bisa amanah ya mas menjalankannya."
" Iya sayang, sekali lagi selamat ulang tahun, doa terbaik untukmu sayang, kata Kevin sambil memeluk mesra tubuh istrinya."
Ketika keduanya hendak bermesraan terdengar suara tangis dari Kayla yang kegerahan karena ACnya belum nyala.
" Sebentar sayang papa nyalain dulu, kata Kevin."
Tesya, Kevin dan Kayla malam ini tidur di kamar tamu.
Keesokan paginya, Tesya bangun kesiangan begitu juga dengan Kevin. Kini mereka masih bermalas malasan di atas tempat tidur.
" Mas ga ke kantor hari ini?"
" Ga ahh, masih kangen sama yang kemarin ngambek. Hari ini mau di rumah saja lagian ada Arda juga di kantor."
" Mentang mentang bos, masuk kerja seenaknya sendiri ihhh."
" Biarin ga ada yang ngelarang juga kok, duduknya sini deketan ada yang mau mas tunjukin, ujar Kevin."
Tesya duduk mendekat, Kevin memegang tangan Tesya lalu menyematkan cincin berlian ke jarinya.
" Jangan pernah pergi dari mas ya sayang, seberat apapun masalah yang kita lalui nanti baik suka maupun duka harus kita lalui bersama,kata Kevin lalu mengecup tangan istrinya."
" Iya mas, Tesya janji akan selalu ada di samping mas selamanya."
Keduanya berpelukan melepaskan rindu yang sempat tertunda karena ada salah paham. Kini hanya bahagia yang menelimuti keduanya.