I LOVE YOU BOSS

I LOVE YOU BOSS
129 # BAB 129



 


Pagi ini setelah Tesya menyelesaikan tugasnya memandikan Kayla dan menyiapkan keperluan suaminya ia turun ke dapur untuk membuatkan kopi. Disana ada bi Mun yang sedang menyiapkan sarapan.


 


" Mbak Tesya datang ga bersuara bikin bibi kaget, kata bi Mun."


 


" Maaf bi, Dita kemana ya bi kok belum kelihatan?"


"Dita sudah ke toko mbak, katanya mau cek bahan bahan yang sudah habis. Kemarin ga keburu karena toko ramai."


 


" Oh ya iya, nanti sehabis sarapan bilang sama Dita dan pak Udin juga buat kumpul ke rumah kak Sita sebentar ya bi, ada yang mau mas Kevin sampakan."


"Loh ada apa mbak kok kumpulnya disana ga di rumah saja?"


 


" Ya nanti bibi tahu sendiri, biar mas Kevin yang jelaskan semua."


" Baik mbak."


Pagi ini Tesya hanya sarapan berdua dengan suaminya, pak Udin sekeluarga memilih sarapan di belakang. Tak ada yang ia bicarakan hanya ada suara sendok dan piring yang beradu.


" Loh Intan mana sayang kok ga sarapan bareng sama kita, tanya Kevin setelah selesai makan."


" Tadi aku panggil panggil ga ada jawaban mas, mungkin masih tidur. Semalam beberapa kali aku dengar anaknya menanggis. Mas tadi aku sudau bilang sama bi Mun kalau harus berkumpul sebentar ke rumah kak Sita."


" Kamu bantuin dia ya sayang kasihan kalau kerepotan, kan Kayla juga lebih sering sama kak Sita kalau siang. Habis ini mas langsung ke rumah kak Sita dan ke rumah mama biar semua rencana bisa berjalan lancar."


" Iya mas kasihan kalau lama lama."


" Mas langsung kesana ya, sekalian Kayla mas yang gendong."


" Kan mas bawa mobil mana bisa sambil gendong Kay?"


 


" Mobilnya biar di antar Wawan kesana, mas kan pengen juga ngajak jalan jalan pagi sebelum ke kantor."


 


" Ya udah iya."


Kevin dan Kayla pergi kini Tesya mencoba mengetuk lagi pintu kamar Intan. Beberapa kali Tesya mengetuk kamarnya tapi masih tak ada jawaban juga, sampai akhirnya ia langsung membuka pintu kamar Intan karena mendengar suara tangisan bayi Intan.


 


 


Intan hanya diam, dengan cekatan Tesya menggendong bayi Intan dan menenangkannya.


" Sayang jangan menangis ya anak pintar, yuk mandi terus berjemur sama aunty."


Tesya membawa bayi Intan ke kamarnya untuk memandikan, lalu ia mengajaknya ke taman belakang untuk berjemur. Dari kejauhan Intan memperhatikan Tesya yang dengan lembut dan penuh kasih sayang kepada anaknya.


 


" Tesya, hatimu itu terbuat dari apa. Kamu begitu menyayangi anakku seperti anakmu sendiri. Bahkan aku ibunya belum bisa seperti itu. Hanya ada satu banding seribu orang baik sepertimu dan satu orang itu kamu Sya, kata hati Intan."


Parlahan tapi pasti, Intan berjalan mendekati Tesya dan bayinya yang sedant berjemur.


 


" Sya, entah mau sampai berapa kali aku harus mengucapkan terima kasih buat kamu."


" Udah Tan jangan gitulah, duduk sini aku ajari bagaimana memakaikan baju dan perlengkapan lainnya. Mungkin semalam kamu sudah belajar sedikit sedikit sama bi Mun."


 


" Iya Sya, tapi bi Mun cepat sekali memakaikan bajunya jadi aku kurang paham."


Tesya mengajari Intan dengan sabar sambil bertanya kenapa tadi dia ikut menangis ketika bayinya menanggis.


 


" Kamu tadi kenapa kok menanggis, kan aku sudah bilang sama kamu kalau ada apa apa cerita sama aku. Kamu itu ga boleh sters Intan kalau kamu setres kasihan bayi kamu."


 


" Aku tadi itu binggung Sya, anak aku nanggis dan ga mau diam. Mungkin dia lapar, soalnya produksi asiku belum banyak Sya."


" Mulai hari ini kamu harus makan yang banyak konsumsi air putih yang banyak juga satu lagi kamu harus minum jamu, jelas Tesya."


 


" Aku ga doyan sama jamu Sya."


" Di coba dulu Tan biar produksi asimu banyak, masa kamu tega kalau bayi kamu kelaparan. Sebentar lagi jamu lagganan aku datang kamu wajib minum pokoknya."


" Akan aku coba Sya demi anakku, kata Intan dengan senyuman di bibirnya."