
Sementara itu di kantor Arda dan Intan sedang makan siang. Hari ini Intan tampak tak bersemangat, wajahnya sedikit pucat dan ada garis hitam di matanya.
" Kamu kenapa sih Tan dari tadi aku perhatiin diam saja, lagi ada masalah, tanya Arda sembari menunnggu pesannya datang."
" Ga kok cuma kurang emak badan, jawab Intan. "
Intan sendiri ga tahu kenapa akhir akhir ini tubuhnya berasa lemas sama sekali tak memiliki semangat.
" Nanti sepulang kantor gimana kalau aku antar ke dokter biar tahu kamu sakit apa, ujar Arda."
" Ga usah pak, paling masuk angin aja. buat istirahat bentar juga sembuh, ucap Intan."
" Ya udah kalau gitu, misal ada apa apa langsung hubungi aku ya, kata Arda sambil menggenggam tangan Intan."
Sore harinya, Tesya tampak sibuk di dapur menyiapkan makan malam. Walaupun perutnya semakin membuncit tak menghalagi semangatnya.
Kadang membuat ia lupa kalau sedang hamil. Ketika sedang meracik beberapa sayuran ia di kejutkan dengan seseorang yang tiba tiba memeluknya dari belakang.
" Mas, kenapa sih sukanya bikin kaget, omel Tesya."
" Kok kamu tahu sih, kalau mas yang peluk."
" Ya tahulah orang dah hafal sama aroma parfumnya. Kok tumben jam segini sudah pulang, tanya Tesya."
" Iya, kebetulan kerjaan ga banyak jadi bisa pulang cepet lagian kangen juga sama kamu, goda Kevin. Eh iya sayang tadi bang Vano bilang nanti malam mau kesini ada yang mau di omongin kataya."
" Jam berapa mas, biar aku tambahin dech masakannya siapa tahu mereka mau sekalian makan di sini."
" Sayang kalau pesen kue buat besok pagi jam 9 bisa ga ya, soalnya di kantor ada metting."
" Berapa banyak, tanya Tesya lagi?"
" Besok biar aku yang buatin saja mas, ga banyak kok, berati habis ini belanja yuk, soalnya sayuran dan yang kebutuhan yang lain sudah pada habis, Sekalian mau pesen buat di toko, sudah pada habis, tadi siang aku coba telpon ke sana sibuk terus."
" Iya, kalau gitu mas mandi dulu ya ,pamit Kevin."
" Siap bos, aku mau telpon Dita dulu biar siapin catatan belanjanya."
Selesai mandi Kevin langsung menghampiri Tesya di bawah yang masih sibuk masak. Saat Tesya mencicipi masakannya tiba tiba Kevin ikut ikutan tapi ia mencicipi dari bibir Tesya. Akhirnya mereka berciuman tanpa mereka sadari kalau Dita sudah berdiri tak jauh dari mereka.
" Maaf mbak, mas ini catatan yang tadi di minta, kata Dita malu karena melihat dua bosnya yang sedang bermesraan."
" Eh iya Dit,taruh di situ saja, jawab Tesya gelagapan karena kepergok karyawannya."
" Maaf ya sayang, jadi ketahuan sama Dita dech, kata Kevin."
"Iya ga papa mas, kalau gitu yuk berangkat nanti keburu bang Vano kesini,ajak Tesya."
Beberapa toko mereka singgahi buat membeli kebutuhan rumah dan toko, saat sedang berhenti di apotik untuk memnbeli susu Tesya melihat Intan yang baru membayar di kasir.Ketika Tesya menghampiri Intan, ia buru buru menyembunyikan belanjaannya.
" Eh Tesya, mau beli apa? tanya Intan gugup."
" Mau beli susu Tan, kamu sendiri beli apa?"
" Beli vitamin, aku duluan ya, pamit Intan."
" Intan kenapa sih kok ketemu aku kaya ketemu musuh, batin Tesya."
" Sayang bukannya itu tadi Intan ya, kok lihat aku langsung pergi nyapa juga ga, tanya Kevin ketika Tesya sampai ke parkiran."
" Iya mas, tadi ketemu aku di dalam juga langsung pergi kok. Eh iya mas tadi siang Lia main ke rumah , ia cerita kalau pernah ngikutin Intan sama pak Arda kemudian tahu ga mas mereka masuk ke hotel."
" Padahal Arda udah aku kasih tahu, ternyata masih kaya gitu juga. Tapi Lia tahu ga yang di rumah kita waktu itu."
"Tahu mas, tadi aku kasih tahu sekalian, habis aku gemas juga. Ah udah mas ga usah di bahas lagi yuk cepet pulang aku udah laper, ajak Tesya."
Ayo di tebak apa yang Intan beli di apotik..kalau banyak yang betul nanti aku kasih 2 bab sekaligus