
Selesai istirahat Tesya menata beberapa dokumen sebelum dia pulang. Beberapa kali Kevin tamak menghubunginya.
" Tan jalan dulu ya ini desain aku yang baru terus ini laporan yang tadi pagi. Nitip salam buat Lia,pamit Tesya."
" Hati hati ya Sya, kata Intan sambil melanjutkan pejerjaanya."
Tesya berlari lari kecil menuju parkiran ,disana tampak Kevin yang sudah menunggunya.
" Maaf lama ya menunggunya,kata Tesya ketika masuk kedalam mobil."
"Ga kok aku juga baru saja sampai, tadi papa kasih kabar kalau semua keluarga sudah kumpul tinggal nunggu bang Vano dan Arda."
" Iya mas,kata Tesya lemas."
" Kamu ga papakan tanya Kevin melihat wajah Tesya yang sedikit lesu tak bertenaga."
" Gapapa kok mas. Sebelumnya Tesya mau bilang sama mas,Tesya minta maaf kalau belum bisa buka hati buat mas. Pasti ini jadi beben tersendiri buat mas."
"Sya, ini kan keinginan mas buat jadikan kamu seorang istri terus mas juga yang paksa kamu. Kamu terima dan mau saja itu sudah buat mas bahagia."
" Tapi apa mas yakin aku bisa,tanya Tesya lagi ."
" Pasti bisa, mas akan berusaha buat kamu jatuh cinta sama mas,kata Kevin penuh percaya diri."
Kini keduanya hanya diam menikmati perjalanan.Kevin dengan jalan pikirannya sendiri sedangkan Tesya binggung dengan semuannya.
Empat jam berlalu mobil yang di kendarai Kevin dan Tesya telah sampai di Solo. Sebelum mereka sampai terlebih dahulu mereka singgah ke rumah makan yang pernah mereka kunjungi waktu itu.
Tampak penjaga warung yang ramah menyapa keduanya dan mempersilakan masuk.
" Mau makan apa mas dan mbak ,tanyannya."
" Nasi liwet komplit minumnya jeruk hangat jawab Kevin."
" Aku samain saja ya pak,sambung Tesya."
Kediaman Eyang Tesya
Disana tampak beberapa orang menata pendopo rumah yang akan di gunakan besok. Walaupun hanya di hadiri keluarga dekat persiapannya begitu sempurna.
Dekorasi yang tampak sederhana tapi memberi kesan wah. Bunga bunga juga tampak mempercantik ruangan tersebut.
Tesya dan Kevin kini juga telah ada di antara mereka. Tesya memperkenalkn Kevin ke kerabatnya. Karena memang belum ada satupun diantara mereka yang mengenalnya.
" Vin nanti malam kamu sama keluarga yang lain bisa bermalam di rumah eyang yang satunya disana ada banyak kamar dan rumahnya juga bersebelahan dari sini. Biar ga terlalu jauh kata eyang Tesya."
" Iya eyang nanti biar Kevin kasih tahu biar langsung kesini."
"Papamu pasti ingat, dulu dia sering menginap disini. Bahkan eyang tahu gimana nakalnya papamu dulu.Sya kamu antar Kevin kesana biar dia istirahat,ujar eyangnya."
" Iya eyang,ayo mas ke rumah sebelah ,ajak Tesya."
Setelah mengantar Kevin ,Tesya juga beristirahat. Merebahkan tubuhnya mencoba untuk mengistirahatkan tubuhnya tapi pikirannya terus kemana mana.
" Gimana nanti setelah aku menikah ,bagaimana menghadapi mas Kevin aku juga belum tahu pasti sifatnya seperti apa."
" Terus nanti aku harus bagaimana kalau tinggal bareng sama dia."
Pikiran Tesya terus bergelayut sampai ia tidak sadar kalau mamanya sudah duduk di sampingnya.
" Kenapa sayang kok mama perhatiin dari tadi bolak balik ga tidur tidur,tanya mamanya yang penasaran dengan kelakuan anaknya."
" Tesya binggung ma,besok itu harus gimana. Mama kan tahu perasaan Tesya gimana sama mas Kevin."
" Mama yakin kamu pasti bisa laluinya. Perlahan lahan bukalah hatimu belajar menerima Kevin sepenuhnya,kata mamanya sambil memeluk Tesya."