I LOVE YOU BOSS

I LOVE YOU BOSS
131# BAB 131



 


" Gimana Tan sudah bisa mandikan sendiri?"


" Belum Sya, bantuin lagi ya. Secepatnya aku belajar biar ga nyusahin kamu terus."


 


" Santai saja Tan, sebisa mungkin aju bantu kamu. Oh ya gimana Asinya sudah lancar?"


" Sudah Tan, sekarang sudah ga rewel lagi. Mungkin kemarin dia masih lapar makanya rewel."


 


" Syukurlah kalau sudah lancar, tetap ingat pesan aku kemarin ya Tan."


 


" Iya Sya."


 


Selesai membantu Intan, Tesya langsung pergi menemui suaminya yang tadi ngambek gara gara ke inginannya ga di penuhi. Tapi apa yang ia temui di kamar ternyata suaminya tertidur dengan pulasnya.


" Hufttt selamat,kata Tesya dalam hati." Ia langsung membersihkan diri dan membantu bi Mun di dapur."


" Loh mbak Tesya, sudah rapi kok malah ke dapur?"


" Habis aku binggung bi mau ngapain.Kayla sudah di jemput sama kak Sita, mas Kevin tidur ya udah mending ke dapur."


" Maaf mbak, bibi mau tanya. Apa acara nanti malam jadi?"


 


" Jadi bi, pokoknya aku minta doanya ya bi biar lancar dan berakhir bahagia."


 


" Iya mbak, jujur bibi kasihan sama mbak Intan. Bibi tahu repotnya kaya apa, dulu bibi habis melahirakan Dita harus berjuang sendirian karena bapak kerjanya di luar kota. Bahkan sempat waktu itu Dita nangis bibi juga nangis."


" Berati aku beruntung ya bi, habis lahiran ada suami mama sama mama mertua gantian bantuin aku sekarang kak Sita juga ikut bantu."


 


" Harus banyak bersyukur mbak atas nikmat yang kita dapatkan walaupun hanya sedikit. Mbak bibi ke depan dulu ya itu ada tukang sayur lewat pamitnya."


 


Kevin mendekap tubuh istrinya dari belakang, membuatnya tak bisa lagi bergerak apalagi kabur.


" Mas kenapa ngagetin sih, untung di sini aku sendirian kalau ada yang lihat kan malu."


 


" Habis di tungguin dari tadi bukannya nemui malah asik di dapur."


 


" Salah sendiri di temui malah tidur, ya udah aku ke dapur, kata Tesya yang mencoba mepaskan pelukan suaminya."


"Hayo mau kabur ya, oh ga mungkin bisa. Dengan sigap Kevin menggendong istrinya masuk ke kamar."


Di balik pintu kamarnya Intan tak sengaja melihat betapa bahagianya Tesya yang sedang bermanja dengan suaminya.


" Apakah suatu saat aku bisa sebahagia mereka? Apa aku bisa hidup dengan orang yang aku cintai? Semoga papa sama mama suatu hari nanti bisa menerima aku dan anakku dengan lapang dada. Aku tak bisa menyalahkan mereka sepenuhnya. Bahkan ini sebenarnya salahku karena tak bisa menahan emosi dan mudahnya aku terbujuk rayuan mas Arda. Hanya penyesalan yang sekarang aku rasakan tapi mau bagaimana lagi semua sudah terjadi menyesalpun tak akan mengembalikan keadaan. Yang jelas aku harus semangat aku harus kuat demi kamu sayang kata Intan."


 


Kevin dan Tesya keluar dari kamar setelah menjalankan kewajibannya.Mereka duduk rapi di untuk sarapan.


" Bi, tolong panggilkan mbak Intan biar sekalian sarapan, kalau anaknya tidak tidur bibi tungguin sebentar ya."


" Baik mbak. "


 


Intan masih canggung makan bersama sahabat dan bosnya. Rasa malu di campur rasa yang entah tak bisa di ungkapkan dengan kata. Tapi setidaknya ia bahagia bertemu dengan mereka malaikat tak bersayap yang dengan tulus membantu semua kebutuhannya saat ini.


 


" Jangan benggong Tan ayo makan, kamu harus isi perut kamu biar tenaga kamu full Asi kamu juga banyak, ujar Tesya."


" Iya Tan jangan sungkan kaya sama siapa saja. Anggap saja seperti rumah sendiri Tan, sambung Kevin."


 


Intan tersenyum sekaligus kagum dengan mereka. Padahal dulu awal mula masuk kantor betapa bencinya Tesya kepada bosnya eh ternyata jodoh menyatukan mereka.