
Kini semuanya berkumpul, ada yang di dalam ruangan ada juga yang di luar.
Sesekali Kevin menengok ke samping dimana istrinya di rawat.
" Kenapa Vin?" tanya mamanya.
" Ma, aku boleh turun ga ya?"
" Memang kamu mau kemana, mau ke kamar mandi?"
" Ga ma, aku mau ke Tesya."
" Sebentar aku tanya sama dokter dulu, sekalian mau bilang sama yang di luar biar mereka pulang. Kasihan kalau harus bermalam disini."
" Terus nanti yang disini siapa ma?"
" Biasanya kalau malam yang disini Rama, Vano sama Arda. Tapi ini Arda kok belum datang, mungkin masih di jalan."
" Terus kalau malam Kay tidur sama siapa ma?"
" Ganti gantian, selama kamu ga sadar mama sama papa tinggal di rumah kamu sama semuanya juga tinggal disana."
" Makasih ya ma, udah bantu jaga Kay."
"Sama sama sayang, kamu fokus sama kesehatan kamu ya jangan mikir yang aneh aneh."
" Iya ma."
" Mama tinggal dulu sebentar, kamu ga papa kan disini sendiri atau kamu mau di panggilkan siapa biar temani kamu."
" Panggil bang Vano saja ma, ada yang mau aku tanyakan sama dia."
" Oke."
" Kenapa nyariin aku lagi," kata Vano.
" Ada yang mau aku tanyakan lagi sama kamu bang," jawab Kevin.
" Apa?"
" Selama aku disini perusahaan aku yang kelola siapa?"
" Semua di pegang sama Rama, ternyata dia jago juga. Dia memenangkan beberapa Tander besar, bahkan banyak yang tak percaya dengan pencapaian Rama."
" Terus usaha aku yang lain bang?"
" Ada mama, ada papa ada mertua kamu yang bolak balik ngecek semua. Kamu ini masih sakit udah mikirin kerjaan," omel Vano.
" Syukurlah kalau semua baik baik saja."
" Udah istirahat sana, aku mau antar Sita pulang dulu kasihan hamil besar malam malam masih disini."
" Hati hati ya bang, salam buat kak Sita."
Vano keluar kini gantian mama dan dokter yang masuk.
" Bagaimana pak Kevin ada yang bisa saya bantu?" tanya dokter.
" Dok, apa saya boleh turun?"
" Memang pak Kevin mau kemana?"
" Apa boleh saya mendekat ke istri saya dok," ucapnya.
" Saya periksa dulu ya pak, nati biar di ambilkan kursi roda sama suster," ujarnya lagi.
Pemeriksaan selesai, Kevin di bantu suster dan mamanya duduk ke atas kursi roda dan mendekat ke ranjang istrinya.
" Mama ada yang mau aku obrolin sama Tesya, kalau mama keluar sebentar gapapakan."
"Ga papa, tapi kalau ada apa apa langsung teriak saja,"ujar mamanya.
" Hay sayang bagaimana kabarmu, aku sudah bangunlih kamu ga kepengen bangun juga. Mas kangen sama kamu bangun yuk, nanti kalau kamu sudah bangun kita jalan jalan kemanapun kamu mau," kata Kevin.
" Ayo sayang apa kamu tidak kangen sama Kay, sama aku sama keluarga yang lainnya. Mereka selalu disini menanti kita bangun, mereka sangat rindu kepada kita. Aku mohon dengan sangat sama kamu sayang biar mereka semua lega."
Satu jam berlalu Kevin menggenggam tangan istrinya, menunggu siapa tahu ia akan segera bangun dari tidurnya.
" Vin, mama pulang ya. Itu Rama, Arda sama abang kamu sudah sampai," pamit mamanya.
" Vin kalau ada apa apa langsung kasih kabar ya," sambung pak Bayu.
" Baik pa, hati hati di jalan ya."
" Punya adik satu saja susah banget di kasih tahunya. Kamu itu gimana sih Vin, kita semua disini setiap hari doain elu sama Tesya eh giliran udah sadar di suruh istirahat ga mau. Hargai dong pengorbanan kita semua, jangan seenak jidat kamu sendiri," omel Vano.
" Iya iya bang, satu setengah bulan ga ketemu tambah galak saja sih kamu bang. Nanti kalau punya anak masih galak serem."
" Di bilangin malah kaya gitu."
Dengan kesal Vano di bantu Rama membopong Kevin dan menidurkan di atas ranjang.
"Awas sampai kamu turun lagi," ancam Vano.
" Iya elu Vin ga kasihan apa sama aku, pengantin baru tapi tiap malam nemani kamu disini," gerutu Arda.
" Pengantin baru rasa lama, " balas Kevin.
" Maksudnya gimana kok aku ga paham," sambung Rama.
" Itu Arda nyicip dulu baru dinikahin," jawab Kevin.
" Lah kalau aku kaya gitu udah di gantung sama eyang plus langsung di coret dari penerima harta warisan. Makanya kamu cepetan pulih biar aku sama Dita bisa cepat cepat halal," kata Rama.
" Sabar mas Rama, itu Tesyanya juga belum sadar."
" Besok Tesya juga bangun, yang penting sekarang kamu tidur. Apa perlu aku bilang sama dokter buat kasih kamu obat tidur," omel Vano lagi.
" Siap abang, aku tidur tapi kalian jangan berisik."
Semuanya tertidur pulas karena sama sama capek, tepat azan subuh terdengar suara yang mengejutkan mereka.
" Mas, mas Kevin bangun." panggilnya lirih.
" Tesya,"panggil semuanya lalu berjalan mendekat.
" Da cepat panggil dokter aku mau bantu Kevin dulu naik kursi roda," ujar Rama.
" Oke mas."
" Mas Rama, panggil Tesya sambil tersemyum."
Tak kuasa menahan rasa yang campur aduk Rama langsung memeluk tubuh adiknya sambil menitikan air mata.
" Jangan nangis mas, aku ga papa kok."
Dengan bantuan kursi roda Kevin mendekat ke ranjang istrinya.
" Hay mas, " sapa Tesya.
" Sayang," panggil Kevin dengan mata yang sudah mengucur dengan derasnya.
" Ini kenapa pada nangis sih, aku kan gapapa."
" Nangis bahagia Sya, melihat kamu kembali sadar," kata Vano.
" Berapa lama aku tak sadar kak?"
" Hampir 2 bulan kamu sama Kevin tidur disini, setiap hari kita bergantian jaga kamu," jelas Rama.
" Mas Kevin, Kay mana?"
" Kay di rumah sayang, nanti siang pasti di antar kesini sama mama," jawab Kevin.
"Selamat pagi,selain pasien bisa tinggu sebentar di luar ," kata suster.
" Baik sus,"jawab Vano.
" Ini siapa dulu yang mau balik?" tanya Vano.
" Aku dulu ya bang, tadi Intan pesan suruh belikan sarapan ga sempat masak soalnya Key rewel semalam," jawab Arda.
" Oke, nanti siang kamu langsung ke kantor saja. Habis ini kalau Dita sudah sampai biar Vano juga pulang kasihan Sita di rumah sendiri."
" Yakin ga papa kalian disini berdua saja?" tanya Vano.
" Ga papa lagian itu bodyguard kamu juga masih pada stay disitukan."
" Tapi sebelum kamu pulang aku ke depan bentar ya mau beli makan, kamu mau titip ga?"
" Nitip kopi ya, sekalian belikan buat mereka nanti uangnya aku ganti. Beli sarapan juga buat mereka, kalau aku nanti saja sarapan di rumah. Sayang kalau Sita udah masak nanti ga ke makan."
" Oke."
Selepas Rama pergi dokter yang memeriksa Kevin dan Tesya keluar.