
Vano papa dan anak buahnya mengikuti orang tersebut untuk menemui bossnya, semuanya bersembunyi agar tak menimbulkan kecurigan. Setelah agak lama menunggu datanglah sosok laki laki yang membuat Vano geram.
" Ada apa kamu menemui saya?"tanya Martin.
" Mau minta bayaran karena saya sukses membuat orang yang anda maksud celaka," jawabnya.
" Kemarin sudah aku transfer bodoh, uang segitu masih kurang banyak?" bentaknya.
" Itu tak sesuai dengan apa yang anda janjikan sama saya kemarin, anda berjanji memberikan dua kali lipat dari itu. Bayaran segitu tak sebanding dengan apa yang saya kerjakan."
" Jangan main main sama saya,"gertak Martin.
Pelan pelan Vano dan papanya keluar dari persembunyiannya dan menangkap Martin dari belakang.
" Apa apaan ini," teriak Martin.
" Kamu yang apa apaan, kalau ada masalah sama saya selesaikan secara jantan tidak menyuruh orang untuk melakukkannya," kata Vano.
"Vano," panggilnya.
" Kata kamu kamu sudah sukses mencelakai dia, kenapa dia sekarang ada disini?" teriak Martin.
" Maaf bos saya salah orang, ternyata yang kemarin bukan dia yang celaka."
" Iya bukan saya yang celaka tapi adik dan adik ipar aku yang jadi korban. Masalah pekerjaan sampai dendam seperti ini, ga lucu. Semuanya bawa orang ini ke kantor polisi," ujar Vano.
Vano papa dan semua anak buahnya berjalan menuju ke kantor polisi terdekat untuk memproses Martin. Sementara itu di rumah sakit Tesya dan Kevin di jengguk oleh sahabat sahabatnya, ada Lia, Bram, Arda dan Intan.
" Sya kamu bangun dong, kan kamu sudah janji mau temani aku pas acara akad nanti," kata Intan.
" Sya, kita sudah sepakat mau jalan jalan bareng kalau habis acara Intan. Ayolah Sya, kamu bangun kamu itu sahabat aku yang paling baik, yang selalu dengar semua ceritaku," sambung Lia.
" Sya, apa kamu ga kangen sama kita, jangan tidur terus dong buka mata kamu."
" Vin, aku tahu kamu kuat aku tahu kamu hebat, kamu pasti bisa melewati ini semua. Tapi aku mohon sama kamu sama Tesya jangan lama lama kaya gininya kita ga kuat lihat kalian hanya tidur tak berdaya seperti ini," kata Arda lirih.
" Tante, sebenarnya kejadiannya seperti apa sih kok bisa membuat pak Kevin sama Tesya jadi seperti ini?" tanya Intan.
" Kemarin Vano sempat tanya sama Wawan kronologinya seperti apa. Jadi Tesya sama Kevin itu berangkat dari rumah orang tuanya sesampainya tengah jalan Wawan bilang sama Kevin kalau ada mobil yang dari tadi mengikuti mereka. Tapi Kevin bilang kalau mungkin mereka searah saja, bahkan waktu mereka masuk tol mobil itu terus mengukutinya sampai pas keluar dari tol mobil yang di tumpangi Tesya di tabrak dari bekalang dan terjadilah tabrakan beruntun. Karena benturan yang cukup kuat mobil Tesya melaju menabrak Truk di depannya. Kemarin semuanya sempat tak sadarkan diri tapi Wisnu tak separah Tesya dan Kevin."
" Tapi Kevin dan Tesya ga papakan Tan?" tanya Arda.
" Kata dokter Tesya gapapa tapi kalau Kevin kehilangan ingatan, tapi tidak semua hanya sebagian saja. Yang tante dan keluarga takutkan Kevin lupa sama Tesya dan Kay."
" Padahal setahu aku Kevin itu tak punya musuh loh tan," kata Arda.
" Vano sama papanya sekarang sedang menyelidiki siapa dalang di balik kejadian ini, dugaan sementara orang itu salah sasaran yang mau mereka buat celaka itu sebenarnya Vano," jelas mamanya Kevin.
" Ya allah, semoga semuanya lekas mendapatkan titik terang," kata Lia.
"Tenang saja tante nanti Rama bakal bantu Arda di kantor Kevin," sambung Rama yang baru datang.
" Terima kasih nak Rama, bagaimana Kay masih rewel terus?"
" Sedikit bu, tadi pas saya sama mas Rama mau berangkat kesini Kay tidur sama eyang. Papa sama mamanya mbak Tesya berencana mau mengajak Kay datang kesini, siapa tahu mendengar suara Kay bisa membuat mbak Tesya sama mas Kevin cepat sadar."
" Ide bagus, tapi apa anak seusia Kay boleh masuk kesini?"
" Kita usahakan tante, lagian ini demi kebaikan pasien. Aku berharap Kevin dan Tesya cepat sadar kasihan Kay, kasihan eyang tiap hari nangis terus kalau dengar kabar Tesya sama Kevin. Kita sampai harus bohong sama beliau kalau mereka berdua baik baik saja biar kondisinya juga tidak drop."
" Kapan Kay mau di ajak kesini, biar tante ijin sama dokter. Semoga dokternya memberi ijin agar Kay bertemu sama mama papanya."
" Secepatnya tante."
" Tan, kita mau cari penginapan dulu besok kita kesini lagi. Kasihan Key sama anaknya Lia di luar sama baby sister."
" Iya kalian hati hati ya, kasih kabar sama tante kalau kalian sudah dapat tempat biar tante ga was was. Takutnya orang yang mencelakai Kevin masih ada di sekitar sini dan mengincar orang orang terdekatnya."
" Baik tante, tante disini juga baik baik ya kalau ada apa apa kasih kabar sama Arda. Mas Rama nitip tante ya, dia sudah aku anggap seperti mamaku sendiri," ujar Arda.
" Siap bro, kalian tenang saja disini penjagaannya sudah di perketat sama Vano kok jadi aman."
" Sip, aku pamit. Kalau butuh apa apa bilang sama saya ini aku kasih kartu namaku."
" Oke."
Kini di rumah sakit tinggal Rama, Dita, Sita dan mamanya Kevin semua menunggu di luar karena memang tak di perbolehkan menunggu di dalam.
" Ma, Sita cari makan dulu ya. Mama mau makan apa biar Sita belikan."
" Mama ga napsu makan Ta, kamu saja yang makan."
" Ma, jangan kaya gini, kalau mama ikut sakit kasihan papa sama Vano. Mama itu sumber kekuatan mereka ayolah ma jangan di siksa tubuh mama," bujuk Sita.
" Terserah kamu saja kita makannya sama."
" Ya udah, aku sama Dita jalan ya ma."
" Kalian hanya berdua saja, bahaya loh."
" Ga kok ma, itu bodyguartnya mas Vano sudah nunggu disana."
" Kalian hati hati ya."
" Baik ma, mas Rama nitip mama ya."
" Siap."