
" Jujur kamu itu kenapa orang suaminya panik malah di bercandain ga lucu, Vano marah."
" Tolong ambilkan amplop yang ada di tas aku bang,ujar Sita."
" Di tanya sakit apa juga malah nyuruh ambil amplop, Vano terus marah marah."
Dalam hati Sita bahagia bisa mengerjai suaminya sampai uring uringan.
" Sekarang mas duduk dulu, itu amplopnya di buka terus isinya di baca, titah Sita."
Vano menuruti perintah istrinya, dia duduk di samping Sita dan dengan saksama membaca isi dari amplop itu. Wajahnya mulai berseri seri begitu membaca surat itu.
" Ini beneran kan sayang, kamu ga lagi ngeprank aku kan, tanya Vano masih tak percaya."
" Ya benerlah masa aku bercanda sih bang."
" Akhirnya sayang penantian panjang kita, seru Vano lalu memeluk tubuh istrinya."
" Iya bang, tapi selama trimester pertama aku harus stay di atas kasur soalnya kandungan aku lemah."
" Ga papa sayang, yang penting kamu dan calon anak kita baik baik saja."
Vano berlari keluar kamar mencari keberadan adiknya sambil teriak teriak.
" Vin... Sya... kalian dimana sihh aku mau kasih kabar bahagia nih, teriak Vano."
" Jangan teriak teriak bang, Kaylanya tidur emang berita apa sih sampai segitu hebohnya, kata Kevin kesal karena me timenya sama istri di ganggu."
" Tahu ga Vin Sya ternyata Sita hamil, sebentar lagi aku jadi papa, kata Vano kegirangan."
" Sudah tahu, kasihan abang telat tahunya. Sudah sana temani kak Sita ganggu saja."
" Huu dasar, umpat Vano lalu meninggalkan Kevin dan Tesya."
" Jangan gitu lah mas sama bang Vano kan dia lagi bahagia.Masa kebahagiannya langsung di patahkan kaya gitu."
" Biarinlah kata Kevin."
" Mas anak anak kantor ada yang tahu ga masalah Intan sama pak Arda."
" Sampai saat ini sih masih aman aman saja. Tadi di kantor Arda bilang kalau Intan mau keluar."
" Gitu ya mas, wah kasihan Lia sendirian. Mas kehilangan tim andalan nih, goda Tesya."
" Uluh uluh so sweetnya, mas pengen deh pergi kemana gitu berdua aja.Tapi ga usah nginep misalnya jalan kemana atau ga makan malam berdua gitu."
" Hemm pengen kaya kak Sita ya,goda Kevin."
" Bukan mas cuma pengen me time saja sama mas. Tapi nanti Kayla sama siapa, sama kak Sita ga mungkin banget. Hufttt..."
" Di atur saja dulu waktunya sayang toh tiap malam kita juga sudah me time kan. Bisa ngobrol kaya gini sudah bikin mas bahagia."
Kevin menatap wajah Tesya, semakin lama semakin dekat. Tambah dekat lagi, ketika wajah keduanya hanya berselisih 5 cm di kejutkan dengan suara abangnya yang berteriak.
" Vin, Sya aku sama Sita pulang ya, teriak Vano."
" Pulang sana dari tadi gangguin saja,orang lagi asik juga, gerutu Kevin."
" Makan yuk mas nanti keburu Kayla bangun, ajak Tesya."
Keduanya asik menikmati makan malam berdua, ya malam ini hanya berdua saja karena Intan sudah pindah ke apartement Arda.
" Sayang aku ke ruang kerja dulu ya ada beberapa pekerjaan yang belum selesai kalau kamu capek istirahat dulu saja."
" Iya mas, lemburnya jangan sampai larut."
Tesya terlelap di samping Kayla, tapi sampai larut malam suaminya tak kunjung kembali ke kamarnya. Tesya bangun dan mencari suaminya.
Ternyata Kevin ketiduran di sana, mau di bangunkan kasihan tidak di bangunkan juga kasihan.
" Mas bangun ayo pindah ke kamar, kata Tesya sambil menggoyang goyangkan tangan suaminya."
" Hemmm, Kevin hanya mendehem lalu bangkit dari tempat duduknya."