I LOVE YOU BOSS

I LOVE YOU BOSS
170# BAB 170



Sebulan sudah Tesya dan Kevin tak sadarkan diri, semua keluarga silih berganti menunggu keduanya. Sampai keduanya melewatkan araca pernikahan Arda dan Intan, melewatkan semua rencana liburannya. Bahkan Rama dan Dita sepakat menunda acara lamarannya.


" Ma, pa dan semuanya bagaimana kalau Kevin sama Tesya kita pindah ke luar negri, siapa tahu disana bisa mempercepat kesembuhan mereka," ujar Vano.


" Tapi kayanyaga mungkin Van, kondisi mereka sangat lemah. Kita tunggu sampai seminggu kedepan kalau memang belum ada perkembangan kita tanya sama dokter bagaimana baiknya,"jawab pak Bayu.


Seketika semua hening, tanpa ada kata yang keluar dari mereka. Sesekali mereka menatap 2 orang yang lemah terbaring di ranjang tak bergerak.


" Ram, gimana sama kantor amankan?"tanya Vano.


" Aman Van, tapi ya gitu. Kadang ada yang suka seenaknya sendiri."


" Semoga mereka berdua lekas pulih, kasihan Kay udah sebulan lebih ga dapat kasih sayang keduanya. Beruntung stok asi Tesya di kulkas banyak jadi aman."


" Aku kangen Van berantem sama Tesya, kangen di omelin sama dia kangen celotehan manjanya. Sya, Vin kalian bangun dong," kata Rama memelas.


" Doakan saja adikmu Ram, semoga ada mukjizat yang bisa membuat mereka lekas siuman."


Pukul 21.00 semuanya pulang tinggal Rama dan Dita yang menunggu.


" Mas kita ngajikan siapa tahu dengan kita tolong mereka bisa cepet sadar," ajak Dita.


" Ide bagus tapi sebentar aku ambil wudhu dulu."


" Oke gantian ya mas biar disini ga kosong."


Satu jam berlalu keduanya masih melantunkan ayat ayat Alqur'an demi kesembuhan saudaranya.Bahkan Dita sambil menggegam tangan Tesya.


Ketika mereka sudah lelah tiba tiba tangan Kevin bergerak dan perlahan membuka matanya.


" Ta cepat panggil dokter," ujar Rama.


" Dok, dok," teriak Dita sambil berlari menuju ke luar ruangan.


Selang lima menit Dokter datang beserta beberapa suster.


" Mas sama mbak bisa menunggu di luar," ujar salah satu suster.


Rama dan Dita memberi kabar kepada Vano dan yang lainnya kalau Kevin sudah mulai sadar. Sambil menunggu dokter keluar keduanya mondar mandir tai karuan karena masih panik.


" Ih mas Rama ikut ikutan saja bolak balik."


"Ih biarin kenapa, habis kalau aku cuma diam saja bikin tambah panik tahu. Mana dokter sama susternya lama banget periksanya."


"Keluarga dari bapak Kevin dan ibu Tesya," panggil dokter yang baru keluar dari ruangan.


" Iya dok saya kakaknya, bagaimana keadaan kedua adik saya?" tanya Rama.


" Alhamdulillah pak Kevin sudah siuman tetapi masih lemah. Diaknosa awal yang saya bilang kemungkinan pak Kevin amnesia ternyata salah, beliau masih ingat dengan istri dan keluarganya. Tapi kalau ibu Tesya belum siuman tapi kondisinya lebih baik. Kita bantu dengan doa semoga keduanya lekas pulih," ujar dokter.


" Apa boleh kita masuk ke dalam dok buat jenguk keduanya?"


" Boleh pak, silakan."


Rama dan Dita berebut masuk kedalam untuk melihat bagaimana keadaan Kevin.


" Alhamdulillah akhirnya kamu sadar juga Vin," kata Rama lalu memeluk tubuh Kevin yang masih terbaring di atas ranjang.


" Iya mas, alhamdulillah," jawab Kevin pelan dengan sedikit senyum.


" Boleh," jawab Kevin.


Di belakang Rama, Dita menitikan air matanya karena melihat bosnya sudah siuman.


" Dit, Kay mana?"


" Kay di rumah mas, tadi pagi sampai sore sudah disini kemungkinan nanti kalau semuanya kesini Kay bakal ikut lagi," jawab Dita.


" Tesya gimana?" tanya Kevin lagi.


" Tesya belum sadar Vin, tapi keaadannya semakin membaik. Kamu tenang saja Tesya aman kok sama kami, pokoknya kamu fokus dulu sama kesehatan kamu biar cepet pulih dan jagain Tesya."


Setengah jam berlalu Vano dan Sita yang hamil besar datang dengan raut bahagia karena mendengar kabar kalau salah satu adiknya sudah siuman. Dengan sedikit berlari sambil menggandeng tangan istrinya Vano masuk ke ruangan rawat.


" Kevin," panggil Vano lalu memeluk tubuh adiknya dan menumpahkan air matanya.


" Apaan sih bang, datang datang nangis lagi. Kalau karyawan kamu disini pasti elu di ketawain. Masa seorang Vano yang galak kaya singa nangis," ledek Kevin.


" Asli kalau elu ga sakit udah aku bantai, ga tahu apa rasanya khawatir satu setengah bulan. Elu ngapain coba tidur selama itu, ga kasihan sama yang sehat sehat ini senam jantung tiap hari. Giliran udah sadar kembali ke setelan pabrik, aku kira beneran amnesia ternyata lebih menyebalkan di banding sebelumnya."


" Udah udah kalian kalau ketemu selalu kaya gitu, ga kakak ga adik sama saja," kata Sita.


" Vin elu tahu ga siapa yang buat kamu sama Tesya seperti ini?"


" Ya galah bang, setahu aku pas aku mau keluar kota sama Tesya dari rumah mama itu udah ada yang buntuti.Sampai akhirnya pas keluar tol mobil itu dengan kecepatan tinggi menabrak mobil bagian belakang. Terus mobil yang aku tumpangi terbalik beberapa kali,waktu itu aku masih sadar panggil panggil Tesya sama Wawan tapi ga ada jawaban sampai akhirnya aku ga tahu apa yang terjadi."


" Yang buat kamu kaya gini itu Martin, rival abang dari dulu. Dia kira yang di dalam mobil itu aku ternyata salah sasaran. Tapi kamu tenang saja Martin dan kompkotannya sudah bahagia di dalam sel," jelas Vano.


" Udah mas, kasihan Kevin jangan di ajak cerita terus biar dia istirahat."


" Bang mama sama papa baik baik saja kan?"


" Kamu tenang saja Vin, mama sama papa sehat kok cuma sekarang beliau beliau agak kurus karena mikirin anak kesayangannya tak bangun bangun dari tidurnya."


" Tadi mama sama papa udah aku kasih tahu kalau kamu sadar paling sebentar lagi juga sampai sini,"jelas Sita.


" Sya bangun dong, masa kamu tega sih sama aku. Kalau kamu bangun terus sehatkan aku bisa langsung nikah sama Dita," kata Rama di samping Tesya.


" Rama Rama, udah ga sabar ya bisa kaya gini," ledek Vano sambil memeluk tubuh Sita.


" Ayolah Sya, bangun masa iya sih aku cuma lihat kalian mesra mesraan sementara aku hanya jadi penonton kan aku juga pengen."


Mendengar kata kata Rama, wajah Dita jadi merah bak udang rebus karena malu.


" Aduh aduh aduh sakit," teriak Rama.


" Kamu itu Ram belum kerja kok mau nikahi anak orang,mau kamu kasih makan angin," kata eyang yang baru datang.


" Ah eyang, kan aku cuma kasih semangat Tesya biar cepet bangun. Ini ngomong ngomong eyang datang sama siapa?" tanya Rama.


" Sama paklek bulekmu, itu mereka masih di belakang sambil dorong Kay. Gimana Vin keadaan kamu?" tanya eyang.


" Ya kaya yang eyang lihat, masih lemah kaya gini."


" Ayo semangat sembuh itu Kay ikut kesini," ujar eyang.