
Seminggu setelah keluar dari rumah sakit, Tesya dan Kevin melakukan pesta resepsi yang sangat meriah. Keluarga besar, teman dan kolega dari keduanya tampak berbaur meramaikan acara.
Walaupun persiapannya tidak begitu sempurna karena keterbatasan waktu tapi mereka tetap bersyukur. Senyum keduanya tampak menghiasi bibirnya.
Raut bahagia tampak terpancar dari keduanya. Kebaya dengan warna abu abu dengan hiasan bordir dan payet mempercantik tubuh Tesya. Sedangkan Kevin memakai setelan jas yang membuatnya terlihat tampak gagah.
Acara berlangsung sampai pukul 22.00, malam itu Tesya dan Kevin memilih untuk bermalam di hotel tempat mereka menggadakan pesta.
" Terima kasih ya mas, buat hari ini, semoga ga ada yang salah pahan lagi sama kita."
" Iya sayang, maaf ya dulu aku udah maksa kamu, sampai harus sembunyi sembunyi."
" Ga papa mas, mungkin kalau ga di paksa sampai saat ini masih jomblo juga. Lagian menikah ga seseram yang aku bayangkan. Yang penting sekarang aku bahagia bisa menikah sama mas."
" Iyalah orang menikahnya sama mas, kalau sama yang lain belum tentukan, goda Kevin."
" Ihh mas ke PDan, siapa tahu lebih bahagia dari pada sama mas, ledek Tesya."
" Yakin, bakal lebih bahagia?"
" Udah ah berdebat sama mas itu ga bakal bisa menang, gerutu Tesya."
" Sayang, kalau mulai lusa bi Mun, tinggal di rumah gimana? Mas ga mau kamu capek capek, udah urus toko, cattring masih sibuk juga di rumah."
"Kalau aku sih ngikut aja, tapi apa bi Mun mau mas?"
" Ya besok kita tanya, lagian mereka di rumah cuma bertiga itupun dulu sebelum pak Udin jaga malam. Kasian mereka sayang belum punya rumah sendiri juga. Kalau mereka tinggal di rumah kita paling tidak bisa mengirit uang buat bayar kontrakan."
" Oke, mas besok kita bicarain lagi. sekarang bantuin lepas assesoris dong mas, udah gerah rasanya, pinta Tesya."
" Ada imbalannya ga nih, goda Kevin."
Tak terasa sudah jam 23.00,Tesya sudah ga mampu menahan rasa kantuk dan lelahnya. Keduanya langsung memejamkan matanya.
Pagi harinya ketika Kevin dan Tesya hendak cek out, keduanya terkejut melihat Arda dan Intan sedang berada di resepsionis.
" Mas, itu bukannya Arda sama Intan ya. Itu orang benar benar nekad, apa ga mikirin gimana resikonya."
" Udahlah sayang ga usah mikirin mereka beberapa kali mas udah nasehati Arda tapi percuma, toh masih kaya gitu juga."
" Sebenarnya aku kasian mas sama Intan, sudah orang tuanya galak, eh pacarnya kaya gitu."
" Makanya mas semalam bilang sama kamu, kalau kamu itu beruntung dapat mas.Coba kamu kenalnya orang kaya Arda, kalau akhirnya di nikahin ga papa lah kalau ga gimana coba."
" Iya dech suami aku ini paling baik kok, ga ada yang ngalahin."
" Hari ini pokoknya aku mau ngajak kamu ke suatu tempat,yang pasti bisa buat bahagia, ujar Kevin."
" Ya udah ayo barangkat mas, udah ga sabar nih rasanya. Tapi makan dulu ya mas aku udah laper."
" Siap bu bos, kata Kevin yang mulai melangkahkan kakinya."
Kevin sudah menyiapkan kejutan buat Tesya sebagai rasa syukurnya atas kesembuhannya. Bahkan ia sendiri yang mempersiapkan semuanya, karena ia tak ingin ada orang lain yang tahu.