
Di salah satu rumah di antara jejeran rumah-rumah untuk para staf yang disediakan oleh Martin, tampak Monang sedang menerima panggilan telepon dari Karman sambil diperhatikan oleh Jabat dan Ucok.
Menurut Karman, bahwa saat ini beberapa pengawal yang bertugas menjaga kediaman Martin di komplek elit sudah bergerak menuju rumah Beni.
Karman juga tidak lupa menyampaikan bahwa orang-orang itu juga menyebutkan tentang geng tengkorak. Semua yang disampaikan oleh Karman ini tentunya menurut versi Karman yang terkenal besar pasak dari tiang.
Seluruh berita yang disampaikan oleh Karman tentunya sudah di bumbui sendiri olehnya supaya terdengar sangat Wah dan cetar membahana.
Hal ini tentu saja membuat Monang segera mempersiapkan segala sesuatunya dengan mengajak Ucok, Jabat, Sugeng dan Thomas untuk merundingkan langkah yang harus mereka ambil. Hal ini karena si pemilik wewenang sedang berada di Hongkong untuk melakukan bisnis nya. Maka dari itu, saat ini semua keputusan harus dirundingkan bersama keempat sahabat Tigor.
"Bang Monang. Siapa yang menelepon mu?" Tanya Ucok.
"Karman."
"Ah. Kirain siapa tadi. Mau apa dia Bang?" Tanya Ucok lagi.
"Cok. Mungkin akan terjadi perkelahian malam ini. Si Beni penghianat itu meminta bantuan kepada geng tengkorak untuk membuat kekacauan di sini." Kata Monang.
"Karman kah yang memberi kabar?" Tanya Sugeng.
"Benar." Jawab Monang.
"Abang percaya dengan omongan meletup dari Karman itu?" Tanya Jabat.
"Kali ini mau tidak mau kita harus percaya. Apa pun itu asalkan menyangkut tentang geng tengkorak, tidak ada salahnya untuk mempercayai informasi dari Karman ini." Kata Monang.
"Apakah Boss Martin sudah tau masalah ini Bang?" Tanya Thomas.
"Dia tau pun percuma. Beni terus-terusan menempel di sisi Martin. Kalau Karman mengadukan hal ini kepada Martin, pasti akan jadi bomerang bagi Karman sendiri. Ini karena bisa saja Beni beralasan bahwa Tigor sengaja menempatkan Karman di sisi Martin untuk menghasut Martin agar Beni tersingkir. Aku sudah melarang Karman untuk melaporkan hal ini kepada Martin." Jawab Monang.
"Ada benarnya juga yang kau katakan itu Bang. Dengan kelicikan Beni, dia bisa saja memutar belit fakta. Walaupun Martin tau bahwa Bang Tigor sangat setia, namun yang namanya posisi dan pengaruh, bisa saja dia berfikiran bahwa Bang Tigor ingin menyingkirkan Beni untuk mengontrol semua kekuatan yang ada dalam organisasi geng kucing hitam." Kata Sugeng.
"Masalah ini jangan terlalu kita fikirkan. Ini adalah masalah orang-orang yang memiliki kedudukan tinggi di sisi Martin. Siapa lah kita ini untuk membahas itu. Kita sampai sekarang pun masih menjadi tukang jaga parkir dan pelayan. Tunggu saja Bang Tigor kembali dari Hongkong." Kata Ucok.
"Benar itu Cok. Bang Monang! Saat ini apa yang harus kita lakukan?" Tanya Ucok lagi.
"Tidak ada pilihan. Kita kumpulkan semua anak buah bang Tigor. Salah satu dari kita harus ada yang menyamar menjadi Black Cat. Aku akan menutup pusat hiburan untuk malam ini. Biarkan mereka mengalami kegagalan." Kata Monang.
Setelah berkata begitu, Monang kembali berfikir.
"Bang. Saat ini orang-orang yang bekerja di bawah Bang Tigor berjumlah sekitar 196 orang. Sebagian dari mereka ada di posisi-posisi yang sudah ditentukan oleh bang Tigor. Tapi masih banyak diantara mereka yang berada di sini. Jumlah kita bisa lebih dari 200 orang andai ditambah dengan anak buah Abang sendiri. Kita jebak saja mereka bang!" Kata Thomas.
"Dugaan ku adalah, Sebenarnya target mereka ini adalah kalian. Apa kalian ingat beberapa bulan yang lalu anak buah geng tengkorak berkeliaran di Tasik putri ini untuk mengorek informasi tentang jadi diri Tigor, adik nya serta orang-orang yang terdekat dengannya? Rangkaian peristiwa ini membuat aku berfikir bahwa kehadiran Tigor sangat merugikan orang-orang itu. Mereka tentu berfikir dua kali untuk berhadapan dengan Tigor yang memiliki Black Cat sebagai pengawal bayangannya. Namun jika orang terdekatnya yang mereka serang, ini tentu akan melemahkan Tigor. Ini masih sebatas dugaan ku saja." Kata Monang.
"Begini saja. Kalian bersembunyi saja. Juga jangan ungkit bahwa Tigor memiliki seorang wanita di rumahnya. Jika mereka tau, Mirna pasti akan menjadi target mereka." Kata Monang.
Mendengar Monang meyarankan mereka untuk bersembunyi, hal ini kontan saja membuat keempat sahabat Tigor saling pandang dan serentak menggelengkan kepala mereka.
"Bang. Kalau memang kami yang menjadi Target mereka, dan Beni yang membocorkan tentang kami kepada Birong, itu malah lebih baik. Kita sudah saling kenal antara satu dan yang lainnya bahwa kita anak-anak jalanan ini memiliki bekal dari jalanan. Dan kita juga saling tau bahwa kita bukan orang yang mudah untuk dijadikan target. Tidak ada diantara kita yang ditempa oleh kerasnya kota Tasik putri ini yang tidak bisa melindungi diri. Jangan sembunyi bang. Jika ingin selamat dari medan perang, maka kau harus terjun langsung untuk berperang. Kami tegaskan bahwa kami bukan pengecut." Kata Sugeng.
"Ini lah masalahnya. Aku juga adalah bawahan. Banyak keputusan yang tidak bisa aku ambil. Di atas ku masih ada Marven, Tigor, Beni dan Martin. Berbeda dengan Tigor. Dia tidak butuh meminta izin dari siapa pun untuk bertindak." Kata Monang.
"Kita membela diri. Bukan gegabah. Sekarang kita hanya bisa bersiaga penuh. Kumpulkan semua anak buah kita, lalu sambut kedatangan mereka." Kata Jabat.
"Ya. Kita sambut kedatangan mereka."
"Kalian berempat jangan berpisah. Tunggu aku di sini. Aku akan mengumpulkan anak buah Tigor dan menempatkan mereka di pusat hiburan."
"Iya bang. Abang atur saja lah gimana baiknya. Tapi jika ingin menjebak, Jangan jadikan mereka sebagai pengawal. Biarkan mereka sebagai pengunjung atau pelanggan. Takutnya nanti mereka malah batal menyerang jika kita terlihat seperti menunggu kedatangan mereka." Kata Sugeng.
"Hahaha. Betul juga pendapat kau Geng." Kata Monang.
"Bang. Jangan lupa untuk terus berkomunikasi dengan Karman. Ternyata banyak juga untung nya si Karman berada di sana. Bang Tigor benar-benar memikirkan semuanya sebelum dia pergi ke Hongkong." Kata Ucok.
"Jangan lupa Cok. Bang Tigor itu anak seorang Kapten polisi. Hal-hal seperti ini sudah biasa bagi mereka. Jika tidak memiliki pemikiran yang panjang, dia tidak mungkin akan memindahkan Rio sekolah ke luar pulau sumatra." Kata Thomas.
"Benar juga. Lihat saja semenjak Rio tidak berada di tasik putri ini, Bang Tigor semakin leluasa bergerak." Kata Ucok.
"Dia itu sangat perhatian. Rio dia ungsikan. Kita di larang untuk bergabung dengannya. Sedikit-demi sedikit setelah berbagai rangkaian peristiwa yang terjadi, aku mendapat kesimpulan dari alasan mengapa dia tidak mau mengajak kita untuk bergabung dengan kelompok geng yang dia bentuk."
"Apakah nanti kalian akan mengikuti Tigor ke kota Kemuning?" Tanya Monang.
"Tentu Bang. Kami harus pergi ke sana. Di Tasik putri ini sudah terlalu panas. Sebaiknya abang juga harus ikut." Ajak Sugeng.
"Nanti aku fikirkan. Saat ini aku harus memikirkan apa yang akan terjadi malam ini."
"Oh ya. Kalian tunggu di sini. Jangan kemana-mana. Aku hanya mengumpulkan orang-orang bang Tigor. Setelah itu kita bahas lagi rencana selanjutnya." Kata Monang sambil bangkit dari tempat duduknya dan melangkah keluar meninggalkan keempat sekawan itu.