
Setelah rombongan Debora, Irfan, Maya, Rini dan yang lainnya meninggalkan restoran itu, Tigor pun akhirnya keluar juga meninggalkan restoran tersebut karena memang tidak ada lagi yang bisa dia lakukan di sana.
Sambil merogoh saku nya, Tigor menghitung berapa sisa uang yang dia miliki dan ternyata masih lebih dari cukup untuk ongkos kembali ke jembatan tempat dia dan sahabat-sahabat nya tinggal.
Sudah hampir 1 jam Tigor berjalan sambil melirik kebelakang kalau-kalau ada angkot yang lewat. Namun harapannya hanya sia-sia. Karena sejauh ini dia berjalan, belum juga ada angkot.
"Mungkin karena sudah jam segini. Mungkin tidak ada lagi angkot." Kata Tigor dalam hati. Lalu dia segera duduk di bawah pohon mangga milik warga yang kebetulan ada bangku di bawah pohon rindang tidak jauh dari pinggir jalan tersebut.
"Kafe melody sudah tidak jauh lagi dari ini." Kata Tigor dalam hati. Lalu dia kembali berdiri dan mengayunkan langkahnya mengarah ke kafe Melody.
Di sepanjang jalan, semua masalah satu persatu mengganggu fikiran nya. Mulai dari Ucok yang sakit dan butuh banyak uang untuk biaya perawatannya, adiknya yang juga butuh uang untuk biaya sekolah sampai pada yang terakhir ini, di mana dia sangat merasa terhina oleh teman-teman Debora bahkan Debora juga meninggalkan dirinya sendirian di restoran tadi.
"Oh Tuhan. Alangkah terhinanya jadi orang seperti aku ini." Kata Tigor bergumam dalam hati.
Sambil terus berjalan, dia mengeluarkan ponsel pemberian Martin beberapa hari yang lalu kepadanya di restoran Samporna.
Dengan fikiran yang sangat kalut, dia memutar-mutar ponsel itu diantara jepitan jari tangannya sambil terus berfikir keras.
"Jika uang bisa menyelesaikan banyak masalah. Jika uang bisa membuat aku tidak terhina. Jika uang yang menjadi ukuran sebuah persahabatan, maka dengarkan aku Tasik Putri..! Aku akan pastikan bahwa mulai esok, aku akan mandi uang!!!" Kata Tigor tiba-tiba berteriak membuat semua mata kini tertuju kearah dirinya yang sedang berjalan kaki di pinggir bahu jalan kota tasik putri ini.
Sambil terus berjalan, Tigor akhirnya menekan tombol on di ponsel pemberian Martin tersebut, lalu menunggu sampai ponsel itu di mode standby.
Setelah ponsel itu siap pakai, Tigor lalu mengutak-atik ponsel itu dan kini dia menemukan nama Martin di sana.
Hampir 10 menit Tigor berfikir sampai akhirnya dia membulatkan tekat untuk melakukan panggilan.
Dengan memejamkan mata dan mendongak ke langit, Tigor akhirnya menekan tombol panggil di ponsel tersebut lalu menunggu sejenak sampai panggilan itu terhubung.
"Halooo Tigor. Hahaha... Akhirnya kau menelepon ku juga." Kata Martin dengan sangat bersemangat sekali mengetahui Tigor akhirnya menelepon dirinya.
"Kau di mana Martin?" Tanya Tigor dengan nada datar.
"Saat ini aku baru akan berangkat ke kafe Melody. Aku menerima laporan bahwa anak buah Birong membuat onar lagi di kafe melody. Kau di mana sekarang ini Gor?" Tanya Martin.
"Kebetulan aku tidak jauh dari kawasan kafe Melody. Mungkin sekitar 15 menit berjalan kaki akan sampai ke kafe melody." Jawab Tigor.
"Kebetulan sekali. Tadinya aku ingin membawa anak buah ku. Tapi karena ada kau, maka kita berdua saja menghadapi anak buah Birong ini." Kata Martin.
"Asal itu menyangkut geng tengkorak, kapan dan di mana pun, aku bersedia." Kata Tigor dengan nada dingin.
"Kau berangkat ke kafe melody sekarang Tigor! Kita berjumpa di sana." Kata Martin.
"Baiklah. Aku akan tiba di sana dalam beberapa menit." Kata Tigor lalu memasukkan ponselnya begitu saja ke dalam saku celana tanpa mengakhiri panggilan.
"Sialan Tigor ini. Dia mungkin lupa mengakhiri panggilan." Kata Martin bergegas ingin mengakhiri panggilan itu. Namun dia mengurungkan niatnya karena mendengar deru suara angin dan gemerisik suara dari ponsel nya.
"Apa yang di lakukan oleh Tigor ini?" Kataartin dalam hati penuh tanda tanya.
"Alah persetan. Aku harus segera menemuinya di kafe melody. Ini kesempatan untuk menariknya masuk ke dalam organisasi." Kata Martin bergegas masuk ke mobil dan kemudian tancap gas menuju ke kafe melody.
*********
Saat ini Tigor sudah tiba di depan kafe melody melalui jalan pintas dengan cara berlari.
Ketika dia tiba di depan kafe tersebut, dia sempat melihat beberapa orang lelaki sedang mengganggu pelayan wanita di kafe itu. Dia juga sempat melihat dua orang lelaki mendekati kasir lalu mengancam penjaga kasir itu untuk memberinya uang.
"Brengsek Martin ini. Apa dia sengaja menguji aku atau mau menjadikan aku umpan untuk orang-orang geng tengkorak ini?" Kata Tigor dalam hati.
"Sialan kau Martin. Benar-benar kau datang sendirian."
"Heh siapa itu?" Kata Martin terkejut karena tiba-tiba saja satu suara menegur tepat di belakang telinga nya.
Dengan sedikit merinding, Martin pun memutar badan dan dia kini menarik nafas lega karena yang dia lihat saat ini adalah wajah Tigor.
"Kapan-kapan kau berada di belakang ku Gor?" Tanya Martin dengan heran.
"Kapan-kapan saja lah." Jawab Tigor lalu membuka pintu mobil Martin dan memasukinya.
"Tigor. Kita kemari mau menumpas geng tengkorak. Kau ini membuat lawak pulak lah masuk ke dalam mobil." Kata Martin geram.
"Pak Martin. Aku harap kau bisa menjaga rahasia!" Kata Tigor lalu segera melepas bajunya, mengeluarkan topeng kucing berwarna hitam di balik pinggang lalu memakainya.
"Kau..! Tigor. Ternyata kau?!"
"Jaga rahasia ku Martin! Karena jika ada yang mengetahui bahwa aku adalah Black Cat, kota tasik putri ini akan banjir darah." Kata Black Cat sambil keluar dari dalam mobil lalu meluruk memasuki kafe dan tanpa ba-bi-bu lagi langsung..,
Bugh....!
Praaaak...!
"Heh siapa kau?"
"Banyak tanya. Aku adalah Black Cat." Kata lelaki bertopeng itu sambil mengirim tinju nya kearah bibir orang itu.
"Gigi kuuuu.... Sialan kau. Gigi kuuuu...!" Pekik orang yang bertanya tadi begitu tinju Black Cat membuat beberapa giginya merotoli jatuh kenlantai.
Black Cat seperti membabi buta menerjang ke sana ke sini menghajar anggota geng tengkorak yang membuat onar di kafe melody tersebut.
Tidak jarang kursi di kafe itu menjadi senjata dan dipukulkan ke arah kepala pengacau itu membuat beberapa orang kini mandi darah dan bengkak bingkul terkena hantaman kursi.
"Lari....! Ayo lari...! Setan ini terlalu kuat untuk di lawan." Kata salah seorang dari mereka lalu segera mengambil langkah seribu. Namun sebelum orang itu benar-benar lari jauh, Black Cat berhasil menarik kerah baju orang itu dari belakang.
"Ampun...! Aku kapok. Tidak akan membuat onar lagi di kafe melody ini. Tolong lepaskan aku." Kata lelaki yang tertangkap itu. Kini terlihat jelas bahwa lelaki itu sudah terkencing-kencing di celana.
"Aku akan melepaskanmu. Ingat untuk menyampaikan pesan ku kepada ketua mu Birong dan kelima anak buahnya Prengki, Bedul, Togar, Bongsor dan Dagol bahwa aku akan memburu mereka satu per satu. Katakan kepada mereka jika berani mengganggu geng kucing hitam lagi, aku pasti akan berada di dalam kamar mereka dan membunuh mereka seperti membunuh seekor semut." Kata Black Cat sengaja menakut-nakuti lelaki yang memang sudah ketakutan itu.
"Ba.. Baik. Aku akan menyampaikan sesuai dengan pesan mu. Tolong lepaskan aku!" Kata lelaki itu semakin menggigil ketakutan.
Paaaak....!
"Sekarang kau boleh pergi!" Kata Black Cat sambil menendang pantat lelaki itu hingga terjerembab jatuh dengan wajah tepat menghantam genangan air kencing nya.
Tanpa memperdulikan lagi keadaan dirinya, lelaki itu segera berlari pontang-panting mencari selamat.
Setelah semuanya beres, tanpa menoleh dan basa-basi lagi, Black Cat langsung memasuki mobil Martin lalu berkata, "Cepat kita tinggalkan tempat ini Martin!" Kata Black Cat.
Tanpa menjawab, Martin pun segera memasuki mobil nya lalu tancap gas menuju ke komplek elit Tasik putri.